Sepenggal Kisahku yang harus Melahirkan di Usia Kehamilan 35 Minggu





Hari ini, kondisi semakin sulit. Merebaknya penyebaran Virus Corona, membuat kondisi semakin mencekam. Semua berada dalam kondisi yang bisa di bilang tidak baik-baik saja. Sebab, hari demi hari seakan menjadi pertaruhan, akan bagaimana hasilnya nanti.

Tahun 2020 baru masuk bulan April. Itu pun masih di tanggal 14, yaitu hari ini. Tapi kenapa seakan-akan sudah berlalu berbulan-bulan. Tahun ini masih terhitung awal, namun sudah banyak hal buruk yang terjadi. Tak terkecuali dialami oleh diri sendiri. Kondisi ini bisa di bilang keadaan saat ini. Kemarin-kemarin, saya pernah bercerita mengenai Pregnancy Journey yang dimulai oleh Perjalanan untuk Lepas dari PCO dari part 1-6 (bisa di baca disini: Perjalanan untuk Lepas dari PCO).

Sekarang, saya akan bercerita tentang kondisi saat ini. Tepat di bulan ini, saya kehilangan harapan yang sempat tumbuh. Ya, saya memang sudah hamil dan kondisi selama kehamilan akan saya ceritakan kemudian. Maaf jika nanti ceritanya akan terkesan lebih maju dan lompat-lompat. Prediksi saya melahirkan dikisaran tanggal 20an April. Namun, Tuhan berkendak lain. Saya melahirkan di tanggal 26 Maret 2020 dalam usia kehamilan 35 Minggu 1 Hari. Jelas itu lebih maju dari HPL yang seharusnya.

Kondisi ini bermula saat tanggal 24 Maret 2020 di pagi hari, tiba-tiba saya keluar flek diikuti oleh darah seperti menstruasi. Memang tidak begitu banyak, namun ini seperti pertanda bahwa saat itu dalam kondisi tidak baik. Selain itu rasa mulas, perut kram, dan mulai sakit pinggang juga dirasakan. Sebetulnya rasa mulas sempat dirasakan dari tangal 23 Maret, namun sesekali dan hilang timbul. Jadi, saat itu masih berpikir bahwa mulas biasa, bukan karena ada apa-apa. Pagi itu langsung hubungi dokter dan diminta untuk datang ke kliniknya. Perasaan campur aduk, namun tetap berusaha berpikir positif bahwa semua akan baik-baik saja.

Sampai di klinik, langsung di USG dan kondisi baby dalam keadaan baik. Semuanya baik dan detak jantung juga baik. Namun, karena saya bilang merasa mulas, dokter langsung melakukan cek CTG, gunanya untuk memantau denyut jantung bayi dan kontraksi rahim. Ternyata, saya sudah mengalami kontraksi namun belom dalam intensitas yang sering. Akhirnya, dokter memberikan obat yang harus diminum saat itu juga dan obat yang dimasukkan langsung dari anus. Gunanya untuk membuat rahim lebih tenang dan tidak terjadi kontraksi. Sebab, belum saatnya saya melahirkan.

Saya pun pulang ke rumah dan diminta untuk bedrest, sambil tetap update perkembangan yang terjadi. Setelah minum obat dan sering tiduran, mulai tidak merasakan kontraksi. Flek dan darah juga mulai berkurang. Besoknya tanggal 25 Maret, sudah merasa lebih baik. Flek dan darah pun berhenti. Kondisi ini berlanjut sampai siang. Akhirnya lapor ke dokter dan bilang kalau kondisi sudah lebih membaik. Namun, sore mulai merasa kontraksi lagi. Kembali laporan ke dokter dan diminta untuk inap di rumah sakit saja. Alasannya agar lebih mudah di observasi dan diberi penanganan.

