Rapuh




16 Agustus 2020, saya mengikuti pembahasan di IG Live antara Fathya Artha Utami, M. Psi., Psikolog dan Saskhya Aulia Prima, M. Psi., Psikolog. Mereka berdua adalah seorang psikolog dan Co-Founder dari TigaGenerasi. TigaGenerasi merupakan rumah konsultasi yang melayani seputar kebutuhan seperti terapi, konsultasi psikolog, dan kelas-kelas edukatif mengenai keluarga. TigaGenerasi memiliki psikolog-psikolog dalam ranah dewasa dan anak-anak. Oh ya.. sekilas tentang Kak Fathya, ia merupakan penyanyi cilik dan pemeran Amelia di sinetron Oh Amelia. 

Kak Fathya dan Kak Saskhya seperti duo combo yang sangat menarik ketika membahas suatu topik. Kali itu topik di IG Live memahas tentang "Membuka Hati, Bertumbuh dari Kerapuhan." Topik yang terbilang sensitif namun menarik untuk disimak. Selama hampir satu jam, membahas seputar kerapuhan dan penelitian-penelitian yang mendalaminya. Kak Fathya dan Kak Saskhya selalu memasukkan hasil penelitian dalam pembahasan mereka. Buat orang seperti saya yang percaya akan data dan hal logis, tentu ini menjadi point penting yang menyenangkan. Mendapatkan ilmu bukan sekedar berdasarkan pengetahuan pembicara, namun diselingi dengan hasil penelitian yang mendukungnya.

Hasil pembicaraan mereka terekam dalam IGTV Kak Fathya. Mengenai topik kerapuhan (vulnerability) biasanya identik dengan hal-hal negatif. Terkadang kita bisa bilang bahwa "hati ini rapuh." atau "aku lagi rapuh" dll. Biasanya juga di kaitkan dengan permasalahan, seperti putus cinta. Nah, hal-hal yang aku tanggkap dalam pembahasan mereka bahwa rapuh itu tidak selalu buruk. Vulnerability adalah perilaku di situsi yang kurang nyaman. Kondisi tersebut akan menjadi gerbang untuk terkonekasi pada apapun emosinya. Nah, vulnerability bisa menjadi akar dari semua perasaan. Sebab menunjukkan siapakah diri kita, melibatkan juga relasi dengan orang lain, dan ada perasaan takut yang timbul sebagai bentuk apakah kita di terima orang lain atau tidak. 

Terkadang saat ada orang lain yang menunjukkan kerapuhannya, kita akan bilang bahwa itu hal umum. Bahkan kita seringkali malah menggurui mereka dengan mengatakan bahwa harus kuat, semangat, tegar, dll. Padahal bisa saja teman/kenalan kita saat itu hanya ingin didengarkan dan diterima, bukan mendapatkan "penolakan." Ketika kita menunjukkan kerapuhan, itu merupakan kondisi sadar sepenuhnya. Sadar bahwa saat ini berada dalam keadaan tidak nyaman, menginginkan perubahan, dan menemukan meaning. Merasakan vulnerability atau rapuh tidak serta merta menjadi negatif. It's okay jika saat ini kita merasa rapuh. Karena dengan merasa rapuh, kita akan menemukan meaning. Meaning yang menunjukkan siapakah diri ini dan apa maunya diri ini.

Vulnerability juga membuat kita bisa terbuka terhadap emosi yang dirasakan. Jika menginginkan untuk cerita kepada orang lain, kemudian bisa menangis tanpa di tahan, itu menjadi bagian dari mengeluarkan emosi. Menangis bukan menunjukkan bahwa kita semakin rapuh. Namun, menangis membuat kita membuka dan mengeluarkan emosi yang sedang dirasakan, yaitu sedih. Hal positif yang menarik dari vulnerability adalah dekat dengan creativity. Sebut saja, jika orang sedang dalam kondisi tidak nyaman, bisa menghasilkan suatu karya dalam bentuk tulisan/cerita, lagu, puisi, skenario film, dll. Semua itu bisa terjadi dalam kondisi yang mungkin tidak sepenuhnya nyaman.

Kak Fathya mengatakan bahwa  tugas kita adalah menjadi lingkungan nyaman untuk sahabat/kenalan agar mereka bisa terbuka dan menjadi authentic. Hal tersebut bertujuan agar mereka merasa nyaman untuk bercerita mengenai kondisi yang dialami. Kondisi tersebut juga mendukung mereka dan memastikan bahwa menjadi rapuh bukanlah suatu kesalahan. Siapapun akan merasakan kondisi tersebut dan hal wajar untuk diterima.

