Rumah Dekat SUTET


Rumah Dekat SUTET


Tulisan ini berdasarkan pengalaman survey dalam mencari rumah idaman. Milih rumah dekat SUTET (Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi), yes or no? Belakangan ini saya dan Koko mulai cari-cari rumah. Bermula dari browsing seputar rumah baru, lanjut kami survey show unit dan lokasinya. Ya... kami memang ingin mencari rumah baru. Maksudnya biar masih kosong dan bisa diisi sesuai kebutuhan kami. Sejauh ini belum memikirkan alternatif untuk mencari rumah second, namun tidak menutup kemungkinan itu di lakukan.  Sampailah kami menemukan dua model rumah baru. Kami survey di dua waktu yang berbeda karena kebetulan soft launchingnya beda tanggal. 

Rumah Pertama

Mulai dari tampak depan itu sudah menunjukkan minimalis sekali, bahkan di dukung juga dengan interiornya. Ya.. rumahnya sudah full furnished kecuali elektronik dan tambahan aksesoris lainnya, seperti lampu sudut, wallpaper, dll. Wow... ini jadi hal yang cukup membantu saya dan Koko. Sebab karena selama ini tinggal di apartment, jadi kami memang tidak membeli lemari maupun kasur. Hal positifnya rumah full furnished adalah kami tidak perlu repot mencari lemari maupun kasur lagi. Minusnya adalah bisa saja lemari atau kasur tersebut tidak sesuai yang kita mau. Seperti sekat dalam lemari tidak banyak atau kasurnya kurang empuk. Segi interior sungguh saya suka sekali. Mengusung konsep rumah di Jepang, sehingga semua ruangan dapat di maksimalkan perannya. Kami tidak menemukan cela ruang yang terbuang percuma. Bahkan di dua anak tangga pertama paling bawah, terdapat laci yang bisa di buka untuk menaruh barang-barang. Salah satu sofa sudutnya (untuk duduk satu orang) bisa di buka sehingga menjadi tempat buat naroh barang. Amazing... Langsung naksir sekali sama konsep rumahnya. Oh... sama rumah ini ada lantai mezzanine. Jadi rumah ini bisa dibilang 2,5 lantai. 

Lanjutlah kami melihat ke lokasinya. Lokasinya memang masih tanah lapang, karena baru akan di bangun. Bisa di bilang lokasi cluster rumah ini cukup strategis. Karena dekat dengan pintu tol dan mall. Bahkan akses transporatsi seperti ke stasiun juga terjangkau. Ketika sampai di lokasi, super shock karena posisi cluster tersebut dekat dengan SUTET. Jadi melewati SUTET dulu lalu di depannya akan dibangun beberapa rumah yang menjadi satu cluster. Memang pernah dengar jika rumah dekat tol, risikonya adalah ada SUTET sepanjang jalur tersebut. Cuma tidak menyangka bahwa cluster inilah yang berada di dekatnya. Hari itu kami survey bersama papa dan adik saya. Sebetulnya Si Koko tidak begitu mempermasalahkan. Memang dari SUTET ke daerah cluster ada batas jarak tertentu dan nantinya akan di bangun taman. Jadi ada jalur hijau dulu sebelum menuju rumah-rumah. Nah, bagi dia adanya jalur hijau tersebut membantu untuk menangkal radiasi, jadi sebetulnya tidak masalah jika kami cocok dengan rumah tersebut.

Lain dengan papa dan saya. Kami berdua merasa bahwa ini cukup masalah dan bisa berbahaya untuk jangka panjang. Saya sampai cari informasi dan jurnal seputar penelitian mengenai posisi rumah dekat dengan SUTET. Si Koko sampai heran kenapa saya sebegitunya cari informasi. Jurnal pun saya baca, baik penelitian lampau maupun 10 tahun terakhir. Saya memang anaknya begitu, harus dapat info yang valid karena kurang bisa percaya sekedar omongan orang. Ini memang jadi kelemahan saya yang berusaha untuk diubah dan disesuaikan. Setelah selesai survey, kami berempat pun membahas akan melanjutkan proses pembelian atau di batalkan. Si Koko merasa tidak begitu menjadi masalah. Papa saya masih ragu karena posisi dekat SUTET. Kebetulan papa masih "kolot" jadi dia peduli akan lokasi, posisi rumah hadap mana, dll. Ade saya menyerahkan sepenuhnya kepada kami berdua, karena nantinya kami yang tinggal. Saya sendiri merasa ragu dan hilang sudah feeling untuk tinggal di rumah tersebut. Pertama karena dekat SUTET. Kedua karena dekat akses tol dan mall, sehingga merasa terlalu crowded. Kembali lagi beli rumah dekat ini dan itu ada plus maupun minusnya. Plusnya adalah akses kami pergi dan pulang ke kantor lebih mudah. Minusnya jadi serasa daerah tersebut akan selalu ramai. Akhirnya kami tidak melanjutkan proses berikutnya.

