What Should I Do?

 

What Should I Do


Seharusnya tahun 2021 menjadi awal mulai untuk mengembangkan dan memperbaiki diri. Jika kata terlambat terlalu saklek untuk di terapkan, tentu tidak ada kata mau mencoba yang perlu di lakukan. Berkaca dari tahun kemarin yang masih "hangat" dalam ingatan, tentu berharap tahun ini akan memberikan perubahan positif dalam diri. Namun, tahun lalu membuat saya mempelajari hal-hal baru yang ternyata berhubungan  untuk diri di masa depan. Seperti yang sudah berkali-kali saya tuliskan bahwa tahun 2020 menjadi satu tahun yang penuh dengan dukacita. Kehidupan saya relatif kelam dan jauh dari kata mengembangkan diri. Awal tahun kehilangan anak dan akhir tahun suami terpapar Covid 19. Bertubi-tubi pelajaran yang membuat saya terus menghela nafas dan nyaris menyerah. Sudah tidak terhitung berlama lama menangis dan bagaimana rupa saya saat itu. Sampai titik dimana saya bingung "What should i do?" Kala itu berusaha untuk berdiri sendiri dengan tegar dan menolak bantuan orang lain. Menyendiri dan berusaha untuk meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja. Di satu sisi bersyukur memiliki sisi introvert yang membuat saya bisa merenung dan mencari jawaban dari ini semua. Namun, saya melupakan bahwa kesendirian menyebabkan saya kesepian dan membuat pikiran berkelana ke arah negatif. Puncaknya tentu menyakiti diri sendiri secara fisik. Berat badan yang turun, nafsu makan menurun, mengalami gangguan pencernaan, hingga gangguan fisik yang timbul karena beban pikiran.

Lantas sudah tahun baru masih mau begitu saja? Ternyata hingga hari ke-29 di tahun 2021, saya tetap begitu saja. Belum merubah apapun dalam diri sendiri. Sejak masih sekolah, saya termasuk anak penakut dan pencemas. Kecemasan ini cukup berlebihan dan terkadang menganggu diri sendiri. Saya sudah melakukan pemeriksaan kepada psikolog dan memang saya termasuk orang yang memiliki kadar kecemasan tinggi. Bersyukurnya saya hanya perlu melakukan terapi berupa menuliskan hal-hal yang membuat saya cemas. Selain itu melatih pernafasan agar saya tenang dan menghilangkan pikiran yang menganggu. Saya pun mencoba melakukan yoga untuk membuat diri ini lebih rileks. Bersyukur, kegiatan yoga memberikan efek positif pada diri saya. Saya bisa tidur lebih cepat tanpa harus memutar skenario yang ada di kepala.

Mengenai penakut, saya cenderung takut untuk mencoba hal baru. Sesederhana mencoba menu makanan baru saja bisa di bilang tidak mau. Takut tidak enak, keliatannya tidak menarik, dll. Intinya takut.. takut.. dan takut.. Sampai suami selalu bilang saya itu penakut dan ribet. Iyaa.. saya juga termasuk anak yang ribet. Urusan pekerjaan saja saya mau semua serba sesuai standar saya. Rapih tapi ribet. Terkadang saya menyiksa diri sendiri untuk memperbaiki hal remeh temeh yang menggangu diri saya. Padahal jika tidak di ubah pun tidak menjadi pengganggu yang berlebihan. Contohnya membuat daftar hadir untuk acara. Ukuran kolom dan baris bisa saya sesuaikan agar semua seragam. Jika terdapat kolom nama, no Hp, dan tanda tangan, ketiga kolom tersebut perlu berukuran sama atau nyaris sama. Biasanya kolom nama memiliki ukuran lebih besar. Semua saya atur dan harus pas ukurannya. Misalnya 20 inchi atau 30 inchi. Terkadang dari excel bisa di lakukan perubahan ukuran dengan drag bagian kolom yang akan di ubah ukuran. Namun, ukurannya jadi bisa berbeda-beda seperti 20,53 inchi atau 30,47 inchi. Tidak seragam dan terkadang membuat saya terganggu.

