How Are You?

 

How are you - Devina Genesia


Halo aloha... Hampir dua minggu meninggalkan tempat ini, kali ini kembali lagi. Semoga tempat ini masih nyaman dan tidak "berdebu" πŸ˜† Apa kabar teman-teman? Saya dalam kondisi baik dan sehat, semoga teman-teman juga begitu ya πŸ™ Tentunya banyak melewatkan hal-hal seru dari teman-teman semua. Perlahan akan saya cek satu per satu dan mampir ke tempat teman-teman lagi😊  Sungguh kangen untuk aktif lagi, cuma memang kemarin sempat sibuk akan prioritas yang lain. Hampir dua minggu menghilang dari blog, karena mempersiapkan untuk renovasi dan isi apartment baru. Ternyata untuk mengisi apartment saja sungguh ribeeett buangeeettt. Mau milih warna gorden saja sungguh buanyaaak sekaliii pilihannya. Ini kali pertama buat kami berdua saling bekerja sama untuk mengisi tempat tinggal sendiri. Cari-cari inspirasi desain kece yang minimalis sungguh membuat kami bingung. Entah saking banyaknya pilihan desain yang ada atau memang kami anaknya tidak ada jiwa seni. Alhasil berakhir dengan berantem hanya perkara warna gorden mau coklat yang gelap atau agak terang 🀣 Kalau diingat-ingat, kemarin itu kenapa kami bisa berantem cuma perkara milih warna gorden. Bukan cuma masalah gorden, perkara lantai vinyl mau warna terang atau agak gelap saja juga jadi perdebatan. 

Akhirnya kami ngerasa bersyukur untuk saat ini tempat tinggal masih berukuran kecil. Otomatis proses renovasi dan pengisian barang tidak terlalu banyak. Jadi pemilihan warna maupun desain bagian ini dan itu tidak begitu banyak. Entah bagaimana jika kami menempati rumah napak tanah yang tentunya lebih luas dari apartment. Sepertinya akan berulang kisah kami berantem perkara warna terang atau gelap hhha. Saat ini tentunya sudah bisa di ketawain moment-moment kami berantem kemarin. Duhh.. kalau kemarin siihh rasanya saling gondok karena fokus pada pilihan masing-masing. Bukan cuma itu, sampai satu titik masing-masing dari kami bilang "terserah". Jika sudah demikian... byee.. byee.. saja laah karena sampai keesokan harinya tidak ada kesimpulan yang diambil. 

Kami tidak bekerjasama dengan jasa desain interior. Kebetulan Koko punya kenalan orang yang bisa bantu bikin lemari, ranjang, dan furniture lainnya. Selain itu, apartment yang kami beli sudah disediakan semi furnished. Jadi sudah ada satu lemari di kamar utama dan kitchen set di area dapur. Ternyata memang bawaan dari pihak apartmentnya sudah memberikan semi furnished seperti itu. Jadi bisa di bilang renovasi yang di lakukan tidak begitu banyak. Kami berusaha untuk meminimalisir barang-barang yang ada agar tidak terlalu terlihat sempit. Saya berharap bisa memberikan kesan luas pada tempat tinggal kami. Makanya, memang tidak banyak membuat laci atau rak-rak. Entah kenapa merasa bahwa semakin sedikit tempat penyimpanan yang ada tentunya membuat kami lebih selektif dalam membeli barang. Sebab, jika terlalu banyak membeli barang tentu akan menumpuk dan tidak ada tempat untuk menyimpannya.

Bisa di bilang apa yang akan dilakukan bukan bagian dari renovasi. Sebab memang tidak banyak perubahan yang kami lakukan, selain memberikan vinyl pada lantai dan mencat ulang tembok menjadi warna putih. Namun, proses yang kami jalani saat ini menyadarkan bahwa pernikahan bukan semata-mata bersama dalam satu atap. Proses kemarin hingga semuanya selesai membuat kami bisa saling bekerja sama dan memberikan pendapat masing-masing. Meskipun kami sudah menikah, tentu ada bagian dari pendapat masing-masing yang perlu diutarakan. Walaupun si Koko menyerahkan urusan desain dan warna-warna furniture pada saya, tetap dia perlu untuk dilibatkan dalam proses tersebut. Karena nantinya kami berdua yang akan tinggal di tempat ini. Tentu harus membuat kami berdua juga nyaman, bukan salah satu saja dari kami yang merasa betah.

