Self Acceptance - Karena Kamu Pantas untuk Bahagia


Beberapa istilah yang digunakan sehari-hari mungkin terkadang tidak pernah kita sadari maknanya. Seperti tulisan gw Sharing with Kak Mei ada beberapa istilah yang sangat berhubungan dengan sehari-hari. Dasar pendidikan di ilmu psikologi, membuat gw cukup mengenal istilah-istilah tersebut. Namun, jujur saja melakukan hal tersebut tidak semudah penjelasan teori yang di paparkan. Salah satu yang cukup mengena adalah mengenai self acceptance. 

Gw tidak akan membuat tulisan ini layaknya penjelasan mengenai teori self acceptance. Sebab, ini bukanlah sebuah skripsi. Topik skripsi gw memang mengangkat tema ini. Ada hal menarik yang bisa gw dapatkan dari mengulik teori ini di kaitkan dengan subjek penelitian yang gw harapkan. Oke, apa itu self acceptance?

Self acceptance adalah suatu kemampuan dan keinginan dari individu untuk hidup berdasarkan karakteristik yang di miliki oleh dirinya. 

Jadi ini berupa kemampuan dan keinginan. Seringkali kita ingin namun merasa tidak mampu. Bisa juga berkebalikan, merasa mampu tapi tidak ingin melakukannya. Nah, sebetulnya proses ini bukan berjalan dengan mudah. Salah satu tokoh terkenal dalam teori self acceptance, yakni Kubler Ross, mengemukakan ada lima fase yang bisa dilalui untuk sampai tahapan penerimaan.

Denial (Menyangkal)
Anger (Marah)
Bargaining (Tawar Menawar)
Depression (Depresi)
Acceptance (Penerimaan)

Dimulai dari denial, hal pertama yang muncul ketika kita mengetahui atau mengalami hal yang tidak diinginkan. Denial merupakan bentuk penyangkalan yang dilakukan secara sadar maupun tidak terhadap fakta, informasi, dan realita yang berhubungan dengan kondisi buruk. Misalnya kehilangan harapan. Jika kondisi ini tidak segera di perbaiki, maka akan berlanjut ke fase berikutnya, yaitu anger. Kondisi anger merupakan emosi terhadap ketidakadilan yang dialami oleh dirinya. Akan muncul pertanyaan "Kenapa gw?" Kemudian bisa menjadi penyebab dari sikap menyalahkan orang lain. Pada akhirnya, jika kita sudah bisa mengetahui penyebab masalah yang dialami, maka kita bisa sampai pada cara bernegosiasi terhadap keadaan (bargaining). Contohnya adalah berdoa kepada tua, bertanya kepada orang lain yang lebih ahli, atau mencari informasi sendiri melalui media yang ada.

Lantas, bagaimana jika semua hal yang dilalui tetap tidak berhasil? Maka akan mengalami fase depresion. Kondisi ini muncul sebagai bentuk keputusasaan dan kehilangan harapan yang dialami oleh diri sendiri. Apalagi jika membayangkan masa depan yang mungkin tidak indah, akan semakin menambah rasa depresi dalam diri. Namun, jika pelan-pelan sadar bahwa semua ini perlu dijalani akhirnya akan sampai pada fase acceptance. Menerima merupakan proses berkelanjutan, adanya pikiran yang secara sadar dilakukan untuk mengenali, mengerti, dan akhirnya memecahkan masalah yang di hadapi.

Oke, itu hanyalah penjelasan yang mungkin terkesan teoritis. Namun sebetulnya itu semua pasti dialami oleh orang-orang yang berusaha untuk menerima apapun dalam hidupnya. Semua fase bisa saja bergerak maju dan juga mundur. Maju berarti fase satu sampai lima bisa di lalui. Jika bergerak mundur menandakan sudah melewati fase tertentu, lantas kembali ke fase sebelumnya. Semua sah saja dilalui, asal selalu ingat tujuannya untuk mencapi fase terakhir.

Maka dari itu penting dalam diri kita menanamkan apa tujuan yang mau dicapai. Jika ini bisa menerima diri sendiri, maka laluilah prosesnya. Jika proses tersebut maju dan mundur, tidak apa-apa. Akan ada saatnya semua terus maju hingga bisa menerima diri sendiri apa adanya.

No comments

Halo, salam kenal!

Terimakasih ya atas kesediaannya untuk membaca tulisan ini. Boleh ditinggalkan komennya agar kita bisa berkomunikasi satu sama lain :)

Sampai berjumpa di tulisan-tulisan berikutnya.