Rumah Kedua

Selang beberapa bulan, saya menemukan informasi seputar rumah lain yang mengusung konsep Jepang juga. Kami berdua memang senang dengan rumah konsep Jepang, karena dapat suasana minimalisnya. Mulai dari tampak depan dan interior juga cocok. Nah, uniknya rumah ini mengusung tema Post Pandemic. Terdiri dari tiga lantai, pada lantai satu terdapat satu kamar mandi dan ruangan. Tujuannya saat pulang sampai rumah, kami bisa bersih-bersih dulu sebelum naik ke lantai dua. Lantai dua ini terdiri atas ruang keluarga, ruang makan, dapur, serta satu toilet. Kamar tidurnya terletak di lantai tiga. Bahkan kamar tidur utama mengarah ke balkon kecil. Hal yang bikin semakin keren adalah dari lantai tiga terdapat tangga kecil yang mengarah ke rooftop. Rooftop ini memang tidak besar karena digunakan untuk kita berjemur badan atau melakukan olahraga ringan. Rumah ini sungguh benar mengusung tema post pandemic. Karena tiap bagian rumahnya memiliki peran masing-masing. Langsung saya merasa cocok dan membayangkan tinggal di rumah tersebut. Ruangan di lantai satu bahkan sudah saya pikirkan untuk menaruh semua mainan dan novel. Jadi ruangan khusus me time kami berdua. Bahkan mau disediakan sofa bed, kalau ada yang mau duduk-duduk atau bahkan bisa untuk tiduran. Kami sudah membayangkan ini dan itu. Merasa bahwa rumah ini memang "kami" banget. Lanjutlah kami survey rumah contoh dan lokasi. Pas melihat rumah contohnya benar-benar idaman sekali. Saya emang ingin rumah yang ada balkon dan rooftop. Serasa bahwa terpenuhi semua kemauan saya di rumah ini. Saat survey lokasi, ketemu lagi kami dengan SUTET. Langsung lemas saya pas melihatnya. Cuma untuk daerah cluster rumah ini SUTET-nya ada di sebrangnya. Jadi bukan persis di sebelah. Berbeda dengan rumah pertama yang berada di dekatnya.

Posisi SUTET memang ada di sebrang jalan, cuma ketika kami keluar cluster maka akan melewatinya. Jadi bisa di bilang ketika pergi atau pulang kami bisa melewati SUTET tersebut. Posisi SUTET-nya memang melintang dari daerah cluster. Cuma tetap membuat saya khwatir. Duh... kenapa sihhh?? Ketika menemukan rumah yang cocok, malah selalu dekat dengan SUTET. Kali ini saya survey berdua Koko saja. Cuma saya video-kan daerahnya dan kirim ke papa. Papa bilang memang lokasinya agak jauh dari SUTET.  Daerah dekat SUTET sudah dilakukan penghijauan dan di bikin danau buatan. Jadi memang sudah di perhatikan dengan saksama. Hanya saja yang mengganjal di hati adalah tiap kami pulang atau pergi bisa melewati SUTET tersebut. Saat akan jalan putar balik, itu dekat dengan SUTET. Meskipun posisi sebrang SUTET-nya terdapat ruko-ruko yang berjualan makanan dan ada lapangan kuda. Jadi daerah tersebut memang agak tengah-tengah. Tapi cukup hidup dan merasa lebih tenang di bandingkan rumah pertama yang dekat tol serta mall.

Kembali lagi dengan SUTET dan ini membuat saya galau bukan main. Sebab keputusan kami membeli rumah tentu untuk jangka panjang. Ooh.. sepanjang daerah SUTET itu di bangun sekolah loh. Saya langsung mikir, kok mereka tidak takut ya bangun sekolah disitu. Nah, kawasan rumah kedua ini memang cukup nyaman karena posisi tengah-tengah jadi bisa di akses dari jalan manapun. Kemudian sedang di bangun dua sekolah, namun satu sekolah lebih dekat dengan SUTET. Lalu akses ke rumah sakit cukup terjangkau. Akses ke tol juga bisa dilalui dengan mudah karena posisi tengah-tengah, jadi bisa lewat mana saja.

