Hugging Yourself




Jika teman-teman lihat, salah satu label dari blog ini adalah self acceptance. Saya memang menaruh perhatian pada label ini. Sebagai orang yang pernah belajar psikologi saat kuliah, saya merasa hal ini perlu diterapkan untuk diri sendiri. Saya merasa belum sepenuhnya menerima diri sendiri. Saya masih menuntut diri ini untuk sama seperti standar orang lain. Saya merasa iri sama orang lain. Jelas itu menyakitkan dan membuat saya berada dalam kecemasaan yang lama-lama menggangu. Siapa duga, rasa cemas yang saya rasakan perlahan menjalar ke fisik. Jika timbul cemas berlebihan, saya bisa mual atau merasa perut sakit. Padahal sebelumnya baik-baik saja. Pernah sampai datang ke dokter spesialis penyakit dalam dengan keluhan mual dan perut bagian bawah sakit. Bukan karena hamil, sebab saat di cek ternyata negatif. Lantas dokter tersebut melakukan USG organ tubuh dan semuanya dalam kondisi normal tanpa ada gangguan. Ginjal, lever, pankreas, rahim, semuanya oke. Area perut yang saya rasa sakit, saat di USG juga normal tanpa ada gangguan apapun. Dokter merasa saya sedang stres dan membuat asam lambung naik, sehingga merasa mual. Bagian perut yang sakit, bisa karena kondisi stres yang saya alami.

Lantas saya tersadar bahwa kondisi ini dinamakan psikosomatis. Dalam dunia psikologi ada istilah psikosomatis, yaitu keadaan psikis yang mempengaruhi fisik. Sebut saja contoh umum ketika kalian akan tampil di hadapan banyak orang, bisa merasa kepingin pipis atau sakit perut. Padahal sebelumnya tidak merasakan apa-apa. Kondisi tersebut bisa disebut psikosomatis juga akibat kecemasan karena mau tampil di hadapan banyak orang. Sehingga menimbulkan reaksi fisik seperti sakit perut. Saya pun menduga kondisi psikis saya sudah cukup parah. Sebab, biasanya saat cemas saya tidak pernah merasakan gejala fisik yang menyertai. Namun, belakangan ini saya bisa sampai muntah karena kecemasan yang dirasakan.

Jelas kondisi tersebut cukup menganggu dan saya berusaha untuk menggali lebih dalam mengapa bisa sampai tahap ini. Belakangan ini saya cukup merasa cemas dan galau perihal anak. Jujur, mulai muncul omongan orang-orang yang mempertanyakan mengapa saya tidak melakukan program hamil. Padahal sudah satu tahun sejak Baby E lahir dan meninggal. Saya pun sampai tahap menghindari pembahasan tersebut. Belum lagi saya merasa rendah diri di hadapan orang-orang yang supel dan cepat berbaur serta punya inisiatif yang tinggi. Saya merasa diri ini tidak bisa seperti itu namun menginginkan kondisi tersebut. Saya merasa cemas melihat prestasi yang diperoleh teman-teman, seperti pencapaian dalam karir maupun keluarga. Lelah melihat apa yang ada di medsos, namun jari ini selalu mencari icon tersebut. Lantas mengkliknya dan mulai memasuki dunia yang mungkin ada kebohongan didalamnya.

Saya mulai mengurai satu per satu hal yang menimbulkan kecemasan. Perihal hamil dan anak, saya sudah sampai tahap jujur ke Koko bahwa belum siap untuk kembali memulainya. Saya belum siap punya anak. Saat hamil kemarin pun saya sudah merasa demikian, namun pikiran ini beralih sebab baru pertama kali mengalaminya. Saat benar-benar menjalani kehamilan, saya sadar diri ini belum siap untuk merawat seorang makhluk hidup. Siapa sangka saya bisa berubah padahal saat kuliah kegiatan organisasi yang diikuti semua berhubungan dengan anak-anak. Saya suka memberikan training untuk anak-anak. Bahkan saya aktif mengunjungi rumah singgah yang tentu isinya anak-anak. Teman-teman bahkan merasa saya "spesialisasi" menghandle anak-anak. Namun, saat menjalani peran sebagai ibu, saya sadar belum sampai tahap mampu. Padahal Koko mengingkan punya anak tapi bersyukur dia tidak memaksa saya. Dia sadar ada sesuatu dari diri saya yang menarik diri ketika pembahasan seputar anak disinggung. Dia memberikan kebebesan untuk saya sampai siap memutuskan dan menjalaninya. Tapi pikiran saya kembali berkelana sebab usia Koko bukan terbilang muda lagi. Perbedaan usia kami 10 tahun, jelas dia sudah memasuki usia akhir 30an yang katanya akan berpengaruh dari sisi medis. Pikiran berkecamuk, cemas semakin meningkat, sampai akhirnya saya merasakan gejala sakit yang sebenarnya tidak ada.