Ternyata untuk pemilihan warna saja bisa membuat saya sadar bahwa tiap dari kami punya pertimbangan berbeda-beda. Saya cenderung suka warna coklat yang gelap karena lebih memberikan aksen kayu yang kental. Si Koko suka warna coklat yang terang karena memberikan kesan cerah dan luas. Kesadaran bahwa tempat tersebut akan ditinggali berdua, maka harus mempertimbangkan pendapat satu sama lain dan mencari cara tengahnya. Menikah memang merupakan proses unik yang berkelanjutan. Bukan hanya menyatukan dua orang dalam satu naungan, yakni rumah tangga; tetapi juga menjadi ajang untuk kolaborasi dan mengambil keputusan. Proses yang kami lewati tidak memandang status sebagai suami atau istri. Tidak semata-mata bahwa suami selaku kepala keluarga harus yang memutuskan. Atau istri sebagai ibu rumah tangga yang ambil peran lebih banyak karena biasanya perempuan lebih suka desain ini dan itu. Kami berdua sadar bahwa semua harus di putuskan bersama. Keputusan bersama agar tidak ada penyesalan nantinya.

Satu pelajaran lagi yang di temukan dengan berlandaskan pada "Sadar" bahwa masing-masing dari kami punya pendapat berbeda. Namun, karena saat ini kami sudah berdua dan akan tinggal bersama, tentunya tidak boleh semena-mena. Duhh... tidak menyangka bahwa proses saat ini membawa kami pada pelajaran baru dalam rumah tangga. Tentunya ini akan menjadi tempat tinggal idaman yang selama ini di nantikan. Jujur antara excited dan deg-degan karena kali ini keputusan dari dua orang, bukan sekedar diri sendiri saja. Selain itu, tempat tinggal tersebut akan menjadi ruangan kami berdua, bukan milik saya sendiri saja. Jadiiii tidak sabar untuk menungguh hasil akhirnyaaa. Semoga saja berantem kami kemarin tidak menjadi sia-sia belaka hhha. Semogaaa berantem kemarin bikin kami semakin sadar untuk sama-sama mau mendengarkan dan menerima pendapat yang berbeda.

Ternyata dari hal sederhana saja bisa membawa pelajaran yang bermakna. Nah, teman-teman ada yang pernah punya pengalaman serupa? Berbeda pendapat dengan orang lain (entah pasangan, orangtua, saudara, teman, dll) hingga akhirnya berantem? Jika muncul kata "terserah", bagaimana solusinya? πŸ˜†


Devina Genesia


14 comments

  1. Ciii, aku jadi ikutan nggak sabar melihat hasil akhir unit Cici πŸ™ˆ. Semoga hasilnya kelak sesuai harapan Cici dan Koko yaaa 😁. Boleh lah nanti sedikit sneak peek sudut-sudut favorit Cici di blog 😝

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin.. semoga saja Lia, karena aku pun deg-degan nih ngeri hasilnya ga memuaskan hhaa..

      Delete
  2. Aahhh, menghangat hati ini bacanya Devina :)

    Saya paling suka belajar dari kisah-kisah seperti ini, tentang bagaimana dua sifat berbeda namun saling mencintai, yang saling beradaptasi.
    Itu sulit, bahkan untuk saya yang udah belasan tahun berumah tangga :D

    Kalau saya lebih sering berbeda pendapat ama pasangan say, dan seperti biasa pasangan selalu mengakhiri dengan kata 'TERSERAH'.
    Sungguh ingin kugetok orang-orang yang bilang kalau cewek suka bilang terserah, kenyataannya laki juga banyak loh.

    Lama kelamaan saya memilih untuk lebih mengalah, lebih bisa menerima perbedaan pendapat itu adalah sebuah hal yang harus saya hadapi dan terima.

    Masih belajar sih, tapi memang jadinya lebih tenang.
    Ketika kita mencoba mengalah, itu bagaikan kita berhenti berjalan, dan mundur untuk mengambil kuda-kuda sehingga bisa melesak pergi lebih terdepan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul bangeet Mba, ternyata cowo pun bisa bilang kata Terserah. Jadi kata itu ga berlaku hanya untuk cewe saja.
      Bener mba, mengalah bukan berarti selalu kalah. Cuma memang ambil waktu sejenak untuk nantinya bisa lebih baik lagi hhhe.

      Delete
  3. terima kasih untuk pelajaran berhanganya kawan, semoga dari pelajaran ini saya bisa menerapkannya bersama mas jodoh saya nantinya . kalau dalam hal menyatukan dua hati yang berbeda prinsip sangatlah sulit tak setiap orang mampu untuk menerapkannya. jujur kadang saya membaca artikel ini saja, saya juga sambil berfikir apakah saya dan mas saya nantinya mampu juga gak ya menerapkannya ? atau akan sering cek - cek ?'' hadeh ? pening saya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Mba jika bisa di ambil hikmahnya dari tulisan ini. Nantinya bisa ketemu titik terang bersama kok Mba. Emang awal-awal bisa puyeng, tapi lama-lama pasti ada yang bisa mengalah dan menerima hhhe..

