Sayonara




Sayonara


Momen mengubah penampilan sepertinya benar-benar memberikan aura positif bagi saya. Semua yang saya tulis di out of comfort zone memberikan satu pertanyaan refleksi, yaitu "Mengapa harus kehilangan dulu baru merasakan kebahagiaan?" Seperti yang sudah saya tulis atau teman-teman ketahui perihal dukacita yang terjadi, saya merasa mengapa harus mengalami hal itu lebih dahulu? Kemudian baru bisa merasakan apa itu bahagia. Komentar Lia semakin menyadarkan, apakah sebegitu kelihatannya saya bahagia? Lia hanya membaca tulisan tersebut tanpa melihat diri ini secara langsung. Kemudian tersadar bahwa selama ini saya menulis mengenai dukacita, tentu memberikan aura sedih bagi para pembaca. Entah memang kalian merasakannya dari tulisan atau pun tidak. Namun, jika seperti komentar Lia yang mengatakan bahwa saya sekarang terlihat "lepas", berarti emosi bisa terbaca melalui tulisan. Saya pun ingin mengurangi membagi emosi sedih terhadap teman-teman yang mampir ke Blog ini.

Kembali dengan pertanyaan "Mengapa harus kehilangan dulu baru merasakan kebahagiaan?" Jadi teringat dengan kalimat "Ada pelangi sehabis hujan." Saya jadi mengaitkannya dengan apa yang terjadi beberapa bulan terakhir. Kehidupan saya layaknya di hampiri hujan badai, hingga terseok-seok dan basah kuyup. Penuh dengan tagisan dan lupa bagaimana caranya tersenyum dengan tulus. Lantas, setelah memberikan reward untuk diri sendiri, saya merasa seperti "terlahir kembali". Duh tidak menemukan kata yang tepat selain "terlahir kembali", tapi benar-benar merasa menjadi orang yang baru. 

Banyaknya komentar positif yang di berikan atas penampilan terbaru ini, membuat saya sadar bahwa orang-orang di sekitar memperhatikan diri ini. Mereka mengikuti perjalanan saya hingga sampai sekarang. Bahkan kalian sebagai teman-teman Blogger, mengikuti pekembangan saya melalui tulisan. Namun, saya tetap mendapatkan komentar positif dari kalian. Komentar positif, lingkungan positif, keputusan yang tepat, semua membawa saya pada titik perubahan. Walaupun pertanyaan tersebut terus muncul, mengapa saya harus kehilangan dulu baru bisa merasakan ini semua?

Saya perlu kehilangan dan berduka dulu baru bisa aktif di Blog. Saya merasakan dukacita dulu baru bisa berbagi dan mengenal teman-teman Blogger. Mengapa semua itu harus di awali dengan hal yang sedih? Saya punya Blog sejak 2018, namun kembali aktif sejak mengalami duka. Apakah kita berubah jika sedang dalam kondisi tidak nyaman? Jujur, banyak sekali pertanyaan yang terus muncul ketika saya sadar saat ini. Mengapa, kenapa, bagaimana, apa, kapan, dimana, dll... Muncul satu per satu dan merasa perlu mendapatkan jawabannya.

Hari ini juga saya tersadar di tahun ini saya bisa menulis sebanyak 68 tulisan. Wowww... tidak pernah terbayangkan bisa menulis sebanyak itu. Jika tahun 2018 hanya menulis sebanyak 12 tulisan dan tahun 2019 sebanyak 16 tulisan. Kali ini berjumlah empat kali lipat di banding tahun kemarin. Saya tidak menyadari bahwa berada dalam kondisi terpuruk ternyata mengeluarkan sisi lain yang belum dikenali. Saya senang menulis sudah sejak lama, namun baru memiliki "kesempatan" untuk aktif di tahun ini. Sepertinya memang benar, kreativitas bisa muncul dalam kondisi terdesak. Perubahan bisa terjadi ketika berada dalam situasi terpuruk. Saat berada dalam kondisi yang tidak umum, hal lain dalam diri bisa keluar sebagai bentuk adaptasi. Saya menghadapi dukacita dengan menulis. Menulis juga memberikan saya dunia baru yang tidak pernah tersentuh sebelumnya. Menulis membuat saya mengenal dunia Blog dan bertemu teman-teman Blogger. Walaupun komunikasi selama ini masih terbatas via online dan melalui tulisan. Saya menyadari bahwa mendapatkan supporting system yang tepat, hingga membuat saya bisa berada dalam kondisi lebih baik. 

Kondisi memang lebih baik, namun bukan berarti sudah menyeluruh. Jika tersentuh titik terawan perihal dukacita, tentu saya akan kembali ambruk. Namun, sekarang berbeda, sebab saya menemukan alasan untuk bangkit. Saya mendapatkan support yang luar biasa bukan hanya dari suami, keluarga, teman dan sahabat di sekitar, namun juga dari teman dan sahabat di dunia maya. Terimakasih.. terimakasih... terimakasih.. untuk teman-teman di dunia Blog. Hormat saya kepada kalian semua yang telah memberikan aura positif untuk diri ini.

