Merdeka atas Diri Sendiri

 


Masih dalam rangka kemerdekaan Republik Indonesia, kali ini saya mau membahas "Merdeka atas Diri Sendiri." Sebetulnya kata merdeka identik dengan bebas. 

Menurut KBBI, Merdeka adalah bebas (dari penghambaan, penjajahan, dan sebagainya); tidak terkena atau lepas dari tuntutan; tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; leluasa.

Berhubungan juga dengan Film Tilik yang masih digemari, terkadang kita masih belum sepenuhnya merdeka atas diri sendiri. Masih terpengaruh dari omongan atau perilaku orang lain. Hal tersebut berlaku juga untuk diri saya sendiri. Saya menyadari bahwa sepenuhnya belum merdeka atas diri sendiri. Masih sering meghakimi diri sendiri dengan hal-hal negatif. Apakah sepenuhnya itu terjadi? Oh.. tentu tidak.

Sampai saat ini saya menulis, saya belum sepenuhnya lepas dari pikiran-pikiran menganggu. Sebut saja perihal berat badan. Memang berat badan saya saat ini jauh berbeda di banding tahun lalu. Masih nyangkut beberapa kilogram agar bisa kembali seperti semula. Saya selalu merasa menjadi berbeda dan tidak menyukai kondisi tersebut. Apakah saya di bully terkait berat badan yang naik? Jawabannya tidak! Koko selaku suami tidak mempermasalahkan terkait berat badan. Orangtua dan adik saya juga tidak mempermasalahan. Cuma memang saya dan adik sering merasa lebih gemuk, padahal orang-orang bilang kami lebih baik demikian. Kalau kurus kesannya kurang "fresh" dan cenderung seperti orang habis sakit. Apakah teman sekitar dan orang kantor mempermasalahkan berat badan saya? Jawabannya juga tidak! Kenapa hal yang sebetulnya tidak di permasalahkan orang lain cenderung saya permasalahkan sendiri.

Saya menyadari bahwa pikiran-pikiran membuat saya tidak bisa merdeka atas diri sendiri. Saya seperti menjajah diri saya sendiri. Saya cenderung mengikuti pola pikir dan perilaku orang lain. Padahal itu belum tentu tepat untuk diri sendiri. Merdeka atas diri sendiri juga masih terhambat karena komentar dari sekitar. Contohnya adalah saat pandemi seperti ini, banyak dari teman-teman ataupun kalian yang mulai mencari cara untuk menambah pemasukan. Tentu ini akan menjadi hal baru untuk keluar dari zona nyaman. Terkadang komentar orang lain menambah beban saat ingin memulainya. Mulai dari "ah.. mending laku."; "Mau jual ke siapa", dll. Komentar tersebut saya terima juga dari orang lain ketika ingin menjadi reseller. Sebetulnya menjadi reseller bukan suatu hal utama, karena bersyukur saya masih bekerja. Hanya saja, saya mau mengisi waktu sambil bekerja dari rumah. Jika pekerjaan sudah selesai, jujur suka bingung mau melakukan kegiatan apalagi. Bersih-bersih rumah memang jadi kerjaan wajib. Hanya saja saya tinggal di apartment otomatis bersih-bersih tidak terlalu luas. Keinginan tersebut juga timbul ketika menyadari bahwa saya bosan saat diam saja. Diam tanpa melakukan kegiatan produktif.

Di luar dugaan, rencana saya mendapat penolakan bahwa disaat belum mulai. Akhirnya saya menjadi mundur teratur dan belum berniat untuk mencobanya kembali. Saya menyadari bahwa saat ini belum merdeka atas diri sendiri. Masih ketergantungan dengan pendapat orang lain, yang sebetulnya belum tentu tepat. Terlepas dari itu semua, saya bersyukur sudah merdeka atas beberapa hal. Contohnya memutuskan melanjutkan kuliah S2 walaupun pada awalnya mama tidak setuju. Mama saya cenderung masih konservatif dan berpikir jika saya pintar nanti susah dapat jodoh (Saat itu belum punya pacar). Di luar dugaan, saya malah mendapat pacar dan sudah menjadi suami di saat saya kuliah S2.

Hal- hal sederhana yang di putuskan oleh diri sendiri dan untuk diri sendiri, tidak selamanya salah total. Perlu pertimbangan dan kesiapan untuk menerima konsekuensinya. Meminta nasehat dan bertanya kepada orang lain menjadi alternatif untuk memutuskan pilihan. Pilihannya adalah apakah saya mau untuk merdeka atas diri sendiri? Jika memutuskan untuk merdeka, siapkan diri menyongsong hal sulit. Tidak ada kata mudah untuk meraih sesuatu. Semua butuh proses dan usaha. Saya sadar sepenuhnya belum siap untuk proses dan usaha yang akan di lakukan. Makanya cenderung mundur teratur dan kalah sebelum perang.

