Ketika Trauma menemukan "The Architecture of Love"

 


"Setiap gedung punya cerita." - River

Kalimat dari River yang terus terngiang setelah selesai menonton film The Architecture of Love (TAOL). Film ini diadaptasi dari novel yang berjudul sama karya Ika Natassa. River (diperankan oleh Nicholas Saputra) merupakan salah satu tokoh yang ternyata memiliki trauma mendalam. Bertemu dengan Raia (diperankan oleh Putri Marino) yang juga punya kisah traumanya sendiri. Sebagai penikmat dan pembaca karya-karyanya Kak Ika Natassa, film TAOL menjadi cerita baru yang sekeren tulisan di bukunya. Pertama kali baca novel TAOL tahun 2016 tidak pernah menyangka bahwa delapan tahun kemudian, ceritanya akan muncul dalam bentuk film. Saat membacanya kala itu tidak begitu menyadari bahwa arti dari trauma begitu mendalam untuk dipahami. Entah karena saat itu saya masih belum menyadari bahwa sebegitu dalamnya trauma bisa mempengaruhi seseorang. Setelah selesai menonton filmnya tersadar bahwa setiap orang punya ruangnya sendiri untuk memilah dan menghadapi trauma masing-masing.

Nicholas Saputra dan Putri Marino sukses memerankan sosok River dan Raia yang berkutat dengan traumanya sendiri. Saling bersama berusaha untuk menghadapinya, tetapi masing-masing punya sisi rapuh yang sulit di jangkau. Kak Ika Natassa bisa mengemas cerita mengenai trauma yang penuh makna dan juga ada unsur romantis. Bagaimana kedua tokoh bisa saling mengandalkan satu sama lain dan berusaha untuk bangkit menghadapi traumanya sendiri. Bagaimana kedua tokoh saling menguatkan, meskipun masih ada rasa takut yang membayangi. Kala itu membaca novelnya terlalu seru untuk terus membuka lembar dan lembar berikutnya, sampai tidak sadar bahwa ada makna besar yang ada di dalamnya. Ketika menonton film ini menyajikan bahwa adanya kesempatan dari tiap trauma yang dihadapi.

"Gedung kosong belum tentu harus diisi, karena akan menghilangkan kenangan yang ada." - River

Kurang lebih kalimat tersebut ada dalam dialog yang diucapkan oleh River (saya lupa kalimat persisnya yang di sebut 🙏). Pas dengar kalimat tersebut langsung jleb karena benar juga yaa jika kita mengisi kekosongan yang ada, mungkin saja kita akan menghilangkan "kenangan" yang sudah tersimpan. Dialog ini muncul di tengah-tengah mereka berdua masih berkutat pada trauma masing-masing. Sebegitu besarnya efek trauma mempengaruhi hidup seseorang. Meskipun dalam film ini kita bisa "liburan virtual" menikmati kota New York, rasanya tidak sepadan dengan kondisi mental kedua tokoh yang berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Cantiknya kota New York sebetulnya memberikan nuansa romantis sendiri, tapi karena ceritanya bermula dari tokoh yang mengalami trauma, terasa ada unsur kesedihan. Tapi film ini menunjukkan bahwa setiap orang berhak dan punya kesempatan untuk memulai suatu yang baru. Raia yang bisa memulai untuk membuka hatinya terhadap hubungan dan River yang bisa berdamai dengan rasa bersalahnya. Saya tidak akan menceritakan kisah detailnya dari isi novel atau film ini, bagi yang belum tahu bisa baca atau nonton langsung di bioskop. Saran saya meskipun nonton duluan, kalian wajib baca dari novel aslinya. Karena cerita di novelnya lebih detail dan kompleks untuk menggabarkan emosi, kegiatan sehari-hari, komunikasi, relasi antar teman dan keluarga yang dialami oleh para tokoh. 

Meskipun demikian, film ini juga bisa merangkum semua itu dengan indah. Karakter River yang diperankan oleh Nicholas Saputra memang cocok dan jadi pilihan yang tepat. Nicholas Saputra memerankan sosok "Bapak Sungai" ini sungguh kereeen bangeet. Kerasa traumanya, sedihnya, frustasinya, takutnya, bingungnya, maupun bahagianya ketika akhirnya menemukan sosok Raia. Begitupun sosok Raia yang diperankan oleh Putri Marino, waahh kereen akting dan chemistry mereka berdua. Putri Marino sebagai Raia juga kerasa bagaiman kecewanya, marahnya, sedihnya, takutnya, maupun bahagianya ketika bertemu sosok River.

Wajib di tonton atau di baca novelnya!! Menjadi karya Kak Ika Natassa lainnya yang sukses bikin baper sekaligus bersyukur bisa menemukannya. Tidak perlu diragukan lagi karyanya Kak Ika Natassa, rata-rata novelnya berhasil jadi film yang juga sekeren cerita novelnyaa. Siap-siap baper yaaa 😉

"Setiap gedung punya cerita. Gedung kosong belum tentu harus diisi, karena akan menghilangkan kenangan yang ada. Namun, ketika diisi bisa memberikan makna." - River





4 comments

  1. Tgl 1 kemarin sbnrnya aku udh niat ama temen2 US Trip mau nonton ini. Biar nostalgia pas di NY 😂. Eh aku malah ga bisa krn anakku operasi.

    Tapi dari awal pun udah niat mau baca bukunya Dev. Krn selalunya (kebanyakan) film yg diadaptasi dr buku biasa lbh bagus buku. Tapi aku tetep suka nonton filmnya hanya utk bayangin pemain2nya yg aku suka di novel pertama.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aduhh yg cewe ato cowo mba? operasi apa? semoga cepat pulih dan sehat kembali 🙏

      Betulll aku jugaa sukanya baca bukunya gitu, cuma karena aku uda lama baca novelnya jd agak lupa-lupa ingat jalan ceritanya. Pas nonton filmnya tetap suka karena emang kecee sihh semua pemainnya. Ceritanyaa jugaa kecee wlwpn tidak sekompleks kalau dari novelnyaa.

      Semoga segera bisa nonton sekalian nostalgia yaa mba 😂

      Delete
  2. aku belum baca novelnya dan juga belum sempet nonton filmnya. aku akui kalau film atau novel karya kak Ika Natasha ini selalu viral, pasti rame banget reviewnya. Aku lupa terakhir kali nonton karya kak Ika yang mana
    penasaran juga sama ceritanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cerita yang ini seruuu mbaa. Agak beda dengan tulisan-tulisan lainnya. Setuju banget sihh mbaa emang karya-karya Kak Ika ituu selalu keceee.

      Delete

Halo, salam kenal!

Terimakasih ya atas kesediaannya untuk membaca tulisan ini. Boleh ditinggalkan komennya agar kita bisa berkomunikasi satu sama lain :)

Sampai berjumpa di tulisan-tulisan berikutnya.