Saya ingin berpamitan pada dukacita yang ada, sebab saya menemukan pintu baru untuk menemukan hal positif. Sebetulnya belum pergi total, namun kini saya berjalan beriringan dengan dukacita. Sebab, hal tersebut tidak bisa dihilangkan, namun bisa di tata agar tidak menganggu keseharian. Sejak weekend kemarin, entah sudah berapa kali bilang ke Koko bahwa saya bahagia. Bawel dan banyak bicara yang dilakukan membuat Koko merasa bahwa saya benar-benar sudah "kembali." 

Selama ini merasa bersalah sama Alm. Baby E kalau saya merasa bahagia, ternyata itu pemikiran yang salah. Orang-orang mengatakan bahwa dia juga pasti ikut bahagia dengan melihat saya happy. Selama ini saya berusaha untuk terus mengingat dan mengikutsertakan dirinya dalam segala kegiatan. Ya.. saya bisa bicara sendiri seolah-seolah ada dia di depan saya. Saya berusaha berkomunikasi dan bercerita dengan dirinya. Saya takut jika bahagia, dia akan merasa terlupakan. Padahal itu semua tidaklah demikian. Kini, kami sama-sama bahagia walau di dunia berbeda. Kami sama-sama berjalan dengan dukacita masing-masing. Jika Koko menemukan kebahagiaan karena memelihara ikan cupang, saya berbahagia atas keputusan mengubah penampilan. Teman kantor merasa saya berubah penampilan demi Si Koko, padahal semua itu demi saya sendiri. Terkesan egois, namun saya mau untuk merasakannya sebentar. 

Ya... karena saya sudah "Terlahir Kembali" 😊


Cover: Canva

Logo Devina Genesia


18 comments

  1. Cici, I'm so happy for you! Karena aku sempat baca tulisan-tulisan Cici yang lama dan ngikutin sampai saat ini, jadi aku benar-benar ikut ngerasain dan turut bahagia akan keputusan yang Cici ambil 😍❤️
    I'm so happy for you!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Liaaa makasih yaa uda jadi saksi perkembangan aku melalui tulisan. Makasih sudah selalu mampir dan memberikan semangat untuk dirikuuuu.. so blessed mengenal dirimu πŸ€—

      Delete
    2. I'm so glad bisa menjadi saksi dari semua ini, Ci πŸ₯°
      Sungguh nggak menyangka bahwa lewat blog, kita bisa ikut melihat perubahan dan perkembangan seseorang.
      I'm so blessed juga bisa mengenal Ci Devina yang baik dan suka meracuni buku-buku bagus 😝. Sehat dan bahagia selalu ya, Ci ❤️

      Delete
    3. Makasihh yaaa Lia...

      Iyaa yaa, melalui tulisan aja kita bisa melihat perkembangan orang lain. Padahal ketemu aja belom pernah yaa hhha..

      Hhaa... Aku pun teracuni buku-buku oleh dirimuu.

      Amin. Lia juga selalu sehat dan bahagia selalu yaa πŸ€—

      Delete
  2. Dev...

    Pintu menuju kebahagiaan itu banyak sekali. Masing-masing manusia akan melewati pintu yang berbeda. Jadi kenapa harus dipertanyakan?

    Haruskah berpikir terlalu rumit ketika kebahagiaan yang dicari sudah ada di depan? Nikmati Dev.. Mikir rumitnya nanti sajah... hahahaha

    Bagi yang baru-baru membaca tulisan Dev, tentu sulit melihat perubahan itu, tetapi Lia dan beberapa teman yang lain, yang aktif mengikuti blog ini memang pasti bisa merasakan perubahan. Tidak cepat tetapi ada pergeseran dari aura penulisnya sendiri.

    Suasana muram, sedih, perlahan bergeser menjadi senyum, ceria. Denial perlahan berubah menjadi sebuah penerimaan. Dari terpuruk perlahan bangkit.

    Contohnya cara menulis Dev tentang si Koko yang merasa bersalah karena makan berantakan.. saya pikir Dev "kembali" mendekati titik normal dan bergeser dari sebelum-sebelumnya.

    So congratulation Dev... Ikut hepi dengan situasi Dev dan si Koko...



    ReplyDelete
    Replies
    1. Mas Anton... 😒😒😒


      Makasih yaaa, Mas Anton merasakan juga perubahan aku. Makasih sudah mampir dan memberikan dukungan buat kami, khususnya aku.

      Iyaa kadang masih denial, tapi sadar bahwa perlahan menuju ke penerimaan.