Kaget dan tidak menyangka bahwa harus sampai rawat inap. Koko bilang tidak apa-apa di rawat inap. Ini juga buat kebaikan saya dan baby. Jadi sore itu sehabis mandi langsung pergi ke rumah sakit. Untungnya koper yang berisi baju-baju dan perlengkapan pribadi saya dan koko, sudah kami siapkan. Selain itu, berkas-berkas rumah sakit seperti buku kontrol, hasil laboratorium, hasil USG, semuanya sudah saya siapkan dalam satu map. Jadi tinggal dibawa dan tidak perlu takut ketinggalan. Saat itu langsung telfon ke mama juga untuk bilang kalau saya harus rawat inap. Orangtua dan adik juga langsung ke rumah sakit.

Sampai di rumah sakit, saya masuk ke ruangan bersalin. Namun ruangan itu bukan untuk yang proses bersalin. Sebab, kamar bersalin ada ruangan tersendiri. Di ruangan bersalin ini mirip seperti UGD, jadi terdapat beberapa kasur. Disitu saya mulai di cek CTG lagi. Lalu, di cek alergi obat dan di pasang infus. Kontraksi mulai terasa lagi, namun masih sesekali dan bisa di tahan. Saat itu juga disuruh untuk cek urin. Pokoknya di cek ini dan itu. Masih berpikir positif bahwa ini mungkin memang proses yang musti dilakukan, untuk memastikan bahwa baby baik-baik saja. Sambil ajak ngomong ke baby, bahwa bukan waktunya untuk dia lahir. Masih ada sekitar 3 minggu lagi sampai dia waktunya lahir. Malam itu saya masih bisa makan seperti biasa. Dikarenakan mulai merebaknya wabah virus Corona, pihak rumah sakit mulai membatasi bahwa pihak keluarga yang boleh menunggu pasien hanya satu orang. Maka, waktu itu yang menemani saya untuk inap di rumah sakit adalah mama. Karena besoknya koko harus kerja, jadi dia pulang malam itu bersama papa dan adik saya.

Sekitar jam setengah 11 malam, saya baru masuk ke kamar inap. Disuruh tidur sama suster, sambil tetap dipantau. Akhirnya mencoba untuk tidur karena mulai merasa lelah. Sekitar jam setengah 1 pagi, tiba-tiba merasa mulas dan perut kram. Mencoba untuk kontrol nafas dan rileks. Tidur pun menjadi miring ke kiri. Perlahan lebih rileks dan nyaman. Namun, selang beberapa menit tiba-tiba merasakan lagi. Mulai merasa bahwa kontraksi muncul lagi. Akhirnya panggil suster dan di cek CTG lagi. Ternyata memang benar, kontraksi kembali muncul. Saya pun di berikan obat dan diminta untuk atur nafas serta rileks.

Oke, perlahan membaik dan mencoba untuk kembali tidur. Jam setengah 4 pagi, tiba-tiba merasa kontraksi lebih lama dan lebih sakit. Tetap mencoba rileks sambil atur nafas. Mama pun mulai terlihat tidak tenang, namun tetap mencoba untuk menenangkan saya. Saya sambil afirmasi ke baby, bahwa belum saatnya untuk ia lahir. Terus berdoa untuk minta pertunjuk dan kekuatan. Perlahan, kontraksi hilang. Lalu kembali muncul. Benar-benar lebih intens dan sakit. Mama mulai ngerasa bahwa ini waktunya saya melahirkan. Sakit mulai menjalar ke paha dan pinggang. Mulai tidak bisa rileks dan atur nafas. Lanjut panggil suster dan di cek CTG. Ternyata kontraksi lebih intens dan itu terus berlanjut sampai jam 5 pagi.