Hanya saja kenapa harus ada SUTET di dekat-dekat situ 😭 Padahal konsep rumahnya sudah idaman sekali.. Sebetulnya ini adalah rasa percaya dan tidak percaya. Toh saya pernah lihat rumah yang berdiri dekat SUTET dan ada yang tinggal disana. Layaknya seperti rumah yang posisinya tusuk sate, itu juga tidak bagus katanya. Lantas saya mau tanya pendapat kalian. Jika kalian ingin mencari rumah, lalu kawasan tersebut terdapat SUTET, bagaimana pendapat kalian? Saya sudah membaca risiko kesehatan jika rumah dekat SUTET, walaupun ada artikel yang bilang selama ada penghijauan maka radiasi bisa diredam. Namun, apakah SUTET menjadi concern kalian dalam menentukan pembelian sebuah rumah?

Mohon pencerahannya teman-teman 😭 Ternyata cari rumah itu melelahkan yaa.. huhuhu...


Cover: Canva

Devina Genesia


18 comments

  1. Halo kak Devina
    Menarik sekali baca kegalauan kakak dalam beli rumah 😆😆😆

    Trus tentang poin “harus cari kebenaran dari data jurnal” menurutku itu bukanlah poin yg jelek
    Malah justru harusnya begitu
    Daripada cuma percaya “kata orang” tnpa tau itu valid ato engga kan hehe

    Kalau aku sih lebih baik pilih rumah yg ga dekat sutet kak karena sedikit banyak, risikonya tetap tinggi menurutku. Meski sudah ada penghijauan juga untuk meredam radiasi, tapi kalau kenapa2 misal gempa bumi atau ada topan (ini andai2 aja untuk worst case), trus sutetnya rubuh dan nimpa perumahan kan berabe bangettt hehe
    Itu si kak menurutku

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Kak Frisca 🙋

      Iyaa galau bukan main nih huhuhu.. nemu model cocok, eh lokasinya begitu ðŸĪĶ

      Nah itu dia yg bikin makin galau, merasa meskipun uda ada penghijauan tapi kok kaha belum tenang yaa 😭

      Makasih yaa kaak atas pendapatnyaaa. Jadi pertimbangan juga buat aku 🙂

      Delete
    2. Hi Ci Devina,
      Aku juga sepakat dengan Ci Frisca. Selain karena radiasi, aku lebih takut kalau sutetnya roboh sih 😅

      Mencari rumah untuk tinggal memang sulit sekali, butuh perjuangan bolak balik sana-sini ya. Aku doakan supaya Ci Devina bisa segera menemukan rumah idamannya 😊

      Delete
    3. Lika-liku cari rumah baru hehe
      dinikmati dan betul-betul dipikirkan secara matang ya kak hehe

      nimbrung ke Lia... Iya Liaa, aku sih kaya uda mikir takut SUTET rubuh terus kebakaran hebat gitu loh. Makanya aku akan pilih yang ga deket SUTET aja biar ga ketakutan akan hal itu hehe

      In the end, balik lagi si ke pribadi masing-masing. Kalau merasa sudah oke dengan pilihan itu, gpp jg kak Devina. Yang pasti harus sudah dipertimbangkan secara matang sebelum beli hehe kan rumah untuk ditinggali sampai kakek nenek atau malah sampai cucu cicit jangan-jangan kan hehe

      Good luck ya kak dalam cari rumahnya ^^

      Delete
  2. Wah... saya baru tau kalau SUTET itu radiasinya berbahaya sekali. Bisa lihat infonya di jurnal mana ya, mba?

    Oh iya, rumah yang mba lihat bikin saya kangen apato di Jepang. Begitu buka pintu langsung ketemu dapur dan kamar mandi ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Kak Hicha 🙋

      Iyaa kak radiasinya berbahaya bahkan katanya bisa menyebabkan kanker.

      Di google banyak kak jurnalnya. Search aja jurnal rumah dekat SUTET.

      Emang rumah ala Jepang itu keren yaa kaak. Duuh naksir berat aku tuh sama konsepnya. Apa daya lokasinya kok kurang nyaman ya ðŸĪĶ

      Delete
  3. Saya nggak pernah beli rumah dekat SUTET mba, dan menghindari juga (jadi salah satu pertimbangan untuk saya), sebab saya pikirnya jangka panjang. Apalagi nanti kalau mba Devina ada anak 😁

    However, mengingat sudah adanya penghijauan, dan katanya radiasi bisa diredam, mungkin itu bisa jadi bahan pertimbangan. Ditambah ada sekolah dan area kuda di sana, means keadaan jauh lebih baik sepertinya ~ nah, hanya saja kalau mba Devina ragu baiknya dipikir matang-matang. Kadang hal itu bisa jadi afimarsi negatif ke diri mba terus mba bisa jadi merasa pusing setiap lewat SUTET, kan nggak enak 🙈 hehehe.

    Semangat mba, semoga dapat rumah yang sesuai dengan kriteria dan apabila akhirnya pilih rumah ke dua, semoga mba bisa selalu sehat 😍💕

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyes Mba, aku pun berpikir demikian. Toh beli rumah bukan untuk tinggal setahun dua tahun kak. Ini untuk jangka panjang karena aku juga males pindahannya.

