Six Years

 


01 Juli 2024, memasuki enam tahun usia pernikahan merasa "Woww cepaat juga uda enam tahun, aja", tapi itu menimbulkan pemikiran "selama ini bagaimana perjalanan yang sudah di lakukan?" Pada dasarnya enam tahun itu hanyalah angka untuk menunjukkan waktu kebersamaan yang sudah di jalani. Nyatanya masih ada angka-angka lainnya yang akan di lalui. Enam tahun terbilang mulai berada dalam fase stabil(?) Entah apa istilahnya, namun yang saya ketahui lima tahun pertama itu memang dalam fase cukup kritis. Fase dimana kami sebagai pasangan salah beradaptasi terhadap peran dan tanggung jawab baru. Memasuki usia enam tahun dst bisa dibilang tinggal menjalani proses yang sudah di bangun sebelumnya. 

Hal yang saya maknai dari perjalanan kami ini adalah kesediaan untuk mau beradaptasi dan berkomproni. Saya lebih suka kata adaptasi dan kompromi ketimbang berubah. Nyatanya merubah seseorang itu bukanlah hal mudah dengan waktu yang sebentar. Bisa dibilang untuk karakter akan sulit berubah jika bukan karena kemauan ybs. Bayangkan saja, puluhan tahun hidup dengan karakter seperti itu, lantas ketemu kita sebagai pasangannya dalam hitungan beberapa tahun, berharap itu bisa langsung berubah? Ya tentu bukan hal yang mudah. Namun, semua bisa di akali dengan adanya adaptasi dan kompromi. Saya dan Koko terbilang ada berbagai perbedaan yang bisa menimbulkan keributan. Sesederhana perihal kerapihan saja itu bisa juga mengakibatkan keributan. Saya termasuk orang yang rapih, terstruktur, dan terorganisir. Sedangkan Koko lebih fleksibel dan tidak begitu terorganisir. Saya suka banyak yang dipikirkan, si Koko lebih let it flow saja.  Ia akan memikirkan secukupnya, bukan seperti saya yang bisa berlarut-larut. Mungkin dianggap bahwa kepribadian kami ini bisa saling melengkapi. Namun, terkadang malah jadi bumerang dan memicu ribut-ribut kecil 😂

Memaknai perjalanan ini dengan kata cukup. Terkadang melihat segala sesuatu dari kacamata orang lain itu memang enak. Akhirnya menimbulkan saling membandingkan satu sama lain. Saya belajar untuk mengambil posisi dan keputusan pada kata cukup. Cukup untuk membandingkan diri saya dengan orang lain. Cukup untuk membandingkan diri Koko dengan orang lain. Kalau melihat orang lain tentu tidak ada habisnya. Ada keinginan kalo suami harus A, B, C, D, dll. Saya sendiri sebagai istri harus seperti orang lain yang bisa E, F, G, dll. Semua tidak akan pernah selesai dan ada batasnya. Makanya saya berusaha untuk melihat sisi Koko yang memang itulah dia. Ada beberapa hal yang perlu disesuaikan agar kami bisa bersama-sama menjalani rumah tangga ini. Namun, ada juga yang saya "biarkan" dan lihat agar tidak menjadi bumerang untuk kami berdua. Saya pun melakukan hal demikian kepada dirinya. Ada sisi saya yang disesuaikan dengan dia, namun ada juga yang saya biarkan apa adanya seperti itu.

Ketika saya merasa cukup, saya jadi merasa lebih bisa untuk bersyukur atas yang di terima. Sekecil apapun itu menjadi berarti dan bermakna, bikin saya sadar bahwa menjalani pernikahan itu sangatlah unik. Kondisi kami yang bisa di bilang cukup terombang ambing saat awal-awal pernikahan, hingga momen kami bisa lebih menerima dan menjalani dengan tenang. Awal pernikahan mulai dari saya masih fokus untuk kuliah S2, kehilangan Baby E, kehilangan untuk yang kedua kalinya, fokus mencari tempat tinggal yang tepat, hingga akhirnya kami bisa melaluinya satu per satu. Jika dipikirkan kembali masa-masa itu bukanlah mudah, bahkan nyaris mau menyerah. Apalagi fase kedukaan yang terus dialami. Ternyata sampai sekarang kami berdua bisa survive melaluinya dan mengenang sebagai bagian dari perjalanan rumah tangga ini. 

