Buku Hardcopy atau E-Book?





Saya pencinta buku. Penyuka membaca. Penyayang menulis.

Buku sudah seperti bagian dari hidup saya. Saya mulai menyukai baca, khususnya novel sejak kelas 6 Sekolah Dasar (SD). Waktu itu pertama kali beli novel berjudul Saskie karya Vierna Mariska. Novel yang bercerita tentang percintaan remaja dengan latar kota Bandung. Kisah Saskie berpacaran dengan Farrel yang adalah ketua salah satu geng motor. Ya.. pada waktu itu kayaknya kisah geng motor menjadi hal yang keren sekali. Sejak saat itu, saya mulai membeli novel-novel lain. Sebab seperti kecanduan dan sulit untuk lepas.Namun, candunya memang positif. Candu membaca meskipun beberapa hanyalah fiksi dan khayalan. Tetap itu menyenangkan.

Novel Saskie
Novel Saskie


Sampai saat ini sudah ada sekitar 100an buku yang saya punya, khususnya novel. Jumlah terus masih bertambah karena baru saja saya membeli tiga buku novel. Memang kadang masih suka baca novel-novel Teenlit, walaupun sudah buka untuk usia saya. Tapi tetap ada kesan seru meskipun kisah cintanya menye-menye. Ini di luar buku komik yang pernah saya koleksi juga. Cuma kalau komik, saya kurang begitu nyaman sebab lebih banyak gambar dan cenderung tipis. Sempat membandingkan bahwa untuk harga komik yang cendurung tipis, merasa mahal jika harus koleksi komik. Sedangkan novel merasa lebih tebal dan full tulisan, jadi merasa tidak rugi jika harganya lumayan mahal. Ya.. saya penyuka buku yang banyak tulisan ketimbang gambar 😁 Saya pun lebih suka membaca buku dari hardcopy dibandingkan e-book.

Buku hardcopy memang kelebihannya bisa merasakan lembar per lembar dari halaman yang di baca. Cenderung lebih nyata dengan memegang buku. Saya lebih suka karena tidak harus selalu bertatapan dengan layar. Memang menjadi lebih boros karena harus beli satu per satu dan di bawa kemana-mana. Menjadi makan tempat juga untuk penyimpanan dan cenderung bisa usang karena di makan waktu. Sebetulnya sebal melihat kertas buku yang lama-lama menjadi kuning, padahal awalnya putih bersih. Sebal melihat buku yang tertumpuk debu-debu, padahal seharusnya bersih kinclong. Namun, ada kesenangan sendiri ketika melihat tumpukan buku yang rapih berjejer. Mempunyai kesenangan sendiri ketika bisa membeli dan membayar buku yang diingikan, kemudian memegangnya secara langsung.

Bahkan punya impian untuk membuat "perpusatakaan mini" ala saya. Sebetulnya hanya satu ruangan khusus di rumah dan terdapat lemari besar yang bersekat. Sehingga bisa menaruh kumpulan buku yang saya miliki. Mungkin akan menjadi perpusatakaan novel ala saya, karena lebih banyak novel yang dimiliki. Sampai saat ini, impian itu masih ada. Sudah di sampaikan ke koko, agar ketika punya rumah minimal ada rak untuk buku. Jika bisa menjangkau semua buku-buku saya itu menjadi suatu anugerah, jika tidak pun tetap bersyukur.

Saya sangat senang melihat foto-foto rak buku yang banyak berseliweran di media sosial. Betapa pemiliknya bisa memajang kumpulan buku-buku yang dimiliki. Betapa pemiliknya bisa mengkhususkan satu ruangan untuk kumpulan buku, di lengkapi dengan sofa nyaman dan lampu baca yang cantik. Ya ampun... impian sekali itu. Berlantai ala-ala kayu, memiliki jendela luas dan terpampang tanaman hijau rimbun. Wah... nyaman sekali dan betah. Oh ya.. sambil di temani teh hangat dan aromaterapi sebagai pengharum ruangan. Perfect. Apakah kalian membayangkan apa yang saya tulis? Jika iya.. semoga membuat kalian juga nyaman walaupun masih bayang-bayang πŸ˜‰

Nah kalian lebih suka buku hardcopy atau e-book?


