10 Tahun Perbedaan Usia Saya dan Suami

 


08 Agustus 2020, saya bertemu salah satu sahabat sejak kuliah S1. Kebetulan tempat tinggal kami dekat, jadi menyempatkan diri bertemu. Dia menjadi salah satu saksi perkembangan saya sejak kuliah sampai menikah. Cerita kehidupan saya bisa di bilang perlu diceritakan kepada dirinya. Banyak hal yang kami bicarakan, mulai dari masalah pasangan hingga kehidupan di dunia pekerjaan.

Salah satu pertanyaan dia adalah "Bagaimana lo yakin kalau koko itu pasti teman sehidup semati lo?" Ya.. masih ada kebingungan atau mungkin keraguan untuk dirinya dalam memutuskan tahap kehidupan, yakni memilih pasangan hidup. Jika di tanya seperti itu, jujur kadang saya juga bingung menjawabnya. Saya dan koko terpaut perbedaan usia 10 tahun. Ya.. koko 10 tahun lebih tua di bandingkan saya. Di umur saya saat ini, rata-rata pasangan teman-teman usianya tidak terpaut jauh. Kalaupun jauh kisaran dua sampai lima tahun. Namun, saya dan koko malah terpaut 10 tahun.

Saya pun tidak menyangka akan memiliki suami yang berbeda 10 tahun. Dulu, mikirnya mau yang lebih tua dua tahun saja. Ketemu yang beda tiga tahun saja merasa itu sudah terlalu tua. Ya.. memang pemikiran bisa saja berubah. Siapa sangka, perbedaan 10 tahun malah menjadi pasangan sehidup semati untuk saya.

Banyak yang tidak menyangka bahwa perbedaan usia kami 10 tahun. Entah karena koko keliatan awet muda atau malah saya yang kelihatan lebih tua daripada usia seharusnya #loh. Namun, kembali ke pertanyaan sahabat saya, saya cuma bisa bilang jika tiba waktunya tiba, maka dia sendiri akan merasakan. 

Merasakan..

Saya merasakan bahwa koko menjadi pasangan tepat untuk saya. Saya sulit mengungkapkan alasannya, namun saya merasa nyaman. Senyaman jika hanya diam berdua dalam mobil, tanpa suara radio atau suara bicara satu sama lain. Hanya diam melihat jalanan ke depan dan fokus pada pikiran masing-masing. Saya senyaman itu ketika bersama dia. Kami berdua bukan tipe romantis, maksudnya tidak suka saling kasih hadiah atau menyiapkan suatu acara. Momen ulang tahun kami, bahkan wedding anniversary pun tidak kami acarakan. Hanya makan-makan berdua atau sama keluarga. Tidak ada hadiah, tidak ada request apapun. Mungkin karena ada kesamaan seperti itu, jadi merasa "Wah ini cocok buat gw nih." Tapi tidak hanya demikian, memilih pasangan hidup tentu lebih rumit daripada menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. 

Saya merasakan bahwa kedepannya bersama dia, mampu untuk menjalani hal apapun yang terjadi. Tanpa harapan macam-macam, sesederhana bisa berkompromi dan komunikasi atas apapun yang dialami. Kami minim berantem sampai dua tahun pernikahan. Entahlah, antara bersyukur atau tidak. Namun, katanya perlu ada berantem sebagai bumbu-bumbu pernikahan. Mungkin kakak-kakak yang sudah menikah lama, bisa memberikan masukan atau menceritakan pengalamannya di kolom komen tulisan ini hhhe.. Kami pernah berantem. Hal ini buat saya hal yang wajar, sebab membuat kami saling mengetahui satu sama lain. Membuat kami tahu, bagaimana sisi lain dari masing-masing. Setelah itu, coba cari jalan keluar untuk bisa bersama-sama tanpa perlu berantem.