Lantas topik childfree yang marak belakangan ini menyentil sisi kecemasan dalam diri saya. Sempat kepikiran jika ternyata benar-benar hidup tanpa anak, bagaimana kondisi kami berdua? Jika menunda dan saatnya ingin punya anak namun belum memperolehnya, apakah menjadi penyesalan untuk saya sendiri? Muncul kecemasan lainnya. Seperti tidak ada habisnya. Saya pun mencoba untuk menyapa inner child dan mencari tahu mengapa sebegitu cemasnya diri ini perihal anak. Saya merasa ada hal-hal saat masih kecil yang membuat ketakutan jika hal tersebut terjadi pada anak. Koko merasa saya sudah terlalu jauh memikirkan hal tersebut. Saya pun mencoba untuk mengatur pola pikir dan mengurangi rasa cemas yang ada.

Kecemasan berikutnya melihat orang lain bisa dengan supel dan penuh inisiatif. Sedangkan saya ketemu orang baru saja bisa menjadi begitu pendiam. Saya malam menaruh perhatian pada hal baru dan inisiatif pun menjadi tidak muncul. Saya merasa terlalu pasif padahal diri ini ingin mencoba A, B, C, dll. Terlalu banyak kemauan tapi lambat dalam mengeksekusinya. Sesederhana saya bilang ke Koko mau datang ke sini dan situ, alhasil saat weekend malah mager di apartment. Ujung-ujungnya nonton netflix saja. Iya.. saya anaknya malas. Hal ini membuat Koko merasa bahwa saya ketularan sisi buruk dirinya. Katanya dulu saya rajin dalam bekerja atau beres-beres rumah. Sekarang, mau cuci piring saja suka malas dan di tumpuk. Ujung-ujungnya baru besok dibersihkan. Dulu saya tidak pernah demikian. Saya pun merasa semakin malas untuk melakukan ini dan itu. Fokus ke HP dan buka medsos yang membuat semakin insecure

Lantas, hari ini (09 Oktober 2021) saya memutuskan untuk keluar dari zona nyaman. Saya mencoba untuk kembali mengubah penampilan, yaitu melakukan hair color. Semata-mata untuk menyakinkan diri sendiri bahwa tidak apa-apa mencoba hal baru. Tidak apa-apa kalau mengubah penampilan, toh untuk diri sendiri. Sebelumnya saya minta izin sama Koko saat mau melakukan hair color. Di luar dugaan respon Koko adalah membiarkan saya mengambil keputusan sendiri. Baginya tubuh saya menjadi tanggung jawab saya sendiri. Rambut ini menjadi tanggung jawab saya. Jadi bukan dia yang berhak menentukan, namun saya yang punya andil dalam memutuskan. Baginya apa yang menurut saya pantas untuk diri ini, dia akan mendukung. Selama saya tidak menyesal dan ujung-ujung merengek ke dia atas keputusan yang saya ambil. Jadilah hari ini ke salon sekalian gunting rambut. Hasilnya, saya merasa berbeda dari segi penampilan. Selain itu merasa bangga karena bisa memutuskan sesuatu untuk diri sendiri. Percayalah mutusin untuk melakukan hair color lebih lama durasinya daripada pengerjaan saat di salon. Saya memikirkan berhari-hari, padahal saat di salon tadi sekitar dua jam-an. Memang kebiasaan Devina deh. Berharap perubahan penampilan ini membawa rasa percaya diri bagi saya. Sebab saya mampu melakukan hal baru yang tentunya karena keputusan sendiri.

Saya minta maaf kepada teman-teman yang membaca tulisan ini hingga bagian akhir. Saya merasa membawa energi negatif pada kalian. Namun, ijinkan saya menuliskan ini sebagai pengingat bahwa titik terendah pernah saya rasakan. Perlahan saya ingin bangkit dan memeluk diri sendiri. Mengatakan bahwa semua baik-baik saja. Mengatakan bahwa saya hebat sudah sampai di tahap ini. Saya mampu melewati apa yang terjadi. Sampai mencoba untuk mengurangi pikiran-pikiran yang menyakitkan fisik dan mental. Mencoba mengurangi mencari tahu hal-hal yang menyakiti diri sendiri. Belajar bahwa menjadi manusia seutuhnya membutuhkan suatu proses. Semoga saya selalu ingat untuk memeluk diri sendiri.