      Kepikiran yg Mba Eno katakan, nantinya aku malah tersugesti negatif. Padahal sebetulnya ga ada apa-apa eh malah bisa jadi apa-apa. Blom lagi kalau denger pendapat orang lain yg main ke rumah.

      Duhh.. overthinking mulai kumat deeh 😭 btw, makasih yaa Mba Eno, semoga aku menemukan yg tepat.

      Delete
  4. Rumah mertuaku dekat sutet mbak Devina...mmg tricky bgt ya cari rumah...SMG mendapatkan yg diidamkan dan menyenangkan hati ya mbak..salam kenal yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Mba Ina, salam kenal. Makasih udah mampir kesini. Aku pernah baca tulisan mba, apalagi yg tentang VBAC, cuma emang blom meninggalkan jejak disana 😁

      Wahh.. trus ada efek yg dirasakan gaa mba? Udah berapa lama tinggal disitu?

      Iyas tricky banget mba, jadi serba salah gitu. Amin, makasih yaa mba atas doanya 😊

      Delete
  5. semoga cepat dapat rumah idaman yang sesuai harapan!

    ReplyDelete
  6. Waah rumahnya Dua2 nya tipe yang sangat bagus. Apalagi yang bertema post pandemic. Cocok sekali dgn keadaan hari ini yaa mbak.
    Terkait masalah sutet, memang akan ada radiasi. Tapi kalo dilihat-lihat, rumah kedua sedikit lebih aman krn agak jauh dari sutet.
    Semoga mbaknya segera dapat rumah idaman, yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyeess Mas, betul rumah ke-2 idaman banget untuk saat ini. Yaa cuma lokasinya aga kurang oke. Emang lebih mending rumah yang ke-2, tapi kok tetep kurang yakin ðŸ˜Ē

      Amin, makasih yaa Mas Dodo 🙏

      Delete
  7. Jujurnya aku juga blm bisa milih rumah yg Deket Sutet mba. Walo dibilang radiasinya bisa diredam dengan penghijauan taman, kok ya pikiran msh blm tenang gitu kalo kepikiran ada sutetnya. Rasanya malah nimbulin pikiran negatif Mulu di kepala. Dan pikiran itu biasanya mempengaruhi tubuh. Jadi intinya kalo aku rasanya juga ga mau ya mba. Tapi memang susah sih utk dapetin rumah idaman ini. Kadang adaaaa aja masalahnya :(.

    Tapi semua balik ke mba Devina juga. Kalo merasa yakin dan ga bakal kepikiran, ya mnding rumah kedua inilah. Yg pertama terlalu Deket, LBH seraaam hahahahah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Fanny, aku sama dengan dirimu. Seperti yg Mba Eno bilang, kalau pikiran malah nantinya bisa jadi pemicu sakit. Harusnya ga ada apa2, karna kepikiran terus jadinya malah ada apa-apa.

      Rumahnya idaman banget tapi kenapa lokasinya begitu sihh huhuhu..

      Iya mba kalau rumah pertama sih aku emang batal, serem soalnya 😅

      Delete
  8. Hihihi..saya mah pas beli rumah karena butuh, ya beli saja. Nggak mikir banyak. hahaha..jadi ga bisa komentar. Mungkin untungnya jauh dari SUTET

    Cuma dalam lingkungan perumahan saya ada sebagian yang dekat dengan SUTET (tidak persis di bawah tapi berjarak cukup dekat). Tapi kayaknya tetap laku Dev padahal harganya ðŸĪŠðŸĪŠðŸĪŠðŸĪŠðŸĪŠ muaahaall..

    Sepertinya kalau di Bogor mah nggak jadi masalah ðŸĪĢðŸĪĢðŸĪĢ rumah tetap laku keras

    Cuma nggak tahu deh apa ada efek atau nggaknya, cuma warga di bagian situ sih kelihatannya enjoy2 saja..

    Anyway semoga mendapatkan rumah sesuai dengan yang dikehendaki yah

    🙏🙏🙏

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waahhh kadang aku suka bingung, ini emang aku nya aja yg terlalu parno, ato sebetulnya mereka yg tinggal deket situ termasuk cuek aja.

      Kok mereka yg tinggal disitu, aku yg ngerasa seram yaa ðŸ˜Ē

      Amin, makasih yaa Mas Anton 🙏

      Delete

Halo, salam kenal!

Terimakasih ya atas kesediaannya untuk membaca tulisan ini. Boleh ditinggalkan komennya agar kita bisa berkomunikasi satu sama lain :)

Sampai berjumpa di tulisan-tulisan berikutnya.