Ketika mengalami sendiri punya suami yang jauh lebih tua, akhirnya saya sadar bahwa memang betul jika jodoh itu tidak mempermasalahan usia. Kami berusaha untuk berkompromi dan menyelaraskan satu sama lain. Belajar untuk tidak mendewasakan seseorang saja, namun mencoba untuk sama-sama dewasa. Kadang sama-sama seperti anak kecil, itu bukan suatu masalah kan. Terkadang masih ada sisi anak-anak dalam diri kita sendiri dan wajar jika sewaktu-waktu muncul.

Jika di bilang usia yang lebih tua bisa menunjukkan kedewasaan, itu antara iya dan tidak. Iya jika memang orangnya mampu dan mengerti bagaimana dewasa itu. Tidak jika dirinya merasa begitu saja menjalani hidup tanpa usaha lebih lanjut. Kembali lagi bagaimana pandangan kita tentang dewasa. Kalau yang saya alami, memang koko terbilang lebih dewasa. Secara umur, dia memang menang pengalaman dibanding saya. Namun, pemikiran dan sikap dia yang bisa menuntun saya serta rumah tangga kami, membuat saya sadar bahwa usia bisa menjadi pendukungnya. Membuat saya sadar bahwa itu dewasa versi saya yang dirasakan ketika melihat dirinya. Jika orang lain yang melihatnya, bisa jadi tidak disebut sebagai dewasa.

Lantas, apakah kalau mau punya pasangan dewasa harus yang jauh lebih tua? Oh.. tentu tidak. Itu kembali lagi kepada individunya masing-masing. Jika tolak ukur dewasa menjadi syarat untuk yakin akan pasangan yang ingin dijadikan suami/istri, itu tergantung kalian menyikapinya. Pertanyaan sahabat saya bisa menjadi bahan refeksi untuk kalian yang akan atau sedang mencari pasangan hidup. Bahkan masih menjadi refleksi untuk saya sebagai dasar untuk tetap percaya dan yakin akan keputusan memilih dia.

Menurut kalian, apa jawaban yang cocok dari pertanyaan sahabat saya itu? Jika itu diberikan kepada kalian :)


Foto: Dokumentasi Pribadi

Cover: Canva, edit by me


20 comments

  1. Semoga pernikahannya selalu dilingkupi kebaikan, Mbak. :)

    Suka kalimat ini:Sesederhana bisa berkompromi dan komunikasi atas apapun yang dialami.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kaak Anik, makasihh yaa atas doanyaa. Semoga yg terbaik juga selalu kakak rasakan yaaa 😊

      Delete
  2. Halo, kak Dev, salam kenal 😊

    Aku yang belum menikah juga sering menanyakan perihal ini kepada teman yang sudah menikah. Dan sama lho, kebanyakan dari mereka bingung jawab apa hahaha. Tapi lalu ditutup, kamu bakal tau kok rasanya kalau memang yakin itu orangnya.

    Oke, jadi kusimpulkan ya, aku memang belum pernah punya perasaan itu. Seperti kata Kak Dev, perasaan nyaman yang bikin yakin bisa menjalani bersama sampai 5, 10, 15, sampai 60 tahun mendatang mungkin 😊

    Langgeng dan hepi terus yaaa lovebirds! 1❤

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo kak kartika!

      Betul, bahkan aku yg sudah menikah saja masih bingung kalau di tanya itu. Seperti tidak ada jawaban pastinyaa hhhaa.

      Amin. Makasih yaa kaaak

      Delete
  3. Hi ci πŸ‘‹πŸ» aku juga suka bertanya-tanya dengan teman yang udah menikah dengan pertanyaan yang sama yang teman cici tanyakan. Dan, jawabannya rata-rata pasti sama juga, ngerasa aja kalau memang he/she is the one 🀭

    Aku jadi teringat, ada 1 artikel dari Olivia Lazuardy yang berkesan buat aku mengenai Is He The One? Kalimatnya yang ngena banget adalah "marriage is not about finding the right guy or girl to marry. I doubt you’ll find the perfect person in this world. It’s about two wrong people getting together with the same value, who wants to be a better person for themselves and each other"

    Semoga bahagia dan langgeng selalu ya ci πŸ₯°❤️

    ReplyDelete
    Replies
    1. Omaigaaat Liaaa, kalimatnyaa jleb bangeeet.

