Abu-abu atau Hitam Putih

 


Hari ini saya masuk kantor dan bicara dengan salah satu rekan kerja. Ceritanya rekan kerja saya seorang Bapak yang lagi bahas tentang ketiga anaknya. Kebetulan karena saya habis kedukaan dan sampai saat ini belum niat untuk program hamil, beliau jadi bertanya proses kedepannya. Apakah saya menunda punya anak, menjalani program kehamilan, atau berjalan apa adanya dan hamil alami. Saya mengatakan bahwa untuk saat ini membiarkan berjalan apa adanya. Sebab saya belum siap untuk kembali cek ke dokter dan program hamil. Mental saya belum sesiap itu dibanding kehamilan kemarin. Rasa duka masih ada walaupun mulai teratasi.

Obrolan berlanjut jadi bahas topik macam-macam, hingga seputar pendidikan. Anak pertamanya saat ini kelas 2 SMA dan masih bingung perihal fakultas yang akan di pilih. Berdasarkan pengalaman pribadi, saya pun juga bingung bahkan hingga menjelang naik kelas 3 SMA. Saya bilang itu hal yang wajar, karena sekarang banyak pilihan fakultas yang tentu bagus semua. Beliau mengetahui bahwa saya memiliki background Psikologi, lantas menanyakan bagaimana cara yang tepat untuk menentukan minat bakat anak. Jelas sekarang ada tes minat bakat, namun itu bukan jawaban pasti untuk keputusan anak. Kembali lagi semua tergantung anak yang menjalaninya.

Lantas saya bertanya, apa pilihan bapak sebagai saran bagi anaknya. Beliau mengatakan "terserah anaknya". Saya bertanya "beneran pak?" Jawabannya adalah "Iya terserah, saya hanya sebagai pagar yang mengawalnya." Wah.. cukup terkesan saya dengar komentar beliau. Sebab biasanya ada orangtua yang terpikirkan agar anaknya bisa kuliah fakultas ini dan itu. Beliau mengatakan "Saya tidak bisa memaksakan dia, sebab hidup itu abu-abu." Makin menarik pembahasannya nih. Langsung saya tanya lebih lanjut "kenapa demikian pak?" Di luar dugaan beliau menjawab "Hidup itu tidak ada yang pasti. Semua bermula dan berakhir bisa berbeda dari harapan. Terlalu berlebihan men-set harapan juga tidak baik. Bisa menimbulkan stres dan masalah." Intinya adalah hidup tidak selalu harus A dan B. Tidak selalu hitam dan putih. Ada area abu-abu yang jarang tersentuh, namun sebetulnya bisa yang tepat untuk kita.

Beliau bilang, kadang kita terlalu fokus pada sesuatu yang berlebihan, seperti hal yang umum di masyarakat atau omongan orang. Anak harus jadi seperti A atau seperti D. Padahal mereka tidak tahu pasti tentang anaknya. Anaknya juga di biayain oleh dirinya, bukan oleh orang lain. Mengapa orang lain cenderung lebih mengatur. Jleb. Flashback saat nonton Film Tilik, betapa orang lain mudah untuk membicarakan dan membesar-besarkan suatu hal. Jika benar itu menjadi hal yang tepat, jika salah maka hanya menjadi gosip belaka. Bagi beliau, anaknya tidak harus pintar akademik. Namun, hal yang ia pesan kepada anak-anaknya adalah pintar bersosialisasi. Sebab, bisa saja teman menjadi rekan kerja. Bahkan anak orang berada (maksudnya dari keluarga ekonomi menengah keatas), belum tentu menjadi sukses. Bisa saja ketika orangtuanya meninggal, anak tidak bisa meneruskan usaha keluarga, sehingga menjadi bangkrut. Tidak ada yang tahu, anak yang terkesan biasa-biasa saja saat sekolah, ketika dewasa menjadi sukses dalam karir.

