Cerita antara Saya dan Dia


Cerita antara Saya dan Dia


Hari ini terusik sama perkataan Si Koko kalau dia happy ngeliat saya juga bahagia. Apa benar setelah menikah, prioritas kebahagiaan pribadi malah berubah? Selain itu, perilaku dan sikap juga berubah menyesuaikan dengan pasangan? Ternyata kehidupan setelah menikah itu sungguh unik dan lucu. Hari ini jadwal Koko WFO dan saya WFH. Sore tadi saya sedang nonton film saat dia tiba dari kantor. Lantas dia berkomentar bahwa saya asik sekali sedang menonton. Sontak saya merasa tidak enak karena dia lelah pulang kerja dan saya sedang leha-leha nonton film.  Saya pun meminta maaf dan dia mengatakan tidak apa-apa karena happy karena saya juga happy.

#Loh...

Lantas saya bertanya apa yang membuat dia bahagia? Jawabannya adalah melihat saya bahagia #kokgitu. Saya langsung balas tanya dan mengatakan bahwa berharap dia menjawab hal yang berhubungan dengan dirinya. Namun, dia membalas dengan mengatakan bahagia kalau saya juga bahagia. Bagi dia semua cukup istimewa dan membuatnya bahagia. Perkataan itu di katakan lebih dari dua kali, jadi sepertinya memang itulah jawabannya. Hari ini dia cerita bahwa istri teman kantornya ada yang baru melahirkan. Dia bicara kabar itu dengan hati-hati, takut saya terusik dan sedih kembali. Sebetulnya ketika mendengar ada orang yang habis melahirkan, saya merasa terusik dan tidak nyaman. Saya pun bertanya apa dia iri dengan hidup temannya tersebut? Sebab, seharusnya saat ini kami pun bermain dengan Alm. Baby E. Dia menjawab tidak iri dan tidak perlu juga demikian. Bagi dia punya anak memang membuat hidup lebih istimewa, namun sekarang pun sudah istimewa. Bagi saya itu seperti kalimat hiburan agar saya tidak terlalu kepikiran. Namun, tetap mengusik diri saya.

Saya pun teringat tulisan Mba Eno yang memberikan headset kepada Si Kesayangan. Kebetulan kemarin saya dan teman-teman baru merencanakan untuk tukeran kado menjelang natal dan tahun baru. Saya pun bertanya kepada Koko, mau kado apa untuk akhir tahun. Iyaa.. saya lebih baik bertanya daripada sok ide ngasih sesuatu yang bisa saja tidak berguna untuknya. Mending to the point saja dan jelas tanpa perlu basa basi. Dia pun menjawab tidak butuh apa-apa dan tidak perlu kado apapun. Entah kenapa ingin memberikan sesuatu untuk dirinya, sebagai apresiasi bahwa dia bisa survive melewati tahun ini. Namun, memang belum kepikiran karena saat ini dia tseperti tidak ingin apapun. Dia lagi fokus sama ikan cupangnya, namun apa perlu membeli aquariumnya lagi? Atau perlengkapan untuk ikan cupang?

Saya merasa dua tahun lebih pernikahan kami jauh dari kata ribut dan cekcok. Bersyukur bahwa kami bisa beradaptasi dan saling mendukung satu sama lain. Perubahan jelas ada dan penyesuaian juga terjadi pada kami berdua. Contohnya, minggu lalu dia makan bagelan (roti kering) dan ternyata serbuk roti jatuh ke lantai. Lantas dia teriak dan bilang maaf karena makan berantakan. Dia bilang akan segera membereskan setelah selesai makan. Saya pun bertanya kenapa dia minta maaf. Jawabannya membuat saya ketawa dan geleng-geleng kepala. Saya memang tidak suka berantakan. Jadi dia takut saya marah karena makan berantakan. Soalnya jika ada serbuk makanan jatuh, risiko timbul kerumuman semut yang tidak saya sukai. Awal kehidupan pernikahan kami, dia termasuk yang tidak peduli apakah makanan ada yang jatuh ke lantai atau tidak. Lama kelamaan dia bisa menyesuaikan dengan harapan saya agar bisa makan nyaris bersih dan rapih. Jujur saya terharu bahwa dirinya bisa menyesuaikan, bahkan meminta maaf karena takut saya marah. Padahal saya tidak bakalan marah, paling ngoceh-ngoceh saja sambil membereskannya 🀣 Ngoceh-ngoceh itu bukan berarti selalu marah kan 😝