Sampai satu titik saya merasa lelah dengan itu semua. Lelah karena saya terlalu penakut dan pencemas. Lelah karena selalu mau sesuai standar saya sendiri, padahal tidak semua orang bisa sesuai dengan kemauan ini. Lelah jika harus selalu mengerjakan sendiri, karena tidak percaya pada hasil karya orang lain. Masa pemulihan dukacita kemarin, saya sadar bahwa ada hal-hal di luar kuasa saya sebagai manusia. Ada hal-hal yang bisa terjadi tanpa sesuai dengan standar dan rencana saya. Saya menyadari bahwa ada hal-hal yang harus saya terima tanpa harus selalu di pertanyakan. Saya belajar bahwa ada hal-hal yang terjadi karena memang seharusnya terjadi. Sebab, ada istilah hal yang terjadi sesuai kebutuhan dan kemampuan, bukan kemauan kita.

Di titik terendah, saya merasa ingin mengubah hal-hal negatif yang mempengaruhi diri sendiri. Hal-hal negatif yang menjadi puncak gunung es dan siap meledak kapan saja. Berusaha untuk berbicara dengan diri sendiri dan mencapai titik terendah. Berusaha untuk memeluk diri sendiri dan mengatakan "tidak apa-apa." Sebab saya merasa lelah jika terus berlari dalam ketidakpastian. Berlalu untuk menghindari rasa takut dan cemas. Berlari untuk menutupi bahwa ada hal buruk di belakang sana yang tidak mau saya lihat dan hadapi. Sampai akhirnya saya membaca postingan CR Challenge #1 dari Mba Eno. Satu kesempatan untuk membuat saya menulis dua hal yang mau dikembangkan dalam hidup saya. Seperti yang sering disebutkan, bahwa jalan hidup kita akan berbeda dari orang lain. Di momen ini saya ingin menyakinkan diri bahwa tentu saya tidak sama dengan orang lain, semisal mama atau adik. Momen saya menjadi seorang ibu akan berbeda dengan mama dan perempuan lainnya. Saya tidak bisa selalu menganggap bahwa diri ini berada di bawah bayang-bayang mama, mama mertua, saudara ipar perempuan, dan perempuan-perempuan lain yang menjadi ibu. Hal pertama yang akan saya kembangkan adalah mengenal "Inner Child." Saya mau menyapa diri saya di masa kecil yang mungkin mengalami luka dan terasingkan. Diri saya di masa kecil yang terlalu penakut, pencemas, dan pemalu. Diri saya di masa kecil yang selalu rendah diri. Akhirnya membuat saya kurang percaya diri atas kemampuan yang ada. Saya mau menyapa diri saya yang mungkin ada rasa kecewa dengan orang dewasa. Hingga membuat saya menjadi penakut, bila saya sudah dewasa bisa melakukan hal seperti itu. 

Saya berusaha untuk menyapa satu per satu dan mengatakan bahwa tidak apa-apa, sebab masa kini dan masa depan bisa untuk di perbaiki. Tahun lalu saya mengikuti kelas melalui zoom yang membahas mengenai Inner Child. Saya pernah mendengar orang mengatakan bahwa saya bisa trauma untuk kembali punya anak, karena anak saya meninggal. Jelas kata trauma bisa memberikan sugesti negatif untuk diri saya. Sama halnya seperti mama saya dulu melarang untuk membawa mobil kembali karena pernah menyenggol spion mobil orang lain. Lantas papa saya mengatakan saya trauma untuk menyetir. Akhirnya hingga saat ini saya beneran belum lancar nyetir mobil. Kondisi tersebut pernah saya bahas bersama Koko dan sangat disayangkan bahwa orangtua termasuk tipe yang penakut dan pencemas. Mereka seperti takut dan cemas jika segala sesuatu tidak berjalan dengan semestinya. Makanya saya pernah bilang pada diri sendiri, bahwa jika saya menjadi seorang ibu, maka saya tidak mau seperti mama. Karena saya sadar, mama saya yang penakut dan pencemas, membuat saya dan adik sulit untuk berkembang. Saat pembahasan mengenai "Inner Child", Psikolog yang membawakan materi mengatakan bahwa masa kecil kita bisa terluka karena perbuatan tidak sadar orangtua. Mungkin maksudnya orangtua saya baik agar tidak terjadi kejadian serupa. Namun, di lain sisi membuat diri saya tidak berani untuk memperbaiki kesalahan karena mendapatkan rasa tidak percaya dari orang lain, terkhusus orangtua.

