Month of Love

 


Month of Love

Setelah hampir dua minggu vakum tidak menulis, kali ini kembali dengan update seputar keseharian. Kebetulan memang hampir dua minggu ke belakang cukup banyak aktivitas yang sedang di lakukan. Jadinya saat buka laptop untuk menulis sudah tidak punya ide dan tenaga. Awal tahun membuat pekerjaan rada lumayan padat. Maklum, tahun baru biasanya ada hal baru yang perlu di update. Hanya saja karena masih sebagian WFH, tentu aktivitas kembali beradaptasi. Entah kapan ini berakhir, rasanya kangen kumpul rame bersama teman-teman kantor. Sore-sore mulai ngemil bersama atau kumpul ngerayain ulang tahun teman di kantor. Biasanya bawain kue ulang tahun sambil nyanyi bersama. Duhhh... corona cepatlah pergi!!

Selain seputar pekerjaan, kemarin adik juga sempat sakit. Kalau saat ini sakit, rasanya jadi parno. Si Dedek sempat mual dan muntah-muntah. Kemudian demam dan suhunya naik turun. Sempat demamnya turun, keesokan harinya demam lagi. Bahkan masuk IGD juga dan bersyukur boleh pulang setelah infusan habis. Jadi tidak perlu rawat inap, namun tiga hari kemudian disuruh Swab. Karena gejala Covid-19 juga bisa dari gangguan pencernaan. 

Rasanya nano-nano mulai dari khawatir, sedih, bingung, dll. Sebab, Si Koko baru sembuh dari Covid-19, masa saat ini Si Dedek terkena virus tersebut. Overthinking mulai kemana-mana. Apalagi Si Dedek tinggal sama orangtua yang sudah berumur. Lalu, entah karena tersugesti atau memang kebanyakan makan yang berminyak, Si Papa juga sakit. Katanya tenggorokan serasa tidak enak. Komplit dehh rasa takut nanti timbul cluster keluarga.

Bersyukur saat Swab hasilnya negatif. Lanjut Si Dedek periksa ke dokter penyakit dalam. Ternyata dia mengalami infeksi usus. Memang Si Dedek itu penyuka makanan pedas. Sebelumnya memang dia makan ayam goreng dengan sambal dan sayur asam. Hanya saja saat itu dia telat makan. Jadi ketika perut kosong dan diisi makanan pedas serta asam, sepertinya lambungnya tidak kuat. Akhirnya dikasih antibiotic dan obat pencernaan. Untungnya sekarang mulai membaik dan sudah tidak demam. Demam itu ternyata efek infeksi pada ususnya. Aduuhh... leganya minta ampun. Setidaknya bukan sakit Covid-19. 

Bulan kemarin, akhirnya saya dan Koko memutuskan untuk membeli tempat tinggal. Selama ini kami menyewa dan rasanya lebih baik memiliki sendiri. Seperti yang pernah saya bahas, bahwa kami pernah suvery rumah namun dekat sutet, akhirnya kami memutuskan untuk membeli apartment. Sebetulnya apartmentnya berlokasi sama dengan unit yang saat ini ditinggali. Hanya saja berbeda towernya. Setelah galau gundah gulana, mikir ini dan itu, pertimbangin ini dan itu, nanya orangtua dan keluarga, akhirnya mantap untuk membeli satu unit. Unit tersebut juga memiliki dua kamar. Walaupun memang ada pendapat dan pertanyaan, mengapa kami tidak membeli rumah?

 Sebetulnya tinggal di apartment membuat kami berdua merasa nyaman dan aman. Rata-rata mempertimbangkan bagaimana kedepannya jika kami punya anak. Kami merasa untuk ukuran saat ini sudah cukup jika harus tinggal bersama anak. Ukuran unit tersebut 50m2. Rasanya rumah milenial saat ini juga berukuran seperti itu, hanya saja memang memiliki dua lantai. Jika di apartment dengan luas segitu hanya terdiri dari satu lantai saja.