Akhirnya jam 5 pagi, saya di bawa ke ruangan bersalin. Sampai di ruang bersalin, berasa ada air hangat yang keluar dan perasaan ini mengejan. Padahal saya tidak pipis dan suster mengatakan bahwa saya tidak boleh mengejan. Ternyata ketuban saya pecah dan pas di cek ternyata sudah pembukaan full. Suster dan mama saya sampai kaget karena cepat sekali. Lanjut saya pendarahan dan kontraksi makin terasa menyiksa. Dokter sampai dan saya sudah mulai tidak bisa untuk fokus. Karena saat itu cuma ada mama (koko masih dalam perjalanan ke rumah sakit), saya yang tadinya berharap bisa melahirkan normal, tiba-tiba jadi pupus. Koko yang di telfon oleh dokter dan dokter yang bicara dengan mama, akhirnya koko dan mama sepakat untuk dilakukan operasi caesar.

Sempat nyesek karena pembukaan sudah full namun tidak bisa melahirkan normal. Ternyata saat itu pendarahan saya sudah banyak, ketuban juga semakin menipis karena sudah banyak yang keluar. Kondisi baby juga akan lahir prematur dan saya mulai lemas serta kelelahan. Jadi demi kebaikan bersama akhirnya saya masuk ruang operasi. Ternyata mama tidak boleh menemani saya di ruang operasi. Jujur mulai takut, sebab sendirian dan benar-benar baru pertama kali masuk ruang operasi.

Dokter dan suster mencoba untuk menenangkan. Terlebih saya menggigil sekali ketika sudah di ruang operasi. Sempat membuat proses untuk suntik bius terhambat. Karena saya tidak bisa duduk tegak dan badan terus menggigil. Akhirnya dikasih pemanas dan saya mulai bisa rileks. Mencoba duduk tegak dan dilakukan proses bius. Ternyata proses bius tidak sakit dan cenderung tidak berasa. Lebih sakit saat mau dipasang infus. Setelah disuntik, kaki berasa kaya kesentrum dan mulai kesemutan. Lalu menjadi kebas dan perlahan saya diminta untuk tiduran. Lama-lama perut dan kaki menjadi kebas dan tidak berasa apa-apa.

Kemudian dipasang penghalang di depan saya dan dokter pun mengatakan proses akan di mulai. Saat itu cuma bisa pasrah dan tidak tahu harus ngapain. Cuma merasa mulai mengantuk dan haus. Mulut pun sampai berasa pahit sekali. Selama proses, hanya mendengar obrolan dokter dan suster, mereka bahkan membahas tentang virus corona. Tak berapa lama terdengar suara tangisan baby. Namun hanya sebentar dan tidak terdengar lagi. Ternyata baby menangis tidak begitu lama dan cenderung pelan, maka langsung di bawa ke inkubator. Niat untuk melalukan Inisiasi Menyusu Dini pun tidak terlaksana. Berharap baby di taruh di dada saya pun tidak terjadi.

Ya, anak kami yang berjenis kelamin perempuan, lahir di tanggal 26 Maret 2020, jam 06.55 dengan berat 1, 89 kg dan panjang 47 cm. Diusia kehamilan 35 minggu 1 hari, akhirnya ia lahir dalam kondisi selamat.

Sumber gambar: https://pixabay.com/id/photos/baru-lahir-bayi-kaki-keranjang-1399155/

2 comments

  1. Halo, salam kenal. Ceritanya hampir mirip sama aku. Waktu hamil 35 minggu juga tiba2 aku keluar flek yang lumayan banyak, lalu ada kontraksi juga. Akhirnya sama dokter dikasih obat penahan kontraksi sama disuruh bedrest sambil dipantau, kalo masih kontraksi juga, jadwal operasinya harus dimajuin. Tapi untungnya semua tetap sesuai jadwal.

    Semoga berat baby kamu cepet naik ya, dan semuanya dalam keadaan sehat2 terus.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, salam kenal juga. Sehat-sehat ya untuk dirimu dan baby..

      Delete

Halo, salam kenal!

Terimakasih ya atas kesediaannya untuk membaca tulisan ini. Boleh ditinggalkan komennya agar kita bisa berkomunikasi satu sama lain :)

Sampai berjumpa di tulisan-tulisan berikutnya.