Akhirnya di tahun lalu saya mencoba untuk mengambil jarak sebentar dari orangtua, terkhusus mama. Sebab sejak tahun lalu, saya sudah menjadi mama yang memiliki satu orang putri. Walaupun kini anak saya sudah meninggal, tidak bisa menghilangkan status baru yang saya miliki. Kini, tahun baru yang menjadi harapan baru juga untuk saya dan suami. Baru 29 hari di tahun 2021, namun saya pernah mengatakan kepada suami bahwa saya belum siap kembali punya anak. Bukan karena trauma, namun saya sadar ada hal-hal dari inner child yang perlu di perbaiki. Saya tetap ingin memiliki anak. Namun,  ada hal-hal yang perlu saya selesaikan agar tidak menjadi luka batin nantinya. Terutama adalah bagaimana cara pandang saya terhadap orangtua, sebab saya tidak mau menjadi orangtua seperti orangtua saya. Terkhusus hal-hal yang selalu mereka cemaskan dan takutkan, padahal semua itu belum terjadi. Tanpa disadari semua ketakutan dan kecemasan itu berimbas pada perkembangan saya pribadi sebagai manusia. Ternyata menjadi orangtua itu sulit. Di lain sisi, saya menyadari bahwa usia suami sudah tidak muda. Tentu faktor kesehatan bisa mempengaruhi dalam hal keinginan kami nantinya untuk memiliki anak. Disini saya merasa kecemasan saya kembali meningkat. Hingga akhirnya saya berusaha untuk "let go" itu semua dan kembali menyerahkan pada Tuhan. Jika memang dirasa kami berdua sudah siap, maka tentu akan mendapatkan berkat tersebut, yakni memiliki anak. Walaupun di saat itu saya merasa belum siap, jika Tuhan berkehendak dan percaya pada kami, tentu Tuhan akan menganugerahkannya. Saya hanya perlu percaya pada rencana-Nya dalam hidup ini. Tentu dibarengi dengan usaha dan doa.

Hal kedua yang mau saya kembangkan adalah self acceptance. Saya kuliah psikologi dan bersyukur ilmu yang di dapatkan membantu dalam proses self healing akibat dukacita. Sebentar lagi satu tahun sejak Baby E lahir dan Baby E meninggal, perlahan keadaan menjadi lebih baik. Saya mau belajar untuk menerima diri sendiri dan percaya bahwa diri ini mampu. Jika flashback tahun lalu, keberadaan saya saat ini tentu membuat diri ini bangga. Saya mampu berpijak di atas kaki sendiri dengan kuat. Perlahan kaki saya bisa kuat menopang diri yang sempat terpuruk. Perlahan saya menemukan hal yang disukai, yaitu menulis. Perlahan saya menemukan wadah untuk berbagi mengenai keresahan dan kebahagian. Perlahan saya menemukan jawaban dari tulisan dan cerita teman-teman blogger atas struggling yang sedang dihadapi.  Saya berusaha untuk menerima diri dan berbahagia atas apa yang sudah terjadi selama hidup ini. Jika dulu di penuhi dengan segala kecemasan dan ketakutan, semoga setelah menyapa inner child dan memperbaiki, perlahan saya bisa menerima bahwa inner child dan saya adalah satu kesatuan. Kami bersama dalam satu tubuh. Sudah sepantasnya kami salah menyapa dan mengkomunikasikan hal-hal yang menganggu. Akhirnya gunung es tersebut perlahan bisa mencair dan mengenangi sekitar. Bukan meledak dan bisa menjadi bumerang yang berbahaya. Sejauh ini berdasarkan teori mengatakan bahwa penting untuk menerima diri sendiri. Saya pun ingin mencobanya. Bersyukur atas hidup saya dan tidak perlu untuk merisaukan hal-hal yang tidak terlalu jelas. Mencoba mengurangi rasa takut dan cemas, serta berdamai untuk mencoba hal baru. Jika ternyata memberikan efek kurang baik, ya tidak apa-apa. Setidaknya saya telah mencoba dan memanfaatkan waktu semaksimal mungkin di dunia ini. Saya mencoba untuk mengambil kesempatan hidup yang ada dan mengisinya dengan hal berguna. Hingga nantinya saya akan meninggal, tentu semakin berkurang  penyesalan yang ada akibat tidak pernah mencoba melakukan sesuatu. Semoga semua bisa teratasi perlahan. Semoga saya bisa berdamai dengan rumitnya kehidupan ini. Semoga semua menjadi lebih baik. 