Saya pribadi berusaha untuk menerapkan mindset cukup. Saya merasa cukup untuk apa yang kami upayakan sesuai dengan kemampuan finansial saat ini. Rumah dengan luas yang sama dan harga yang relatif mirip, jelas cukup banyak dan beragam. Kami pun pernah survey lagi dengan lokasi rumah lainnya. Setelah dihitung jarak dan waktu, sepertinya lebih banyak yang perlu dikeluarkan. Nah, muncul lagi pertanyaan jika tinggal di apartment tentu juga banyak pengeluaran. Seperti biaya parkir mobil atau maintenance tiap bulan. Kami ambil itu semua sebagai bagian dari menyisihkan waktu dan biaya tol jika kami membeli rumah. Sebab untuk saat ini jika harus membeli rumah, tentu berlokasi di pinggiran kota. Sedangkan saat ini lokasi kerja kami berada di pusat kota.

 Saat mencoba untuk survey waktu dan jarak dari kantor ke rumah yang diincar, ternyata memutuhkan waktu serta biaya tol yang cukup lumayan. Sepertinya tenaga yang dikeluarkan akan lebih besar karena perlu bangun lebih pagi dan sampai rumah agak malam. Sedangkan jika tinggal di apartment saat ini, jarak tempuh waktu bisa lebih cepat. Biaya tol juga pilihan, karena lokasi kantor bisa di akses tanpa masuk tol. Namun, pagi hari biasanya kami memilih masuk tol agar tidak terkena macet.

Saya sebagai orang yang overthinking, tentu sempat kepikiran apa yang di dengar. Pendapat dan pertanyaan yang disampaikan oleh keluarga juga menjadi pertimbangan kami. Terlebih kami tinggal tentu bukan sebulan atau dua bulan. Bisa saja nanti bertambah anggota yang tinggal disini. Apakah cukup tempatnya? Jika ada tamu, apakah cukup untuk menjamunya? dll.. Akhirnya pada keputusan bahwa itu semua tidak ada habisnya. Apa yang orang lain rasa tidak cukup, bisa saja bagi saya cukup. Biasanya kita akan melihat dari orang lain, sampai lupa batas kemampuan kita. 

Saya bersama Koko berusaha untuk bersyukur dan menerima bahwa saat ini batas kemampuan kami adalah membeli apartment. Kami tentu punya harapan untuk membeli rumah berpijak "tanah". Sebab biasanya kalau tinggal di apartment seperti rumah susun yang tidak ada tanahnya. Apartment ini kami beli second, namun masih kosong. Jadi pemiliknya membeli untuk investasi dan tidak pernah ditempati. Setidaknya harganya lebih murah daripada beli dari marketing apartment langsung. Bersyukur masih bisa di tawar dan menemukan titik tengah harga sesuai kemampuan kami. Kondisinya juga masih bagus walaupun tidak pernah di tempati sejak awal.

Semoga saja tahun ini menjadi penuh kebaikan, sebab sudah diawali dengan sesuatu yang baik. Satu harapan di tahun ini tercapai, yaitu memiliki tempat tinggal sendiri. Setidaknya kami tahun ini tidak perlu menyewa lagi, yeay! Lantas sejak tadi siang mulai cari-cari inspirasi desain yang oke. Saya ingin konsepnya minimalis Scandinavian. Efek nonton The House Detox, jadi terinspirasi untuk mendesain dengan secukupnya asal sesuai kebutuhan. Jadi, berharap tempat tinggal nantinya tidak penuh barang dan cukup lega meskipun ukurannya kecil 😝 

Sejujurnya saya merasa tempat saat ini lebih luas di bandingkan awal menikah. Saat awal menikah, kami tinggal di unit apartment yang berukuran studio. Jadi jika saat ini kami bisa tinggal di tempat yang lebih luas, rasanya senaaaang sekaaliii. Apalagi memilikinya atas usaha sendiriii. Bersyukuuur di mudahkan atas segala prosesnya.