      Delete
  4. Mba Devina, saya ikutan excited niiih hihihi, semoga hasilnya sesuai harapan yaaaa, dan nggak ada penyesalan atas keputusan yang sudah dibuat πŸ˜† Jadi akhirnya cokelat muda atau cokelat gelap, mba? 🀣 Kita sama lho, penyuka cokelat gelap hahahahaha *jadi ingin tos rasanya*

    Ngomong-ngomong, saya sering kok beda pendapat sama pasangan πŸ™ˆ Tapi untuk hal remeh temeh. Surprisingly, ketika menyangkut rumah, si kesayangan tipe yang terserah saya mau diapakan rumahnya 🀣 Sebab dia nggak begitu paham design dan dia percaya sama skill dan selera saya, sehingga saya merasa bebas mau pilah-pilih kelengkapan rumah πŸ€ͺ

    Cuma satu sih request dia, yang penting ada ruang kerja untuk di mana dia pilih sendiri kursinya mau seperti apa. Selain itu semua dia bebaskan. Mungkin karena kursi penting untuk kerja, harus yang nyaman digunakan duduk dalam waktu lama. While saya, kadang pilih berdasarkan estetika πŸ˜‚

    Semangat mba Devina, lancar untuk persiapan apartment barunya πŸ₯³πŸŽ‰

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hhhaa aku pun memilih coklat gelap mba hhha. Walaupun si Koko suka yg lebih terang, akhirnya dia bisa menerima keputusan aku. Solusi lainnya adalah ada beberapa bagian yang bernuansa terang. Biar ga semuanya jadi gelap.

      Hhhaa Mba Eno jadi desainer rumah yaa. Iyaa sih kalo perihal kursi kerja memang harus di cari yg pas dan nyaman. Sebab buat kesehatan punggung juga kaan.

      Amin. Makasih yaa Mba atas doanya 😁

      Delete
  5. akhirnya aku tau kemana selama ini mba Devina hehe, sampe aku bertanya tanya sendiri hehehe
    ga sabar pengen liat istananya mba Devina nih, pasti bagus
    sepertinya kalau aku punya tempat tinggal sendiri, juga akan ribet nantinya, mungkin karena banyak maunya ya
    kalau berdebat dengan pihak lain bisa dibilang pernah mengalami juga mbak.
    dan kalau udah kesel jawab terserah, udah sering banget kalau gini, dan nada terserah yang dilontarkan dengan agak kesal udah jelas jelas menandakan kalau pihak lawan kita itu udah "marah atau nggak cocok sama pendapat kita"
    kadang jawaban terserah dilontarkan karena untuk menghindari perdebatan yang panjang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku adaa kok mba, cuma memang aga slow respon aja di blog hhha..
      Betul, emang nyebeli kalau uda sampai tahap bilang terserah. Jadinya kan bingung ya dan makin runyam.

      Yes bener mba, biar ga usah debat panjang lebar jadi jawab aja dengan kata terserah 🀦‍♀️

      Delete
  6. Ah selamat menempati tempat baru dan semoga membawa kebahagiaan (^^)

    ReplyDelete
  7. Dulu pas awal2, renov rumah, untungnya suami nyerahin semua ke aku. Jd dia ga banyak komplain dan kami jd less ribut2 :D. Tapi jangan tanya soal lainnya, kami berdua juga banyaaak bgt berantem Krn memang sifat kami berdua bertolak belakang :D. Tp justru itu mungkin yg jd perekat, Krn hubungan jd ga monoton. Aku ga kebayang kalo kami klop dlm semua hal, mugnkin aku akan bosan, Krn ngerasa ga ada tantangan :D.

    Kalo sama pasangan, begitu ketemu titik di mana kami sama2 ngotot, biasanya pada tau diri akhirnya mba. Hal yg kami ributin masuk ranah mana. Kalo masuk ranah keluarga dia misalnya, kayak rumah almarhum mama sebaiknya dijual ato gimana, begitu suami bilang GA BOLEH, aku walopun misuh2 Krn rumah ga ditempati ngapain diprtahanin. Tp Krn itu ranah keluarganya , aku bakal mundur juga utk ga keukeuh di situ. Gitu juga dia. Kalo itu msh masuk bagianku, dia ngalah biasanya. Urusan rumah tangga jelas ranahku :p. Urusan anak2, memang cendrung ke dia, jd aku banyakan ngalah :p.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget kalo semua sama klop gitu jadi merasa ga seru. Emang harus ada yg beda biar ga monoton hhha.

      Bersyukur Mba Fanny dan suami bisa sama-sama paham porsinya. Jadi bisa saling mengalah dan menerima. Memang biasanya kalau urusan keluarga emang ga serta merta bisa ikut campur terlalu jauh πŸ˜…

      Hhha jadi uda di bagi-bagi yaa Mba, urusan rumah tangga dan anak. Setidaknya jadi tahu bagian masing-masing dengan jelas yaaa hhhee..

      Delete

Halo, salam kenal!

Terimakasih ya atas kesediaannya untuk membaca tulisan ini. Boleh ditinggalkan komennya agar kita bisa berkomunikasi satu sama lain :)

Sampai berjumpa di tulisan-tulisan berikutnya.