Moment ini menjadi pengingat untuk saya mau merdeka atas diri sendiri. Sesederhana melakukan hal baru di luar kebiasaan. Saya yang penyuka warna nude dan menggunakan barang warna netral (hitam), mencoba membuat terobosan. Saya membeli tas berwarna biru muda. Baru kali ini saya lakukan dan mencobanya. Menunjukkan bahwa saya berani keluar dari zona nyaman dan merdeka atas diri sendiri. Mau di bilang tidak cocok karena itu "bukan saya banget", saya merasa karena orang tidak biasa melihatnya. Orang lain biasa melihat saya menggunakan tas hitam, kini malah berwarna biru muda. Berbeda tapi bukan berarti salah. Hanya belum biasa. Memang proses itu perlu di lalui dan saya pun mencoba berjalan diatasnya.

Lantas, bagaimana merdeka atas diri sendiri bagi kalian?



Cover: Canva, edit by Me






4 comments

  1. Soal isu berat badan itu benar banget πŸ˜‚ nggak pernah ada yang mempermasalahkan berat atau bentuk badanku kecuali aku sendiri. Makanya pola makan dan olahragaku selalu yoyo, alias nggak pernah teratur. Apalagi selama pandemi, feed sosmed tiba-tiba penuh dengan orang-orang yang rutin berolahraga. Alih-alih terinspirasi, aku malah merasa tersaingi dan minder. Suamiku pun bilang, "kamu diet itu karena kamu kurang motivasi. Sayang banget kalo kamu cuma pengen kurus. You have to start love your body first sebelum melakukan diet apapun." WAH BENER. Ternyata masalahnya memang aku belum menyayangi badan sendiri ):

    Tapi senang rasanya mendengar kamu bisa keluar dari comfort zone, mencoba untuk menuruti apa kata hati. Memang awalnya pasti penuh keraguan, ya. Tapi setelah prosesnya dijalani semuanya terlihat lebih baik ya (:

    Thank youu, Devina untuk tulisan ini. Mengingatkan aku pribadi untuk bisa merdeka atas diri sendiri ❤

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama banget ciiii, aku pun gitu olahraga antara iya dan tidak. Ngeliat orang-orang pada mulai olahraga malah merasa kesel sendiri karena aku tidak seperti mereka. Tapi pada dasarnya memang aku juga yang tidak mau menggerakkan badanku.

      Iyaa.. awal-awal jelas tidak nyaman karena merasa berbeda di banding sebelumnya. Tapi perlahan bersyukur karena sudah melewati prosesnya dan menerima hasil.

      Sama-sama ciiii, mari kita merdeka atas diri sendiri!

      Delete
  2. Berbeda bukan berarti salah - aku setuju banget sama pernyataan ini ci ❤️
    Seringnya karena mempunyai pendapat berbeda atau kesukaan yang berbeda, jadi minder dan nggak percaya diri padahal bukannya salah.
    Aku sendiri masih suka minder, kadang kalau pakai baju tertentu rasanya nggak pede, bukan gue banget, kelihatan ceking banget padahal bajunya nyaman dipakai dan aku suka, tapi karena orang lain komentar begitu, akhirnya nggak jarang, aku jadi ganti baju yang lain πŸ˜‚
    Nggak jarang juga, aku menjadi bodo amat dan tetap memakai apa yang aku suka. Nah, untuk konsisten seperti ini yang masih belum bisa, konsisten untuk bodo amat selama aku nyaman. Kadang masih suka terpengaruh ucapan orang lain πŸ˜‚

    Ahh, semoga kita kedepannya bisa lebih merdeka atas diri kita sendiri ya ci πŸ˜†πŸ˜

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bersikap masa bodo emang perlu di lakukan ya hhhaa. Agar tidak terfokus sama perkataan orang lain juga. Padahal yg pakai baju kita, merasa nyaman atau tidak juga kita yang rasakan. Kadang ngerasa kok malah bikin ribet hidup sendiri sih hhha.

      Iyaa.. semangaaat!!

      Delete

Halo, salam kenal!

Terimakasih ya atas kesediaannya untuk membaca tulisan ini. Boleh ditinggalkan komennya agar kita bisa berkomunikasi satu sama lain :)

Sampai berjumpa di tulisan-tulisan berikutnya.