Duhhhh, ternyata jadi panjang yaa tulisannya hhaa. Btw, teman-teman adakah saran ide desain yang kece untuk ruang tamu dan kamar tidur? Mau yang minimalis kalau bisa ala-ala Scandinavian. Sebab, saya dan Koko sepertinya tidak begitu jago mendesain. Kebetulan tidak menggunakan jasa desain interior. Karena punya saudara yang bisa bikin ranjang atau lemari. Jadi, desainnya dari kami sendiri saja. Hanya sajaaa kok bingung yaa mau desainnyaa, sepertinyaa pada bagus-bagus semuaaa hhha.. Btw Happy Valentine's Day ❤


Devina Genesia


16 comments

  1. Yayyy, selamat untuk tempat tinggal barunya, mba πŸ₯³πŸŽ‰

    That's okay di apartment dulu, nanti kalau ada rejeki lagi mungkin bisa beli rumah di tengah kota. By the way, saya pun di Korea tinggal di apartment dan ada banyak good points-nya jadi nggak menyesal, meski tetap ada keinginan punya rumah berpijak πŸ˜†

    Eniho, tema rumah scandinavian di IG kayaknya banyak banget. Tapi coba mba cari-cari video rumah Korea atau Jepang, karena mostly mereka tinggal di apartment atau rumah size kecil jadi idenya bisa dicontek. Kalau di Indonesia, though banyak yang punya tema scandi tapi normally di-setting pada rumah menapak tanah dengan size agak besar. Hehehehe. Di Youtube ada banyak mba, biasanya mereka main storage, ini akan membantu banget karena tinggal di apartment means nggak punya gudang besar 😁

    Good luck untuk persiapannya mba, semoga lancar 😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin Mba, berharapnya juga bertahap dulu nanti baru punya tempat tinggal lebih besar hhhee.

      Waahh iyaaa aku jugaa catet ilmu2 dari The House Detox. Sepertinya emang harus liat2 contoh rumah atau apartment di Korea ato Jepang.

      Makasih Mba Eno atas sarannyaaa 😁

      Delete
  2. Happy Chinese New Year and Happy Valentine's Day, Ci Dev πŸ’•. Congrats for your new house, too!! πŸ₯³πŸ₯³. Akhirnya setelah pencarian panjang, bertemu juga dengan rumah idaman 😍. I'm glad to hear thattt 🀸🏻‍♀️ apalagi mendengar Cici bersyukur sekali dengan apa yang didapatkan saat ini, rasanya jadi lega dan ikut bahagia 😁

    Anyway, karena aku kurang pintar desain, jadi aku hanya bisa menyarankan untuk lihat-lihat di Pinterest aja sebagai inspirasi dekor rumah. Banyak banget orang yang pakai foto-foto di Pinterest sebagai inspirasi rumah mereka, bahkan ada yang sampai plek-plekan meniru saking udah cinta dengan desain yang dilihat di Pinterest wkwkw. So, semoga Cici juga bisa menemukan desain yang Cici suka di app tsb 😁. Semangat memulai mendekor rumah barunya, Ci Dev 😍. Pasti excited sekali yaaaa!! I can imagine it πŸ˜†

    ReplyDelete
    Replies
    1. Happy chinese year and happy valentine's day jugaa untuk Liaaa ❤️

      Waah iyaa di Pinterest yaa. Aku belom coba liat-liat disitu siihh. Akan cari refrensi dari situ jugaaa dehhh.

      Yeeesss super exciteeed dan deg-deg an hhha. Mau yg simple ajaa lah biar ga keliatan penuh dan sempit. Makasih saran nyaa yaa Lia 😁

      Delete
  3. Selamat tahun baru dan selamat tinggal di tempat baru, Mbak Dev! Huhuu turut senang akhirnya memiliki tempat tinggal sendiri. Saya masih nyari nyari duit dan tempat soalnya 🀣🀣

    Kalau soal komentar orang, pasti bakal selalu ada sih, yaa. Yang penting sudah sesuai dengan pertimbangan mbak Dev dan Koko. Dan bener ituu, saya juga ngutamain rumah dekat tempat kerja. Soalnya capek habis kerja tuh nggak terkira ngaruhnya ke mood seharian dan kualitas hidup. Daripada harus macet macetan mending pilih tempat tinggal yang dekat tempat kerja.

    Soal kumpul-kumpul keluarga, kan nggak mesti di rumah ya. Kalau sedikitan orang juga pasti masih bisa. Semoga nanti juga diberikan rezeki untuk nambah rumah, kalau memang memerlukannya.

    Sekali lagi, selamat untuk tempat tinggal barunya ya, semoga betah 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasiiiihh Mba Megaaa.. Semangaat semoga Mba mendapatkan rejeki dan bisa menemukan tempat tinggal yg cocok 😁

      Bener bangeet Mba. Saat ini kami mau investasi waktu dan tenaga juga. Daripada beli rumah tapi jauh dan mahal di ongkos, akhirnya mutusin tinggal di apartment tapi lebih ke jangkau dengan kantor.