      Yes, together with the same value. Kadang masih bingung emang value kita apa sihh? Aku pun tidak pernah bahas itu secara personal sama koko.

      Mungkin seiring bersamanya kami perlahan akan terbentuk value yg "ini kita banget". Kalau disuruh bikin atau nentuin tentu akan sulit.

      Amin. Makasih yaaa liaaaa πŸ€—

      Delete
  4. Kisah yg luar biasa menginspirasi sih ini. Kalau disuruh jawab, jujur aku nggak bisa jawab ci, karena memang rasanya nggak siap punya pasangan yg jauuuh lebih tua, nggak kebayang. Tapi memang balik lagi ke masing-masing ya ci.

    Kalo saya malah dapet brondong, hihi.. Boleh deh nanti aku curhat di blog juga, ahaha..

    Salam kenal ci Devi, semoga bahagia selalu bersama koko :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo salam kenaaal! Kamu lebih nyaman di panggil dengan apa? ☺️

      Wahh.. mau donx baca ceritanyaa. Ayoo ayoo di buat yaa. Kadang aku juga penasaran sama yg punya pasangan cowo dengan usia lebih muda. Cuma orang terdekat aku rata-rata pasangannya berusia lebih tua.


      Amin. Makasih yaaa. Bahagia juga untuk kamu dan partner ☺️

      Delete
  5. Betul mba Devina, cinta nggak kenal usia. Mau lebih tua 10 tahun atau lebih muda 10 tahun kalau sudah klik why not untuk dilanjutkan 😍 hehehe. Saya pribadi nggak akan bisa menjabarkan apa-apa ke teman saya kecuali bilang hal yang sedikit banyak sama dengan yang mba Devina jabarkan. Sebab untuk kita bisa ketemu sama seseorang yang match dengan kita itu butuh perasaan, which is setiap orang akan beda-beda cara merasakannya πŸ™ˆ

    Hehehehe. Bicara soal kenyamanan, itu menjadi salah satu alasan saya ketika pilih pasangan. Karena buat saya perasaan nyaman dibutuhkan agar bisa longlast tentunya dengan rasa-rasa lainnya seperti respect, syukur dan menerima πŸ˜† ohya, saya pun jarang bertengkar hebat sama pasangan dan menurut saya nggak aneh. Kalau debat kecil sih sering jangan ditanya, which is bisa kelar dalam waktu beberapa menit 🀣

    Semoga mba Devina bisa langgeng hingga akhir hayat bersama pasangan tercinta, ya. Saling mendukung dan berusaha menjadi pribadi baik untuk satu sama lainnya πŸ˜πŸ’•

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju sama Kak Eno. Perlu juga respect, syukur, dan menerima.

      Wahh.. berdebat kecil mah ga masalah kak. Kadang aku pun begitu, sesederhana dia taroh handuk di atas kasur. Bukan di jemur pada tempatnya kadang bisa berdebat bla bla bla 🀣🀣 tapi abis itu yaudah selesai tanpa harus di ungkit-ungkit.