Cover: Canva, Edit by Me



22 comments

  1. Aku dulu juga selalu beranggapan buku adalah buku yang bisa aku balik setiap halamannya, harum semerbak kertas harus tercium ketika aku baca. Tapi, tidak bisa membohongi diri kalo jaman emang udah berkembang. Mau gak mau aku bermigrasi dari hardcopy ke e-book. Sekarang hampir semua buku yang aku baca itu e-book selain memang lebih murah belinya dibandingkan hardcopy, penyimpanan dan bawanya lebih mudah. Aku selalu bawa buku kemana pun aku pergi, nge mall, jalan-jalan, pokoknya kemana pun karena gatau kapan bisa baca. Tapi, ya memang jadi berat dan tidak praktis. Dengan e-book semuanya ada di satu genggaman dan itu cukup memuaskan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju mbak, memang perubahan ke e-book itu tidak bisa di tolak. Terkadang aku pun sempat mikir mau coba baca e-book. Cuma pengalaman saat kuliah baca e-book itu kurang nyaman, jadi sampai novel juga belum coba karena bisa jadi tidak menikmati bacaannya. Tapi balik lagi tergantung kenyamanan tiap orang hhhe. Kelebihannya emang lebih praktis e-book dan ga butuh ruang banyak untuk menyimpannya.

      Delete
  2. Aku pribadi sih kak team hardcopy lah. Soalnya pas baca nyaman aja gitu kalau e-book bikin pusing dan gak nyaman sama cahaya laptp/hp.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes.. yes.. aku pun demikian. Kadang merasa suka siwer matanya kalau kelamaan liat layar hhhaa..

      Delete
  3. Aku lebih suka buku hardcopy,mbak. Krn buku itu bisa dipajang dan dipamerkan di rak buku. Heeheh.
    Beda dgn e-book yg hanya tersimpan dalam bentuk file. Kemudian, resiko e-book menjadi bajakan sangat tinggi. Ini yang kadang menjadi keresahan bagi para penulis..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Was sama mas. Aku juga suka di pajang dan aga-aga pamer sih jatohnya 🀣 Tapi punya kebahagiaan sendiri bisa liat kumpulan buku yang sudah di baca hhhee.. Betul, bajakan emang bikin problem bagi penulis. Sudah capek-capek nulis tapi penghargaan yang diberikan malah tidak sebanding πŸ˜₯

      Delete
  4. Saya dulu team hardcopy mba, tapi sekarang beralih ke E-book setelah punya Kindle πŸ™ˆ alhasil buku-buku hardcopy, semuanya saya bagikan ke keponakan yang masih kuliah, terus ke yayasan panti asuhan, dan ke teman-teman yang memang menginginkannya. Sebab saya lebih sering biztrip dan bawa Kindle sangat nyaman, bisa bawa banyak judul buku yang ingin saya baca, while kalau bawa hardcopy biasanya hanya bisa 1 judul saja πŸ˜„

    Tapi saya akui, koleksi buku hardcopy itu sangat menyenangkan. Apalagi saat melihat rak buku kita penuh tumpukan buku hehehehe. Ohya, buku saya meski bertahun-tahun nggak kotor dan menguning, all thanks to mba ART yang urus rumah. Jadi kalau mau bukunya dalam kondisi tetap bagus, setelah selesai dibaca langsung diwrap pakai plastik wrap mba. Secara menyeluruh sampai nggak ada angin yang bisa masuk macam buku baru jadinya πŸ˜„ hehehehe. Kalau mau baca lagi tinggal buka wrapnya, tapi kalau nggak mau baca, langsung diwrap total. Hal ini sangat membantu dalam menjaga kualitas buku dalam jangka waktu sangat lama. Hehehe. Nonetheless, selamat membaca. Apapun pilihan bukunya, yang penting semangatnya πŸ˜πŸ’•

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya memang mbak kalau hardcopy jadi lebih terbatas. Karena kalau berpergian ga mungkin bawa banyak-banyak, berat kan 😁 Yes.. menyenangkan sekali mbak. Ada kepuasan sendiri saat melihat tumpukan buku yang dimiliki.