Bahkan ada hal lucu yang saya alami. Jika dulu kita masih menggunakan cincin pernikahan, sekarang kami berdua sama sekali sudah tidak menggunakannya. Dulu saya melepasnya karena hamil dan takut cincin tidak bisa di lepas akibat jari semakin besar. Lantas dia ikutan melepasnya, katanya mau temenin saya tidak pakai cincin. Lalu hingga sekarang kami sudah tidak menggunakannya lagi. Kebetulan bulan lalu ada karyawan baru di kantor saya. Karena tidak menggunakan cincin dan menurutnya masih muda, beliau kaget ketika tahu saya sudah menikah πŸ˜‚ Langsung kepikiran apa perlu pakai cincin nikah lagi? Biar tidak disangka masih ABG hhhaa...

Menjelang akhir tahun mensyukuri melewati hari demi hari bersama dirinya. Seperti saat ini, saya sedang menulis dan dia duduk di sebelah saya sambil menonton film. Terdengar suara dialog antar tokoh dan bunyi keyboard laptop. Tanpa ada percakapan apapun dari mulut kami. Namun, tetap terasa nyaman dan menyenangkan. Ketika menemukan tempat yang tepat, tentu akan selalu betah berada di dalamnya. Ya.. pasangan sebelah saya ini menjadi tempat yang tepat. Saya pun bersyukur menemukannya di waktu yang tepat juga. Lantas, apakah cerita kalian dan pasangan? πŸ˜†


Cover: Canva

Devina Genesia


20 comments

  1. waah menarik sekali yaa mbak, aku membaca tulisan orang-orang yg udah menikah, gimana yang dilakukan antara suami ke istri dan sebagainya.. Jadi ada hal-hal yg bisa aku ambil nih dari tulisan mbaknya. Nice sharing mbak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Mas Dodo udah mau baca tulisan yang berisi curhatan ini πŸ˜† Makasih sudah bisa mengambil hal bermanfaat dari tulisan ini hhee..

      Delete
  2. Jomblo semacam aku baca ini auto baper hehee πŸ˜πŸ’•

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aduhhh... jangan donx Kak..πŸ™ˆ sabar, jodoh akan tiba di waktu tepat. Semangat kaak dalam menjalani keseharian hingga bertemu jodohnyaa 😁

      Delete
  3. Bagi yg udah nemuin soulmate nya, perasaan nyaman saat ada di Deket dia, even hanya duduk berdua tanpa ngomong apa2, itu pasti berasa banget ya mba. Beda kalo kita ga ngerasa segitu sayangnya Ama dia. Boro2 deketan, sebisa mungkin klo bisa ga usah deket2, ga perlu liat mukanya malah.

    Aku dan suami beda bgt dari segi sikap dan kebiasaan. Tp aku bisa Nerima itu semua, walo kdg kami ribut gara2 hal sama. Tapi ga lama, palingan mudian baekan lagi :). Biar gimana, aku ga bisa jg disuruh jauh2 dari dia.

    Kalo buatku, perbedaan2 itu malah jd pelengkap sih, bukannya jurang pemisah :). Suka heran Ama artis2 yg hobi banget milih cerai dengan alasan ga cocok lagi, itu bener Krn itu?? Memang mau berharap gimana, sama persis sifat, sikap, tingkah laku, hobi dan kebiasaan Ama pasangan, supaya bisa cocok selamanya ??

    Toh saling beda, tapi bisa menerima satu sama lain, bukannya lama2 jd bisa ngerasa nyaman yaaa.. dan buatku itu yg terpenting sih. Aku nyaman..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aduh amit-amit jangan sampai kita mengalami hal seperti itu yaa Mba. Emang terkadang perbedaan pasti ada, namanya dua orang berbeda tinggal satu atap. Mau bagaimana lagi sedikit pasti ada yang ga sesuai kemauan kita. Cuma yaa emang kudu di omongin aja yaa mba.

      Sweet banget Mba Fanny dan suami, jangan sampai jauhannya kelamaan mba, ntar malah galau #eh 🀣

      Yes.. terpenting itu nyaman, setuju Mba...