      Amin. Makasih yaaa kaaak. Langgeng dan happy terus untuk kakak dan sih kesayangan 😊

      Delete
  6. Jawabanku sepertinya nggak jauh beda dengan kamu deh, karena untuk tau "he/she's the one" itu hanya bisa dirasakan oleh masing-masing pribadi. You will know, when you know. Kalau boleh aku bilang, ketika kita yakin dengan seseorang, semuanya akan menjadi lebih jelas (everything will make sense) (:

    Soal kenyamanan yang kamu gambarkan itu benar banget sih. Terkadang aku dan suami berduaan di ranjang; dia main hape, aku baca buku atau main hape juga, sambil nyenderin kepala di bahunya, gitu aja udah nyaman buatku hihi

    Semoga Devina dan pasangan selalu bahagia sampai tua yaaa. Long last kalian πŸ₯°

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul ci. Sulit untuk di deskripsikan tapi ya pokoknya begitu deh 🀣

      Kadang kalau di gambarkan dengan kata-kata malah bingung. Yes, saling bersama tapi dengan me time masing-masing. Itu juga bukan hal yg bikin masalah, malah jadi menyenangkan yaaa.

      Amin. Makasih yaaa ciii. Happy terus untuk cici dan partnee ☺️

      Delete
  7. Selama Devina happy, ya berarti cocok, kalau tidak hepi berarti bermasalah.

    Saya pikir batasan usia dalam pernikahan sebenarnya tidak penting. Berbagai teori harus begini atau begitu, yah sebatas teori saja. Faktanya, pernikahan itu adalah tentang bagaimana kedua orang dalam pernikahan itu menjalaninya, bekerja sama, dan kemudian menjadi sebuah tim yang berjuang demi kebahagiaan bersama.

    Usia saya hanya berbeda beberapa bulan saja dengan istri dan itu juga nggak jadi masalah karena buktinya kami sudah menjalaninya selama hampir 20 tahun. Padahal katanya yang bagus adalah selisih 3-5 tahun...

    Just enjoy your life dengan pasangan pilihanmu.. Nggak usah pikirin orang lain ngomong apa.. hahahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalimat pertama Mas Anton bener bikin jleb. Memang terkadang sekedar happy bisa menjadi alasan tanpa harus nuntut ini dan itu.

      Iya Mas, teori ya hanya teori karena bisa berbeda dengan kenyataannya. Betul.. betul.. yang menjalani kan kita ya mas, jadi apa kata orang tidak usah di pikirkan hhha. Wahh.. semoga selalu bahagia ya Mas Anton dan istri. Sehat selalu untuk kalian dan keluarga :)

      Delete
  8. Jangankan mba Dev, akupun kalau ditanya seperti itu nggak bisa jawab karena belum punya suami jugaπŸ˜‚ Significant other sih ada untuk saat ini, dan semoga niat baik untuk serius ke jenjang pernikahan seperti mba bisa terlaksana nantinya Aamiin. Jadi dari pengalaman aku dalam relationship kurang lebih sebetulnya sama, value dan prinsip diri serta visi yg sama menjadikan kita nyaman satu sama lain untuk sama-sama berkembang menjadi the better version of ourselves, dan itu gak bisa secara gamblang dideskripsiin sebab yg namanya perasaan atau spiritual journey tiap orang beda2, lain halnya dengan logika. So far jawaban mba Devina di atas menurutku the best😍, kenyamanan juga jadi salah satu kunci yg mestinya bisa kita dapatkan dalam proses tumbuh bersama itu.

    Semoga mba dan suami langgeng sampai akhir hayat ya mba, gapapa kalau gak banyak berantem, as long as komunikasi terjaga dan 'sering ngobrol' tentang banyak hal, aku percaya rumahtangga akan baik-baik aja, hehehe AamiiinπŸ’• Semangat untuk mba dan keluargaa😁πŸ’ͺ🏻

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul kata kamu. Ini bukan serta merta logika saja. Kadang yang namanya perasaan emang susah di deskripsikan πŸ˜…

      Amin. Makasih yaaa. Semoga yang terbaik juga untuk Awl dan pasangan ya ♥️

      Delete
  9. Halo kak dev, salam kenal.
    Berbicara tentang pasangan beda usia, orangtua saya juga berbeda usianya, Tapi dalam hal yang lain. Ibu saya lebih tua daripada ayah saya.
    Apa yang aku lihat dari kehidupan kami, nampaknya menarik.
    Aku jadi kepikiran untuk mencari istri yang usianya jg di atasku hahaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Mas Dodo, salam kenal. Makasih sudah mampir kesini :)