      Iyaaa nih, aku anaknya demen nyusahin diri sendiri dengan berpikiran rumit. Makasih sudah disadarkan bahwa ada hal yg perlu di nikmati, bukan dipikirin rumitnya aja.

      Makasih yaa Mas Anton. Bersyukur mengenal Mas Anton πŸ™

      Delete
  3. Selamat ya Dev ;).. akupun ikut seneeeeng banget baca ini. Dulu aku sempet baca tulisan2 ttg Baby E, dan ikut sedih. Krn tau bangetttt rasanya kalo kehilangan anak seperti apa.. kehilangan orang terkasih. Tapi menurutku, kehilangan mereka bukan berarti kita ga boleh bahagia. Mereka pasti bakal slalu diinget, dalam hati, pikiran dan doa.

    Aku mikirnya gini, mereka yg sudah dipanggil, tugasnya sudah berakhir di dunia. Yg sakit, udah ga akan merasakan sakit. Buatku mereka sudah bahagia. Tapi kita yg msh hidup, msh ada tugas yg harus diselesaikan. Ga ada salahnya utk kita balance ketika melakukan tugas di dunia. Happy tetep harus, bersyukur wajib, kewajiban jalan trus :). Krn aku jg yakin, orang2 yang sudah meninggalkan kita, pastinya ga pengen kita sedih trus2an.

    Seandainya niih, aku udh meninggal dan ditanya, apa aku kepengin suamiku ttp berduka buatku, ato dia bahagia dengan mengenal wanita lain misalnya, aku akan pilih yg kedua. Dia harus bahagia :). Walopun itu berarti dia akan mencintai orang lain, ga msalah. Krn ga da gunanya dia sedih2 trus2an juga dan malah melupakan anak2 juga kesehatannya sendiri. Itu kalo aku melihat dari sisi aku yg meninggal yaaa :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Fanny.. makasih insightnya yaaa 😭😭 aku kalau bahagia merasa bersalah sama Baby E. Karena takut dia ngerasa aku lupain dirinya.

      Setuju dengan pemikiran Mba Fanny, aku pun juga akan demikian. Ga mau suami dan kelak kalau ada anak-anak ngerasa sedih dengan meninggalnya aku.

      Makasih yaa Mba, aku merasa semakin dikuatkan dengan support mba ini πŸ€—

      Delete
  4. selamat terlahir kembali mbak.
    apapun musibah yang pernah kita alami, pasti ada hikmah di balik itu semua.
    bagaimanapun juga kita pernah berada atau hidup berdampingan dengan masalah masalah itu
    ciayooo

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Mba Ainun 😊

      Iyaa, perlahan musti bisa menjalani dengan berdampingan yaaa 😁

      Delete
  5. hai mba salam kenal, seneng banget baca blognya krn semangat barunya juga nular mba, ceritanya pun jadi mengingatkan aq juga untuk lebih banyak bersyukur dg yg aq punya sekarang.. ttp semangat yah mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Mba Maya, makasih sudah mampir kesini hhee..

      Syukurlaah jika bisa kasih semangat untuk Mba 😁 Semangat juga untuk Mba yaaa..

      Delete
  6. Bener banget sih Mbak Devina. Aku juga kadang melakukan perubahan setelah ada pendorong entah itu sebuah masalah, musibah, atau hal lainnya. Jadi ya mungkin manusiawi hehe. Selamat untuk pencapaian tulisan di 2020 yeaaay

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa, kadang perubahan terjadi setelah ngalamin sesuatu dulu Kak hhee..

      Makasihh Kak Triii, makasih sudah menginspirasi diriku dengan tulisan-tulisan kakak yang bermanfaat 😁

      Delete
  7. Semangat mbak. Selamat terlahir kembali. Jadi ikut ngerasain betapa kehilangan itu pun merupakan bagian hidup. Dan, bahagia itu pun hal yang indah setelah tahu waktu itu berharga..Peluk dari jauh mbak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Mba, makasih yaa atas supportnya 😁 Betul, kehilangan jadi bagian hidup yang ga bisa dihindari. Iyaaa, waktu emang berharga banget Mba. Makasih yaaa πŸ€—

      Delete
  8. Semangat kak!
    Kadang kita harus merasakan sedih biar tau gimana rasanya bahagia. Jadi, it's okay!
    Setidaknya kakak menyalurkan emosi sedih kakak melalui tulisan, bukan hal negatif yang membahayakan diri sendiri. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih yaa Kak atas supportnyaaa.

      Iyaa bersyukur suka menulis dan menemukan tempat untuk menyalurkannya -- blog, jadi bisa tetap ngelakuin hal positif hhhe..

      Delete

Halo, salam kenal!

Terimakasih ya atas kesediaannya untuk membaca tulisan ini. Boleh ditinggalkan komennya agar kita bisa berkomunikasi satu sama lain :)

Sampai berjumpa di tulisan-tulisan berikutnya.