Wah.. tanpa sadar sudah menuliskan panjang lebar. Tulisan pertama saya yang cukup panjang dan menjadi saksi bisu harapan saya untuk mengembangkan diri. Semoga jika nantinya kembali membaca tulisan ini, sudah ada perubahan yang terjadi dalam hidup saya 😊



Devina Genesia


14 comments

  1. Devvvv 😭 aku boleh peluk virtual dulu yaaa *peluk eratttt*

    Aku nggak pernah mungkin bisa meletakkan kaki di posisi yang sama seperti kamu, namun aku bisa merasakan (sedikit) struggle yang kamu lewati. Tapi bisa membaca tulisan kamu sekarang ini udah cukup membuktikan kamu KUAT dan mampu melewati "badai" itu semua. Dan aku juga turut senang kalau kamu bisa mengambil keputusan seperti pergi ke psikolog untuk terapi (padahal kamu sendiri belajar psikolog tapi kamu nggak sungkan untuk tetap datang pada profesional *salut!*) dan berdamai dengan masa lalu. Semua nggak mudah, I can't imagine how you went through all of it. Aku cuma mau bilang apa pun yang terjadi, tetap percaya dan berserah sama Tuhan kalau Dia yang punya rencana terbaik yaa.

    Tulisan yang hangat dan secara nggak langsung membuatku ikut merenung juga, Dev. Makasih banyak yaa dan semangaaaat! πŸ€—❤

    ReplyDelete
    Replies
    1. πŸ€—πŸ€—πŸ€—

      Amin.. Aku pun berusaha untuk percaya bahwa ada hal terbaik nantinya yang akan hadir hhhe. Makasih Ci atas supportnya yaa. Semoga yang terbaik juga untuk cici dan keluarga. Makasih sudah mau baca tulisan ini sampai habis 🀣

      Delete
  2. Hola mba Devina 😁

    Membaca tulisan mba, saya jadi ikut merenung, especially pada bagian saya ini ribet dan banyak maunya πŸ™ˆ Plus termasuk picky pula huhuhu. Dan saya bisa relate soal membuat kolom di EXCEL mbaaaa, seriously, saya pun begitu, too much banget memang, tapi susah untuk dihilangkan πŸ˜†

    On a serious note, I know, it must be hard untuk mba menjalani hari-hari mba setelah begitu banyak cobaan yang mba hadapi ditahun sebelumnya. Dan mungkin cara yang mba ambil bisa membantu mba pulih, so yeah, apapun itu, semoga mba bisa kembali memeluk diri mba sepenuhnya. Dan bisa menerima apapun yang ada dalam diri mba, you are good, you are strong, mba 😍

    Semangat, as always, mba Devina πŸ₯³πŸŽ‰

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yaaa kaan Mba, gemees bangeett. Kadang ngeliat orang bisa sebegitu cueknya tentang printilan begitu, aku iri. Kok dia bisa begitu tapi kenapa aku ga. Lama-lama capek dan ngerasa nyusahin aja, tapi kalau ga di rapihin kan sebel ngeliatnya jadi ga rapih. Emang kadang hobinya nyusahin diri sendiri aja hhha.