      Wah... baru kali ini aku ketemu cowo yang sudah kepikiran untuk mencari istri dengan usia yang lebih tua. Biasanya ya emang kebetulan saja jodohnya demikian, bukan sudah terpikirkan dari sekarang hhaa.. Akan menjadi kisah yang menarik nih mas, sebab dari sudut pandang seorang pria yang memiliki keinginan untuk berpasangan dengan wanita yang lebih tua. Semoga segera bertemu wanita tersebut ya mas :))

      Delete
  10. Menurutku ga tergantung usia kok mba. Krn aku percaya kalo jodoh itu udah aturannya yang Maha Kuasa :D. Aku dan suami , justru suami lebih muda. Cuma setahun sih, tapi dia malah lebih dewasa dari sisi pemikiran dan sikap, dari aku yang masih suka ngambek dan manja :D.

    Apa aku ngerasa dia jodohku dulu? Hmmm, yg pasti kami dulu 1 kantor. Ga kebayang dulu dia yg jadi suami sih :D. Tiba2 udah Deket aja. Dan sbnrny aku sedang pacaran dengan orang lain juga waktu itu, yg udah jauuuuh aku kenal lama. Malah kukira, jodohku itu. Tapiiii, setelah beberapa tahun, aku berubah pikiran, krn melihat pak suami lebih mapan dan dewasa,pendidikannya lebih tinggi dari aku, trus aku lihat sikap ke orangtuanya. Sangat perhatian dan lembut. Aku percaya, cowo yang memperlakukan orangtuanya dengan baik dan sopan, pasti lebih berpotensi jadi calon orang tua yg baik juga :)

    Sementara si cowo 1 nya, dari sisi pekerjaan walopun dpt proyek gede2, tp aku ga kepengin yg begitu. Aku kepengin pekerjaan yg teratur , bukan tergantung proyek, dan cowo yg juga mengutamakan pendidikan. Sementara dia ga masuk kriteria itu. Dari situ sih, aku lgs decide utk milih pak suami :D. Kalo nyaman mah, sbnrnya 2-2 nya nyaman utk dijadikan partner hidup. Tapi masalahnya kadar secure dari sisi financial, aku lebih melihat ada di pihak pak suami :)

    Mungkin beberapa orang bilang matre, buatku ga. Toh pekerjaanku sama dengan suami dulu. Gaji kita sama. Tapi dengan karakter dia yg aku anggab lebih family man, itu jadi pertimbangan utama.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waahh ini malah Mbak Fannya yang usianya lebih tua dari suami. Yes.. dulu pun aku sama koko satu kantor mbak. Tidak pernah terbayang bahwa dia yang kini jadi suamiku hhhaa.. Memang susahnya gitu sebagai wanita, berusaha untuk realistis eh malah di bilang matre. Padahal semua juga untuk jangka panjang, apalagi kalau sudah punya anak. Beberapa orang terdekatku juga bilang enak sih koko sudah mapan. Secara usia dia kan lebih tua dari aku, otomatis dari sisi pekerjaan tentu lebih baik dibanding teman-teman seangkatan. Ya.. bersyukur saja, toh tidak tahu juga kalau dia jodoh saya.

      Jadi yaa, mau seumuran, wanita yang lebih tua, atau pria yang lebih tua, semua tergantung kita yang menjalani ya mbak. Kalau jodoh tentu akan menemukan sesuatu yang "klik" hhhee...

      Delete

Halo, salam kenal!

Terimakasih ya atas kesediaannya untuk membaca tulisan ini. Boleh ditinggalkan komennya agar kita bisa berkomunikasi satu sama lain :)

Sampai berjumpa di tulisan-tulisan berikutnya.