      Wah.. makasih Mbak Eno atas sarannya. Karena ngerasa agak sebel dengan debu-debu dan kertas yang menguning. Menjadi tidak sekeren pas awal beli.

      Yes... semangat juga Mbak Eno!

      Delete
  5. Ciii, aku juga senang banget kalau lihat foto orang yang lemari atau rak-nya penuh dengan buku-buku. Rasanya ingin aku jelajahi rak itu dan lihat koleksi bukunya satu per satu 😝
    Membayangkan punya kamar sendiri yang isinya rak buku, sofa empuk dan Ac dingin, kayaknya aku bisa nggak keluar-keluar dari kamar itu kecuali kalau lapar 😝
    Btw, aku tim dua-duanya ci. Hardcover dan e-book karena e-book sekarang banyak promo jadi lumayan tetap bisa baca banyak dengan harga murah 🀭
    Walaupun kalau habis baca kelamaan, mata jadi seliwer, rasanya masih terbayang-bayang dengan font tulisan e-book yang dibaca huahahah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul bangeeett... adem gitu liatnyaa yaa li. Padahal bukan punya kita hhhaa. Aduhh.. aku pun akan betah di kamar ituuuu, rasanya bawa makanan juga ke dalem kamar deh hhha.

      Nah itu dia yang aku kurang suka kalo baca e-book, mata jadi siwer dan cepat lelah mata nya. Mungkin karena lihat layar terus kali yaa.

      Delete
  6. Sama kaak, saya cenderung lebih suka buku fisik daripada digital, tapi kalau memang adanya yg digital yaa nggapapa, yg penting legal hehe
    saya pun lebih suka novel daripada komik karena kalau komik suka bingung bacanya darimana haha
    salam kenal yah kak:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh sama.. awal-awal aku baca komik juga suka bingung. Ini dialog baca dari kotak yang sebelah mana sih hhha.. Apalagi tipis begitu jadi serasa duh rugi deh beli mahal tapi tipis 🀣

      Salam kenal juga. Makasih sudah mampir yaaa πŸ˜‰

      Delete
  7. Aku masih senang membaca buku fisik, alasannya karena lebih nyaman dan ada keterikatan emosi aja, apalagi kalau novelnya bagus dan jadi kesayangan πŸ˜† Cuma sejak pandemi ini, agak susah untuk strolling langsung ke toko buku untuk beli buku. Aku bukan yang terlalu hobi beli buku online karena nggak bisa dipegang-pegang dulu hahaha jadinya mau nggak mau baca e-book juga. Daripada nggak baca sama sekali hiks

    Novel teenlit itu memang ngangenin yaa. Aku dulu suka karyanya Ken Terate dan Sitta Karina (Lukisan Hujan!). Sayangnya, sejak pindah rumah entah kemana koleksi novel teenlit tersebut T_T untungnya novel Sitta Karina masih terselamatkan dan terpajang rapi di rak buku hihi

    Btw, aku setuju dengan Mba Eno. Apapun bentuk bacaannya, tetap semangat dalam membaca ya! :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sejak pandemi aku malah lebih sering beli buku online ci. Karena masih ngerasa mau baca cuma takut ke toko buku. Iya emang novel teenlit itu bikin kangen. Merasa hanyut sama cerita-ceritanya walaupun kadang ngerasa duh salah umur nih baca novel beginian hhha.

      Iya... novel Sitta Karina itu seruuu. Aku bukan pengikut novelnya tapi pernah baca sekilas dan ngerasa ini novel kece jugaaa.

      Yes.. yes.. semangat juga ci!