      Amin.. makasih yaa Mba atas supportnyaa 😁

      Delete
  3. Ci Dev, nggak apa, pelan-pelan prosesnya, aku dukung Cici untuk bisa berdamai dan lebih menerima diri sendiri. Aku yakin Ci Dev bisa melewati ini semua, apalagi didukung oleh Koko yang kelihatan banget selalu mendukung Cici atas apa yang Cici lakukan 😁. How lucky you are, Ci! Jangan menyerah yaaaa. Semangat! πŸ€—
    Thank you for sharing, Ci Dev ❤️

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasihh Lia atas supportnya yaaa. Yaa aku pun bersyukur punya partner yang sangat kooperatif hhhe. Makasih yaa Li πŸ€—

      Delete
  4. Semangat terus ya Mbaaa πŸ’–πŸ’– Mba Devi kuat, dg semua yg udah dilalui, Mba tetap bertahan dan aku yakin akan bisa melalui tahun ini dg lbh baik..
    Semoga jg harapannya Mba buat lbh bs menggendalikan inner child dan lbh bs untuk self acceptance. Dan semoga setelah itu di saat yg tepat adik baby K akan ada buat menemani mba dan koko πŸ’–πŸ’–πŸ’–

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin.. Makasih yaa Mba Thessa atas supportnya yaa 😁

      Delete
  5. Mba Dev,

    Aku yakiiiin banget kamu bisa dan kuat menghadapi segala macam cobaan yang lalu. Terbukti dari tulisan ini, di mana ada kemauan keras dari diri mba utk bisa berubah :).

    Isi tulisannya motivasi banget untuk orang-orang yang mungkin punya masalah sama. Semoga tahun ini, apa yang ingin dicapai, tentang inner child dan self acceptance bisa berjalan baik dan mba bisa menghilangkan trauma dan rasa takut mba :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin.. Makasih yaa Mba atas supportnya hheee. Iyaa, semoga perlahan satu per satu bisa aku wujudkan hhee.

      Delete
  6. Hai mbak Dev, pas mampir ke sini aku baru diingatkan lagi pas pertama kali berkunjung. Aku nemu post mbak dari bloggerperempuan lalu stumbled di post tentang belajar menerima kehilangan baby E. Ternyata sudah hampir setahun aja sejak aku mampir ke sini. Dan sekarang kita "nyemplung" di blognya mbak Eno! πŸ˜†

    Huhu, saya juga penakut dan pencemas. hanya mau mencoba yang familier. Mungkin tahun kemarin saya terlalu mematok pada "pencapaian" orang lain, jadinya selalu nggak menerima diri sendiri dan menganggap diri senantiasa merasa kurang. Padahal saya bisa jadi maju juga, tapi dengan cara melangkah yang berbeda, dengan kecepatan yang berbeda. Toh hidup bukan soal balapan.

    Semua yang mbak tulis di sini, sekali pun ditulis bahwa mbak penakut dan pencemas, sudah merupakan langkah maju. you're one step forward better, dan semoga dilancarkan selalu jalannya menuju ke sana, bersama-sama Koko tentunya. Sehat-sehat selalu ya mbak, semoga hanya kebaikan yang selalu ada di depan πŸ€—



    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Eno yang mempertemukan kita kembali yaa Mba hhhe..

      Amin.. Makasih yaa Mba Mega atas supportnyaa 😁

      Delete
  7. sent virtual hug buat mba devina
    aku yakin mba devina bisa mengatasi rasa takut atau cemas yang masih muncul dalam diri mbak devina dan semoga perlahan bisa memudar ya. supaya menjalani hari hari lebih ringan jadinya

    perasaan cemas akan hal yang belum dilakukan juga pernah aku alami mbak, bisa dibilang mungkin kadarnya "sering". perlahan lahan aku mencoba untuk belajar menyingkirkan perasaan seperti itu. meskipun kadang juga masih muncul

    aku yakin mba devina bisa, ciayoooo

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Ainun, makasih atas supportnyaaa yaaa. Iyaaa, perlahan aku belajar untuk bisa mengatasi kecemasan yang ada. Biar bisa menjalani hari-hari dengan lebih nyaman hhhee.

      Delete

Halo, salam kenal!

Terimakasih ya atas kesediaannya untuk membaca tulisan ini. Boleh ditinggalkan komennya agar kita bisa berkomunikasi satu sama lain :)

Sampai berjumpa di tulisan-tulisan berikutnya.