      Delete
  4. so sweet aku bacanya dan hampir berkaca-kaca lho mbak, duhh baper kali ya pas baca
    beruntung mbak devina punya koko seperti koko mba devina, seiring waktu setelah kehidupan pernikahan jadi belajar menyesuaikan diri satu sama lain, bahkan hal hal kecil kayak bilang maaf karena bikin lantai kotor aja udah uhhh sweet banget menurutku

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya ampun, Mba Ainunn... makasihhh yaaa. Betul perlu saling menyesuaikan dan tentunya akan terjadi seiring waktu.

      Mungkin karena takut aku ngomel-ngomel atau nyuruh dia bersihin, jadi lebih baik dia ngaku dosa dulu 🀣

      Delete
  5. Lucky you mba ketemu pasangan yang bisa saling menerima dan memahami satu sama lainnya. Even berubah jadi lebih baik tanpa ada paksaan 😍

    Menurut saya pun sama, tempat yang tepat yang acapkali disebut rumah itu sebetulnya bukan bangunan melainkan pasangan. Macam quote di luar sana, home is where he is, eaaaakh 🀣 Buat saya, pasangan adalah tempat ternyaman dan paling tepat. Meski kadang buat KZL, tapi kalau nggak ada dia, hidup rasanya flat 😜

    Langgeng terus yah mba sama pasangan πŸ˜πŸ’•

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dudududu... home is where he is, duhh jleb! hhhaa..

      Macem kaya iklan sesuatu tuhh kalau nggah ada dia, hidup rasanya flat hhha..

      Iyaa, mba terkadang dengan siapa kita bersama lebih penting daripada di mana kita bersama.

      You too yaa mba, langgeng terus sama Si Kesayangan 😁

      Delete
  6. Semoga langgeng dan bahagia selalu Ci Devina dan koko πŸ₯° dan semoga cintanya selalu menggebu-gebu πŸ’•

    Aku bahkan turut senang membaca bagian koko bisa berubah kebiasaan menjadi lebih baik setelah kalian menikah 😍 semoga kedepannya bisa seperti ini terus. So sweet sekali kalian ini πŸ₯ΊπŸ₯°

    Mungkin Cici bisa beliin ikan cupang sebagai hadiah ulangtahun untuk koko 🀭 walaupun udah punya banyak ikan, pemberian dari Cici pasti akan terasa spesial.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin, makasih doanya yaa Lia.. Semoga Lia dan Partner juga langgeng terus yaaa 😊

      Iyaa, lama-lama dia bisa menyesuaikan dan aku pun bisa menyesuaikan dengan dirinyaa.. Aku kepikiran juga mau beli sesuatu yang berhubungan dengan ikan cupang, kecuali ikannya. Sebab aku ga ngerti karena ikan cupang banyak macem dan warnanya. Maybe peralatannya aja kali yaa, cuma masih mempertimbangkan untuk kasih kado lain di luar ikan cupang. Ya mari kita lihat saja nanti hasilnya gimana hhha..

      Delete
  7. #Senyum ... Ikut senang membacanya Dev, ikut hangat juga membaca jawaban Koko-mu.

    Boleh saya jawab pertanyaan pertama soal prioritas kebahagiaan? Saya jawab, saya juga begitu. Pandangan saya berubah sekali tentang apa itu bahagia dan menjadi bahagia.

    Sejak menikah sampai sekarang, hal yang sama juga sering diucapkan oleh istri saya, seperti kalau dia membeli kosmetik agak mahal.. Karena dia IRT saja dan tidak mendapat penghasilan sendiri, ia sering minta maaf dan merasa bersalah sudah menghabiskan uang yang susah payah saya cari..

    Tetapi, jawaban saya, kurang lebih mirip, "Saya cari uang buat kamu. Biar kamu bisa hidup nyaman dan senang". Saya pingin kamu bahagia.

    Secapek-capeknya saya bekerja, tidak akan saya marah kalau melihat istri sedang bersantai di rumah. Bukankah itu memang tujuan saya bekerja, agar istri saya bisa menikmatinya.

    Kalau ia berbahagia, saya akan merasa senang. Kalau dia sedih dan tidak menikmati, saya bingung.