      Delete
  8. Huhu... impian kita sama nih kak. pengen punya perpus mini disudut ruang dekat jendela ruang tamu. dan bukunya itu semua karya ku. dan ini berarti, aku tim hadrcopy, yeay!

    sekarang masih nyicil bukunya aja dulu, tempatnya masih belum ada sih, hihi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betulll... impian bangeeett. Iyaa. iyaa nyicil dulu lah kita beli buku-bukunya. Soon semoga tercapai impian perpus mininyaa. Amin πŸ˜€

      Delete
  9. gue suka buku, dan juga suka baca
    buku fisik emang enggak akan tergantikan kenikmatannya, saat mencium aroma lembaran kertas yang di buku tiap halamannya

    enggak ada larangannya juga untuk menikmati buku teenlit di usia berapa pun kok

    ngebayangin punya ruangan khusus yang isinya buku-buku emang enak sih
    tapi untuk sekarang, justru malah mikir untuk membeli buku secara digital
    sedang menganut minimalism
    ya meskipun ditahap awalnya aja sik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya.. kadang baca buku apapun di usia berapapun asal menikmati serasa menyenangkan hhhe.. Sempat terpikirkan begitu juga, mau mencoba untuk minimalism dengan mengurangi pembelian hardcopy, tapi masih ngerasa belum sepenuhnya bisa lepas dari hardcopy. Mungkin perlu bertahap pelan-pelan yaa hhhe..

      Delete
  10. Sekalipun baca ebook juga, saya tetap lebih prefer baca buku cetak. Ada banyak hal yang tidak bisa tergantikan saat baca buku cetak. Ohya, saya rasa, tidak ada batasa usia untuk baca tulisan jenis apapun. Baca ala saja yang kak Devina sukai

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya betul mas, ada hal yg terasa beda deh antara baca e-book dan hardcopy. Pengalaman membacanya akan berbeda.

      Iyaaa.. baca yg kita sukai tanpa harus mikirin batasan usia dan jenis tulisan hhhe.

      Delete
  11. Buku itu udah kayak sahabat buatku. Dari batita diajarin baca Ama papa, di beliin buku2 bergambar tiap papa tugas ke LN, dan sebagai anak2 yg dulu LBH tertarik liat gbr2 ceria di bukunya jadi semangat banget utk bisa baca. Karena penasaran dengan semua buku yg dibawa papa. Aku bahkan msh inget novel pertama yg dibeliin setelah aku bisa baca, Lima sekawan yg versi pengarang Prancis , Harta Karun Rockwell :D.

    Dulu tiap ultah cuma jadi dr papa yg aku paling tunggu2. Krn pas ultah kami diajak ke toko buku, dan boleh beli buku sebanyak apapun yg Dimau, asal kuat bawa keranjangnya. Tapi aku dan adek ga kehilangan akal, keranjang kami taro dilantai, trus kami tarik/dorong :D. Itu kado paling indah stiap ultah.

    Di rumah ortuku, kami ada ruangan khusus yg memang utk perpustakaan pribadi mba. Semua buku papa, bukuku, adek, semua disimpen disitu. Ruangan yg paling aku suka dibanding ruang apapun kalo sdg mudik ke Medan.

    Tapi di JKT, Krn ruangan rumah ga Segede di medan, jadinya aku bikin perpustakaan mini di bawah tangga. Semua buku2 koleksiku aku simpen disitu :). Masih ttp ga cukup sih, jadi sebagian disimpen dalam lemari khusus. Msh impian bgt, kalo nanti renov rumah aku pgn bikin ruangan khusus utk perpustakaan :D.

    Buku ato ebook, aku pasti pilih buku. Mataku minus mba, jadi terlalu lama liat layar, yg ada pusing dan ngantuk malah. Buku fisik jauuh lbh nyaman buat mata. Lagian aku slalu suka wangi kertas , nth itu buku baru ato buku bekas :D.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waahhh... keren bangeeet mbaaak. Seneng deeh bisa dapat buku yang di mau dan boleh beli sebanyak apapun. Omaigat impian banget mbak bisa punya perpusatakaan pribadi. Mbak dan keluarga sangat senang baca yaa, terlebih orangtua mbak juga demikian. Jadi bisa bikin perpusatakaan sendiri.

      Iya.. aku pun lebih cepat lelah kalau baca ebook. Mungkin karena cahaya dari layar. Memang masih nyaman untuk membaca lewat hardcopy hhhee.. Iyaa, kadang wangi kertas baru itu bikin seneng hhhaa

      Delete

Halo, salam kenal!

Terimakasih ya atas kesediaannya untuk membaca tulisan ini. Boleh ditinggalkan komennya agar kita bisa berkomunikasi satu sama lain :)

Sampai berjumpa di tulisan-tulisan berikutnya.