Beliau mengatakan bahwa dirinya tidak mempermasalahkan jika anaknya mengambil keputusan salah. Maksudnya jika salah dan dalam batas toleransi dirinya dan istri, itu menjadi pelajaran buat anaknya. Asal sesuai norma dan nilai-nilai keluarga. Bukan terjerumus dalam hal-hal bahaya seperti kekerasan dan narkoba. Saya belajar dari beliau bahwa kita tidak perlu mengkotak-kotakan sesuatu. Layaknya saya yang saat ini belum kembali hamil, perlu untuk melepaskan dan menerima. Tidak perlu terlalu takut kembali hamil dan punya anak. Serta, tidak perlu terlalu menunda-nundanya. Menjalani saja perlahan dan menatap ke depan. Sebab, ada area abu-abu yang bisa di jalani. Hidup bukan sekedar punya atau tidak punya anak. Hidup bukan sekedar berduka atau sudah tidak berduka (dalam hal ini kasus untuk diri saya). Hidup bukan sekedar berani atau tidak berani ambil keputusan. Satu sisi perlu tegas akan sesuatu, namun bisa fleksibel terhadap yang lainnya.

Sering mendengar bahwa hidup itu bukan hitam dan putih. Hidup itu abu-abu, tapi masih merasa belum sepenuhnya paham. Lantas yang bisa di lakukan adalah menjalani perlahan sambil mengambil pelajaran di dalamnya.

Terimakasih Pak!


Cover: Canva, edit by Me


18 comments

  1. Sekarang banyak hal yang, sedikit banyak dihubungkan dengan Film Tilik. Nampaknya, film itu begitu viral ya, mbak.. πŸ˜€

    ReplyDelete
    Replies
    1. Viral anget mas. Mau di medsos atau grup WA, pasti ada aja yang nyebut atau nulis diaglog dari film itu hhha...

      Delete
  2. Percakapan yang menyenangkan sekali. Bisa bertukar pikiran dengan orang yang lebih dewasa, bisa membuka mindset diri menjadi lebih luas ya ci 😍
    Nggak selamanya menjadi abu-abu itu salah, dalam beberapa hal malah menjadi abu-abu lebih baik.
    Semoga ci Devina bahagia selalu dalam setiap warna kehidupan 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terkadang obrolan ngalor ngidul seperti tadi malah jadi ajang bertukar pikiran yang tidak disengaja hhhe. Iya.. terlepas apapun yang dijalani semua tetap yang terbaik untuk diri sendiri.
      Amin... semoga yang terbaik juga untuk kamu yaaa 😁

      Delete
  3. Wah... si Bapak-nya bijak sekali, ya...

    Saya setuju dengan bahwa hidup adalah abu-abu. Contoh simpelnya aja, ga ada orang yang 100% jahat atau 100% baik. Selama dia masih manusia, pasti ada meskipun setitik kebaikan di hatinya, begitu juga pasti ada meskipun setitik sifat negatif pada dirinya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya betul kak, semua ada sisi terdalam yang mungkin tidak kelihatan kasar mata. Tapi tidak bisa di generalisir plek-plek an bahwa dia jahat atau baik.

      Delete
  4. Kak. This warms my heart so much.
    "Hidup itu tidak melulu hitam dan putih. Ada area abu-abu yang bisa dijalani"
    Sungguh menggambarkan kondisiku saat ini juga, Kak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai kamu, makasih sudah membaca. Semoga bisa membuat keadaanmu jauh lebih baik yaa. Semangat!

      Delete
  5. Semoga lekas sehat kembali Mbak Dev. Menerima hal tersebut secara mental dan fisik memang berat yaaa.

    Dari percakapan dengan si bapaknya ini jadi teringat masa kecil saya yang lebih banyak untuk hal apapun berada di tangan orangtua. Bisa jadi mungkin keputusan tersebut bagus, tapi saya jadi tidak berani rasnaya untuk mengambil sebuah keputusan yang diputuskan oleh saya sendiri.


    Thanks for sharing obrolan bermaknanya Mbak Dev.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin, makasih kak atas doanya.

      Iya aku pun demikian, kemudian sadar setelah menikah menjadi seperti hilang arah. Mungkin karena kebiasaan apa-apa itu kata orangtua. Jadi belajar untuk memutuskan sendiri, walaupun ada perkataan orangtua yang menjadi dasar keputusan tersebut. Cuma sadar bahwa mungkin kondisinya sudah berbeda dan tidak serta merta harus sesuai perkataan mereka.