Saat ini menyadari sehabis melahirkan dan mengalami kedukaan, perlahan saya mulai menjaga kesehatan tubuh. Mulai dari rutin menggunakan body lotion, sunblock pada muka, eye cream pada area mata, bahkan merawat kuku dengan menggunakan vitamin kuku. Hal yang awalnya tidak saya pedulikan, seperti kesehatan kuku. Saat habis melahirkan, saya merasa itu kondisi terburuk dalam hidup saya. Mata bengkak efek kelamaan nangis, kulit perut bergelambir karena habis operasi caesar, bekas lukanya yang mungkin belum sepenuhnya hilang, bahkan saya merasa kulit mulai mengkerut. Hal itu membuat saya sadar bahwa tubuh ini sudah bekerja terlalu keras. Saya lupa untuk mempedulikannya. Saya lupa menjaga dirinya yang membantu dan berjuang selama 28 tahun ini. Alhasil perlahan saya mulai peduli pada kesehatan tubuh. Mulai mencoba rutin berolahraga walaupun masih suka bolong. Rutin melakukan perawatan sederhana, karena anaknya malas pakai produk ini dan itu.

Saya merasa berterima kasih pada tubuh ini yang sudah menemani selama 28 tahun dan akan terus begitu hingga bertahun-tahun nantinya. Terima kasih anggota tubuh, sebab kamu sempurna. Terima kasih telah bertahan selama ini. Terima kasih telah menemani selama ini. Terima kasih terlah berjuang selama ini. Kamu hebat, bagaimana pun itu ❤

Love,

Devina.

Devina Genesia


6 comments

  1. Senang baca tulisan ini, ikut merasa sudah memeluk diri saya sendiri, well saya bisa memahami kenapa mba Devina merasa demikian, karena saya pun pernah merasakan hal yang sama meski reasonnya berbeda 🙈

    Pada akhirnya, memang cuma kita yang bisa benar-benar memeluk diri kita, dan memahami apa yang diri kita inginkan. Dan walaupun proses yang dibutuhkan cukup panjang, seenggaknya mba Devina sudah bisa one step ahead dari titik sebelumnya 😍 I bet, it must be really hard untuk ambil keputusan soal warna rambut, but you did it 🥳

    So, chukkaeee-yo, mba Devina 😆🍀

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hug Mba Enooo 🤗🤗 Walaupun kita bertemu secara virtual, tapi Mba Eno salah satu teman blogger yang turut serta memberikan semangat buat saya. Apalagi tahu lalu masa-masa lagi kedukaan, mba tetap memberikan dukungan dan keceriaan. Makasih yaaa Mba Enooo.. 😘

      Delete
  2. Halo mba Devina salam kenal ya saya Endam. Nggak kok mba justru hal positif yang saya dapat ketika membaca tulisan mba ini. Saya pun bener-bener salut dengan apa yang pasangan mba lakukan ketika mba berada di posisi itu, selalu percaya memberikan kebebasan sesuai porsinya dan lagi-lagi ia tahu bahwa yang terbaik bagi mba ya tentu keputusan yang diambil dan diyakini oleh mba sendiri.

    Saya pun suka memeluk diri saya sendiri, karena mereka diluar sana bisa berbicara ini itu memberikan komentar terkait saya dan hidup saya. Tapi lagi-lagi yang seutuhnya paham akan kondisi saya saat ini ya tentu saya sendiri. Nggak mau terlalu terburu-buru, ada kalanya diam sejenak, berdialog pada diri sendiri, memutuskan waktu yang tepat untuk memulai sesuatu yang baru lagi.

    Semangat terus ya mba.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Kak Endam, salam kenal yaaa 😁

      Makasih yaa Kak. Iyaa, perlu juga untuk kita memeluk diri sendiri ya hhee.. Semangat juga untuk Kakak yaa..

      Delete
  3. luvvv mbak devina
    kalau berada di titik aku "pernah iri" sama orang lain, pernah terbersit kayak itu
    cumann, jalan hidup tiap orang juga berbeda jadi aku menyadarinya. jalani yang semampu kita aja

    pernah juga kayak nyalahin diri sendiri terhadap keputusan yang udah diambil, tapi diusahakan nggak berlarut-larut, karena waktu nggak bisa diputer balik

    setuju sama mba devina, kalau menjadi manusia seutuhnya butuh proses yang sebentar juga. perlahan tapi pasti
    cemungudd

    ReplyDelete
  4. 🤗🤗

    Iyaa mba, terkadang jadi refleksi ya untuk diri sendiri juga. Seperti kata Mba Ainun, perlu menjalani semampu kita aja. Makasih mbaa atas supportnya 🤗

    ReplyDelete

Halo, salam kenal!

Terimakasih ya atas kesediaannya untuk membaca tulisan ini. Boleh ditinggalkan komennya agar kita bisa berkomunikasi satu sama lain :)

Sampai berjumpa di tulisan-tulisan berikutnya.