    Saya paham sekali dengan jawaban si Koko karena saya pun berpikir dengan pola yang sama. Saya akan berubah dan menyesuaikan demi tuan putri saya... Dan itu saya lakukan sampai sekarang, setelah hampir 20 tahun.

    Ya Dev, pria berubah setelah menikah. Prioritas kami berubah juga. Begitu juga dengan kebahagiaan yang kami kejar.

    Cincin nikah, sepanjang perkawinan saya, saya tidak pernah memakai cincin nikah. Rasanya sih tidak perlu cincin untuk "mengikat"... hahaha.. itu hanya benda saja... cuma simbol saja, hati Dev dan Koko rasanya tidak perlu itu...

    Dengan atau tanpa suara, bukan sebuah masalah ketika rasa itu hadir dan mengikat Dev.

    Jadi itu jawaban saya yah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mas Anton... sungguh saya bingung mau berkomentar apaaa...

      Aku merasakan apa yang istri mas rasakan. Kadang membeli sesuatu dengan uang dia, aku juga ngerasa bersalah. Padahal aku punya gaji sendiri, tapi terkadang dia bilang kalau mau beli sesuatu jangan pake gaji aku.

      Ternyata memang pria berubah seiring berubahnya peran mereka yaa. Prioritas kalian ternyata bukan semata-mata untuk diri sendiri saja yaa. Mas, makasihhh atas kisahnya dengan istri.. Ga kebayang betapa kalian berdua bisa melewati setiap masa hingga mencapai hampir 20 tahun. Kereen luar biasaaa...

      Iyaa, memang cincin cuma sekedar simbol dan bukan tolak ukur yang utama ya Mas. Makasih yaa Mas Anton atas jawabnnyaaa, aku bisa paham sekarang kenapa suami aku begitu. Makasih yaa Mas.

      Delete
  8. Kok jadi auto baper ya bacanya hahaha.

    Btw, saya juga nggak pake cincin kawin dong, awalnya juga sama, karena pas hamil dulu, jari saya membesar dan cincinnya nyaris nggak bisa dibuka.

    terus setelah lahiran, keterusan nggak pake cincin, saya kurang suka pakai perhiasan juga kayaknya :D

    Senangnya ya, kalau kita bisa menemukan pasangan yang sejati dan sehati 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa Mba, aku pun sekarang udah ga pernah pakai lagi hhha.. Rasanya kebiasaan ga pakai perhiasan ketika pake jadi ngerasa ga nyaman.
      Btw, makasih yaa Mba Rey 😁

      Delete
  9. Manis sekali kak Devina. Saya jadi ingat salah satu dialog NKCTHI,"bahagia itu tanggung jawab masing-masing". Awalnya, saya merasa jawaban Koko adalah antitesis dari dialog itu. Tapi setelah berpikir kembali, ternyata bahagia yang Koko rasakan adalah tanggung jawabnya sendiri. Bukan atas dasar usaha kak Devina. Terimakasih atas tulisannya kak Devina. Jadi banyak belajar 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duh.. aku jadi pengen nonton NKCTHI, waktu itu mau nonton tapi batal. Makasih Mas Rahul atas simpulannya. Makasih juga sudah belajar dari tulisan aku, bukan sekedar baca curcol belaka hhhe..

      Delete
  10. Ikutan senang dengan jawaban Koko mbak Devina. Kebahagiaan pasangan memang juga kebahagiaan kita, jika istri saya bahagia maka sayapun ikut senang.

    Memang betul sih, kalo istri ngoceh-ngoceh itu bukan berarti selalu marah. Bisa saja ngoceh agar rapi tapi bukan berarti ngambek ya.πŸ˜ƒ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah.. makasih Mas Agus atas jawabnya. Ternyata para pria setelah menikah memang berubah prioritasnya yaa.. Iyaa, kadang ngoceh biar rapih. Sebab kalau rapih kan enak di lihat. Ga selalu berarti ngambek lohhh, emang kadang wanita susah di mengerti hhaa..

      Delete

Halo, salam kenal!

Terimakasih ya atas kesediaannya untuk membaca tulisan ini. Boleh ditinggalkan komennya agar kita bisa berkomunikasi satu sama lain :)

Sampai berjumpa di tulisan-tulisan berikutnya.