Jujur terhadap diri sendiri merupakan salah satu cara untuk menerima kondisi apapun yang terjadi. Ketika merasa rapuh, tidak ada salahnya untuk membuka diri. Jika dirasa tidak mampu melewatinya, maka bisa untuk bertemu dengan para ahli yang bisa membantu. Its' okay jika rapuh. Ketika sudah menmukan meaning, maka akan bangkit kembali menjadi lebih baik.

Jujur, terbuka, dan terima.


Cover: Foto adalah dokumentasi pribadi




8 comments

  1. Terima kasih atas remindernya ci 😍
    It's okay untuk menjadi rapuh ya, tapi jangan lupa untuk bangkit kembali setelah masa-masa itu. Semoga teman-teman yang sedang berada di situasi tidak enak, bisa termotivasi dan merasa lebih baik setelah membaca tulisan ini πŸ™πŸ»

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betulll.. terkadang menjadi rapuh bukanlah kesalahan, malah bisa mengeluarkan emosi negatif yang ga baik untuk diri sendiri.
      Amin.. sebab ini semua berlaku buat buat diri sendiri, namun untuk orang lain juga 😊

      Delete
  2. Setiap dari kita as manusia pasti punya sisi rapuh terlepas mau ditunjukkan ke khalayak ramai atau nggak, dan sisi rapuh ini yang membuat kita menjadi sebenar-benarnya manusia. Karena nggak ada manusia yang totally 100% kuat dan sempurna hehehehe. Dan setuju sama pembahasan mba Devina di atas, ketika kita merasa rapuh, sangat penting untuk kita terbuka pada orang yang tepat. Dalam artian orang yang mau dan bisa mengerti kita, pun orang yang kemungkinan besar nggak merasa terbebani dengan 'cerita' kita 😁

    Saya pribadi selama ini setiap kali merasa rapuh, akan cerita ke pasangan. Mungkin karena usia juga, saya sudah nggak lagi cerita soal masalah saya ke sahabat atau orang tua, karena saya sadar sahabat-sahabat saya punya kehidupan personal yang bisa jadi sama beratnya hehehe πŸ™ˆ tapi bukan berarti saya tutup diri kalau ada sahabat yang mau curhat. Karena saya selalu suka mendengarkan, dan sometimes, orang yang rapuh, nggak meminta banyak selain didengarkan πŸ’•

    Thanks untuk tulisan hangatnya, mba 😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya.. ke siapapun tidak masalah, asal memang di percaya dan mereka terbuka juga untuk diterima. Kadang segala sesuatu memang perlu di bagi, asal tahu porsi-porsinya dan bukan memberatkan pihak lain yang menerima πŸ˜‚

      Sama-sama Mbak Eno, makasih juga sudah berbagi ceritanya 😊

      Delete
  3. Awalnya aku takut sekali menunjukkan kerapuhan diri, karena takut dianggap lemah atau cengeng. Namun seiring berjalannya waktu, seorang sahabat yang mengingatkan kau its okay kita bisa menunjukkan sisi kelemahan diri kita. Itu artinya kita mengakui sebagai manusia kita nggak sempurna dan berhak merasakan emosi apapun. Kurang lebih aku sama seperti Mba Eno, lebih banyak terbuka dengan pasangan dibandingkan ke sahabar karena mereka pasti punya pergumulan pribadi. Namun aku juga nggak menutup diri bagi mereka yang ingin berbagi cerita denganku 😊

    Thank you for the reminder yaa, Dev 😘

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener ci, rapuh bukan berarti kita lemah atau cengeng. Tidak apa-apa kok menunjukkan sisi kita yang mungkin tidak seperti biasanya. Yes.. dengan pasangan juga tepat, karena dari situ makin terbangun komunikasi satu sama lain kaan. Jadi saling terbuka dan jujur.

      Sama-samaaa ci 😁

      Delete

Halo, salam kenal!

Terimakasih ya atas kesediaannya untuk membaca tulisan ini. Boleh ditinggalkan komennya agar kita bisa berkomunikasi satu sama lain :)

Sampai berjumpa di tulisan-tulisan berikutnya.