Sekarang saya lebih ingin memaknai bahwa perjalanan kami masih terus berlanjut. Tidak tahu apa yang akan kami hadapi kedepannya. Setelah memasuki enam tahun ini, berada dalam fase bisa saling melengkapi tanpa ada yang terbebani. Jika  dulu Koko suka berantakan dan saya sebal, kali ini saya bisa meresponnya dengan tertawa. Karena dia tahu setelah itu perlu untuk dibereskan agar saya tidak menjadi sebal. Jika saya dalam fase mager untuk beberes rumah, dia akan inisiatif untuk membereskannya sedikit, walaupun mungkin tidak sesuai dengan standar saya. Namun dia tidak memaksa saya harus membereskan disaat memang saya sedang mager atau lelah. Paling dia hanya komen kalau saya jadi males, padahal biasanya saya yang paling bawel meminta dia untuk beberes dan rapih. Jika sudah begitu bisanya saya cuma ketawa karena ternyata apa yang saya lakukan sebetulnya mungkin membebani dia, namun dia berupaya untuk menyesuaikan dengan standar saya. 

Bahkan belakangan ini sifat-sifat kami bisa saling bertolak belakang. Jika dulu saya mempersiapkan segala sesuatu jauh-jauh hari, semakin kesini menjadi deadliners. Tentu itu bukan "saya banget", karena awalnya tidak demikian. Tapi ada sisi Koko tersebut ternyata menular pada diri saya. Kebalikannya, jika dulu Koko termasuk yang tidak cemas terhadap sesuatu, kini ia bisa menjadi cemas dan memikirkan hal tersebut berkali-kali. Jika dia sedang mengalami hal tersebut, biasanya dia akan ngomong "ketularan kamu nih" 🤣 Jika saya dalam fase yang berbeda dengan sebelumnya, saya pun akan mengatakan kalau ini ketularan dia 🤣 Tapi itu tidak membuat kami berdebat atau berantem, cuma bisa di ketawain aja. Karena ternyata memang benar kata orang, semakin lama usia pasangan saling bersama, maka sifat dan kebiasaannya bisa sama satu sama lain. Pantas ada orang yang bilang kalau semakin lama pasangan bersama maka akan semakin mirip. Itu seperti layaknya bercermin karena memang tinggal bersama satu sama lain. Jadi secara tidak langsung saling "mengcopy" kebiasaan satu sama lain. 

Masih jauh dari kata sempurna, tapi berusaha untuk menjalani hubungan ini dengan penuh rasa syukur dan sukacita. Proses adaptasi dan kompromi tetap terus dilakukan. Proses mengapresiasi diri sendiri dan pasangan juga terus dilakukan. Masih banyak hal yang ingin dilakukan bersama-sama. Pernah timbul pertanyaan ke Koko, apakah dia bosan menjalani hari-hari bersama saya. Dia jawab tidak. Saya pun demikian tidak merasa bosan bersama dia. Duduk diam berdua di mobil tanpa mengobrol dan mendengarkan musik juga membuat kami nyaman. Hal-hal yang dilakukan bersama juga tidak terasa bosan dan tetap merasa nyaman. 

Nyaman. Kata yang membuat hati terasa penuh karena nyatanya kenyamanan juga diperlukan ketika bersama-sama. Happy wedding anniversary, Ko! ❤



2 comments

  1. Happy anniversary Devina and hubby! <3

    Lima tahun pertama pernikahan emang krusial sekali ya. Mulai banyak faktor yang "mewarnai" pernikahan, terus kita kayak diuji saat menghadapi tiap masalah, mau dijadikan pengalaman apa emang jadi bahan berantem aja, hahaha.

    Aku nggak pernah tahu rasanya menghadapi semua persoalan kamu, Dev. Tiap baca cerita kamu yg sebelumnya, hatiku ikutan nyesss, tapi tetep aja nggak bisa ngerasain bener-benernya. But I believe it makes your and your partner stronger ya (:

    ReplyDelete
  2. Happy anniversary Dev 🎊🥳🥳🥳. semoga yaaa 6 tahun ini semakin menguatkan pondasi kalian menjadi lebih mengerti satu sama lain ☺. Percaya deh, semakin lama hubungan, hal2 kayak handuk ga dijemur lagi, tutup toilet ga diangkat, bakal jadi sepele dan ga akan bikin keributan 🤭😄.

    Lama2 toleransi terhadap hal begitu bakal tumbuh dengan sendirinya memang ☺🤭. Daripada ngeributin hal ga penting, aku lbh suka fokus ama hal2 yg hrs diprepare saat kami nanti sudah pensiun, 😄

    ReplyDelete

Halo, salam kenal!

Terimakasih ya atas kesediaannya untuk membaca tulisan ini. Boleh ditinggalkan komennya agar kita bisa berkomunikasi satu sama lain :)

Sampai berjumpa di tulisan-tulisan berikutnya.