      Sama-sama.. semoga bisa mulai untuk membuka hati dan menentukan apa yang tepat untuk diri sendiri 😊

      Delete
  6. Hallo Non,

    waktu buka blogmu berasa masuk ke blog aku yang lama hehe karena tema blog nya sama dan niche nya pengembangan diri. Anw saya suka dengan artikel tulisanmu ini, si bapak dengan usianya yang jauh lebih matang juga mempunyai pemikiran yang bijaksana. Saya rasa anak-anaknya malah akan lebih menghargai keputusan mereka sendiri, karena mereka sudah belajar untuk menjadi orang dewasa yang memutuskan sesuatu berdasarkan pertimbangan mereka. Biasanya memang ketika diberikan pemahaman seperti ini, seseorang akan lebih bertanggung-jawab.

    eh, kalau si Bapak punya background psikologi juga?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Kak!

      Wah... ternyata tema-nya sama yaa. Aku gaa tau lohh kaak huhuhu...

      Iya kak, memang sejak dini perlu pemahaman seperti ini. Sebab hidup mereka ya tanggung jawab mereka. Orangtua hanya membantu mengawal dan mengingatkan, bukan menjalani di jalan hidup mereka.

      Bapaknya bukan background psikologi kok kak hhhe..

      Delete
  7. Wah.. Asyik banget bisa ngobrol sama orang dengan pemikiran seperti itu. Membagi pemikiran positifnya sana orang lain. Setuju banget mbak hidup itu dijalani aja karena kita nggak tahu akan ada pilihan apa di depan. Yang penting tetap ada kontrol diri supaya nggak kelewatan dan pasrah kalau semua nggak berjalan sesuai rencana.
    Tetep semangat mbakπŸ’ͺ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa... terkadang apa yang terjadi belum tentu sesuai harapan. Jadi mari mencoba apa yang bisa di kerjakan saat ini dan tetap semangat!

      Delete
  8. Satu sisi perlu tegas akan sesuatu, namun bisa fleksibel terhadap yang lainnya. kutipan yg ngena banget di aku, karna aku kadang masih suka labil (ga banget buat ditiru)
    terima kasih kak sudah berbagi ceritanya, membuat pembaca ini juga bertambah lagi wawasannya
    semangat terus menjalani hari-harinya yaa kak:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tak apa, aku pun sama kok kaya mbak masih suka labil hhhee. Mungkin jadi proses belajar aja agar berkurang labilnya.. Sama-sama, makasih yaa sudah mau membaca.
      Semangat juga untuk kamu dan tetap sehat selalu πŸ˜‰

      Delete
  9. Ada satu hal yang saya pelajari selama hidup Dev.. Masa depan itu tidak pasti. Itu memang wilayah abu-abu.

    Hanya terkadang kita terlalu berusaha untuk "memastikan" masa depan di hari ini.Padahal sebenarnya kita tidak bisa. Berencana boleh, menentukan tidak bisa.

    Memang betul, berusaha terlalu keras seperti itu akan menghasilkan tekanan yang akhirnya kita nggak bisa handle.

    Oleh karena itu, sama kepada si kribo cilik yang sekarang sudah kuliah, saya membebaskannya memilih jalannya sendiri. Hal itu sudah dimulai sejak masuk SD dimana ia yang menentukan dimana mau bersekolah.

    SMP/SMA dan kemudian kuliah, ia yang menentukan sendiri. Kami hanya memberikan masukan, pertimbangan, dan dorongan saja. Bagaimanapun, itu adalah hidupnya dia, bukan hidup saya.

    Jadi, saya berusaha memberi ruang kebebasan baginya di jalan yang di mau.

    Seperti ia yang sekarnag memilih masuk universitas swasta dan tidak mencoba ke negeri dulu. Saya persilakan selama dia konsekuen.

    Jadi, saya biarkan dia yang menentukan jalan hidupnya sendiri. Dia tidak perlu mengikuti jalan hidup saya.

    Buat Devina, semangat yah. Pasti ada waktunya rasa sakit itu akan hilang dan Devina bisa kembali menatap masa depan dengan penuh harapan. Saya yakin disana ada kebahagiaan yang sedang menanti..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju mas, kalo masa depan itu tidaklah pasti. Waah asik banget mas tidak bisa memberikan kebebasan untuk anaknya. Jadi anaknya juga belajar untuk bertanggung jawab atas pilihannya ya mas πŸ™‚

      Amin.. makasih atas support nya mas πŸ™

      Delete

Halo, salam kenal!

Terimakasih ya atas kesediaannya untuk membaca tulisan ini. Boleh ditinggalkan komennya agar kita bisa berkomunikasi satu sama lain :)

Sampai berjumpa di tulisan-tulisan berikutnya.