Perjalanan Bayiku untuk bisa Survive setelah Ia Lahir (Part 2)


Setelah melihat Baby E untuk kali pertama, hari itu hanya dipenuhi tangisan antara saya dan koko. Menangis dan berdoa, hanya itu yang bisa kita lakukan. Saat keluarga dan saudara menanyakan kabar Baby E, mereka pun mencoba untuk menguatkan kami berdua. Ya.. saat itu kami butuh doa untuk yang terbaik bagi Baby E.

Hari itu kami dapat kabar, bahwa ternyata paru-paru sebelah kiri Baby E belum berfungsi dengan normal. Sehingga, hal tersebut yang membuatnya masih butuh alat bantu pernafasan. Kondisi lainnya termasuk stabil. Jadi dokter hanya bilang bahwa Baby E bisa pulang ke rumah, ketika ia sudah lebih bisa bernafas dengan normal tanpa alat bantu pernafasan.

Kondisinya masih stabil. Oke.. kalimat tersebut cukup menguatkan buat saya bahwa Baby E mampu melewati ini semua. Kembali mencoba untuk berpikir bahwa ia butuh waktu untuk adaptasi dengan ini semua. Sebab, ia lahir sebelum waktunya. Sehingga, hal-hal yang harusnya masih ia lakukan di dalam kandungan, sekarang membuatnya harus beradaptasi dengan lingkungan sesungguhnya. Ya.. ia masih butuh waktu untuk adaptasi.

Tanggal 29 Maret, saya bisa pulang namun Baby E masih harus di NICU. Sebelum pulang, saya kembali datang ke ruang NICU untuk ketemu Baby E. Suster bilang bahwa ia mulai sering minum susu. Sebelumnya sempat tidak begitu mau untuk minum susu. Sampai hari itu, ASI saya masih belum keluar. Jadi, kami sepakat untuk Baby E diberikan susu formula terlebih dahulu. Mungkin ketika sudah pulang, saya bisa lebih nyaman dalam mempompa ASI.

Melihat bahwa pelan tapi pasti ada perubahan dalam dirinya, ada sisi dalam diri saya yang timbul. Harapan bahwa perlahan kondisi Baby E membaik dan bisa pulang ke rumah. Tak apa, mungkin belum waktunya ia pulang sama saya. Namun, setelah kondisi membaik tentu ia akan bisa berkumpul bersama kami.

Keesokan harinya, kami datang kembali untuk melihat Baby E. Ya.. koko selalu ingin lihat Baby E tiap hari. Bolak balik kami ke rumah sakit, hingga akhirnya kami dapat kabar positif bahwa Baby E bisa bernafas normal tanpa alat bantu pernafasan. Disitu saya merasa lega dan semakin yakin, bahwa Baby E akan cepat pulang. Lalu, minum susu juga semakin sering dan jumlahnya semakin banyak. Yeay, bayiku semakin membaik. Itu terjadi tanggal hingga tanggal 1 April. Dokter anak optimis, Baby E bisa segera pulang jika kondisi terus demikian. Dokter kandungan yang ikut memantau perkembangan bayiku, juga mengatakan serupa.

Saya dan koko seperti mendapat angin segar, harapan baru kembali muncul. Walaupun masih ada rasa was-was. Apakah keesokan harinya, Baby E tetap membaik. Kami berdua hanya bisa berdoa yang terbaik. Sebab, ini seperti pertaruhan yang tidak tahu kapan usai. Tanggal 2 April, kami mendapat kabar bahwa Baby E kondisinya agak menurun. Kembali ia dibantu alat pernafasan. Kami berdua datang ke NICU, berdoa dan mencoba untuk menguatkan bahwa Baby E sanggup melalui ini semua. Disitu saya mulai kehilangan harapan. Kenapa seakan-akan di bolak balik, diangkat dan dijatuhkan. Namun, masih percaya bahwa ini semua bisa terlewati.

Tanggal 3 April, kembali suster di NICU terlfon dan mengatakan kondisi Baby E menurun. Mulai tidak bisa berpikir jernih dan semakin takut. Ada apa ini? Kenapa kondisinya berubah memburuk. Sesampainya di ruang NICU, kami melihat ia menangis. Mungkin merasa tidak nyaman dengan kondisinya. Kami berada di ruangan NICU cukup lama, padahal jam besuk sudah selesai. Perlahan kondisinya membaik. Lantas kami pulang. Saat masih di tol, suster NICU telfon bahwa Baby E kembali tidak stabil.

Balik lagi kami ke rumah sakit dan melihat bahwa ia semakin sering menangis. Merasa bahwa ini tidak baik-baik saja. Apalagi dokter bilang coba berdoa yang terbaik. Disitu merasa semakin ada yang tidak beres. Saya dan koko hanya bisa menangis sambil berdoa. Mencoba untuk memegang tangan dan kakinya, memberikan kekuatan dan meyakinkan bahwa kami berdua ada disitu bersamanya. Ia membuka matanya dan menangis. Kami berusaha tegar untuk tidak menangis, namun itu tidak bisa. Runtuh pertahankan kami disana. Pertama kali sepanjang pernikahan, saya melihat koko menangis sebegitunya. Laki-laki yang saya ketahui begitu kuat, saat itu begitu rapuh di depan anak perempuannya.

Sore itu, kami kehilangan dirinya. Baby E meninggalkan kami di jam 17.19. Separuh jiwa kami hilang. Ia meninggalkan kami dalam tidurnya. Tidak.. tidak ada tangisan lagi dalam dirinya. Ia tertidur saat kami terus mengucapkan doa. Ya..bayiku pergi dalam usia 8 hari.

Sumber gambar: https://pixabay.com/id/photos/bayi-menangani-kecil-ayah-keluarga-428395/

4 comments

  1. Sorry for your loss, maaf kemaren komen tanpa tau cerita selanjutnya. Semoga kalian berdua kuat ya....

    ReplyDelete
  2. Ikut sediiih sekali membacanya mba :(. Semoga mba dan kokoh bisa kuat, dan tabah.. Doa saya untuk baby E juga. *Sending a virtual hug for you ❤️

    ReplyDelete

Halo, salam kenal!

Terimakasih ya atas kesediaannya untuk membaca tulisan ini. Boleh ditinggalkan komennya agar kita bisa berkomunikasi satu sama lain :)

Sampai berjumpa di tulisan-tulisan berikutnya.