      Iyaa betul, kami berdua bukan tipe yg suka ajak tamu datang. Jadi memang untuk saat ini memilih apartment jadi pilihan yg pas hhhe.

      Makasihy yaa Mba 😁

      Delete
  4. Haloo, mbak turut sedih mengetahui bahwa si dedek terkena sakit juga. Semoga sehat selalu..
    Kemudian, selamat jg atas tempat tinggal barunya, semoga lancar jaya dan betah yaa mba 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Mas Dodo, lama tidak bersua hhha. Aku uda lama ga ke tempat Mas Dodo jugaaa niihh πŸ™

      Bersyukur sudah membaik Mas. Makasih Mas atas doanya.

      Waah makasih yaa, Amin semoga kami betah di tempat yg baru ini hhhee..

      Delete
  5. Rasanya senang sekali tau Kak Devina sudah melabuhkan hati ke tempat tinggal barunyaπŸ’• aku yakin nggak akan jadi masalah jika tinggal di apartment dulu Kak, apalagi itu hasil dai jerih payah sendiri yang membuat makin puas rasanya😁

    Untuk desain, aku pasti mainnya ke Pinterest sih Kak. Disana pasti banyaaak banget pilihannya. Di Youtube juga sepertinya sudah banyak yang buat video tentang scandinavian look buat di tempat tinggal. Atau mungkin di akun Instagramnya interior designer yang suka ngereview-review projectnya dia. Tapi sampai sekarang aku belum bisa merekomendasikan apa nama akunnya.

    Ohiya, cepat sembuh juga ya Dedek dan Ayah dari Kak Devina😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa bersyukur Jez akhirnya menemukan tempat yg tepat sesuai kebutuhan dan kemampuan kami hhhee..

      Siipp akan coba mampir ke Pinterest untuk lihat-lihaat. Naah, aku juga sempat liat dari Instagram. Tapi rata-rata buah rumah, mau cari yg khusus buat apartment biar sesuai sama tempat kami hhhe.

      Bersyukur papa dan dedek uda mendingan dan sepertinya terus membaik. Makasih yaa doa nya 😊

      Delete
  6. Selamat atas tempat tinggal barunya ya say.
    Kalau saya, bahkan udah punya anak dua, merasa lebih asyik tinggal di apartemen sebenarnya, terlebih kalau letaknya mudah diakses di mana-mana.

    Kalau rumah, kebanyakan yang harganya bersahabat terletak jauh di luar kota, makan waktu juga kalau mau kerja.

    dan saya suka banget pemikirannya, menerapkan kata cukup.
    Karena mau kayak gimanapun, kalau kita merasa belum cukup, ya nggak bakal pernah merasa cukup.

    selamat sekali lagi yaaa, dan happy month of love :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Mba Rey.. Mba cepet pulihh yaaa biar bisa nulis lagi. Kangen baca tulisan Mbaaa..

      Setuju mba masalah akses. Bener banget rumah yang sesuai budget kadang jauh di luar kota, jadi mau ke tempat kerja susah kejangkau huhu...

      Iyaa, saya lagi belajar menerapkan kata cukup. Agar tidak menjadi beban untuk nantinyaa hhhe.. Btw makasih yaa Mba.

      Delete
  7. ikut hepi aku denger berita udah tinggal di tempat tinggal yang baru mba.
    tema scandinavian apik juga mbak, kadang suka bingung ya apalagi kalau buka buka Pinterest buat cari contekan.
    shabby chic juga apik tapi lebih terkesan agak feminin kalau tema shabby ini

    aku sendiri termasuk penyuka pedas sama seperti adiknya mba devina, malah aku baru tau juga nih kalau gejala covid juga bisa dari pencernaan ya
    aku kalau udah kumat perutnya karena kebanyakan sambel, baru berhenti bentar, tapi habis itu makan pedes lagi, kayak ga ada kapoknnya. kapoknya ya pas sakit aja :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mudah-mudahan bulan depan uda proses mengisi disana. Makanyaa lagi nyari inspirasi yg kece untuk ruangam sempit hhhe.

      Waah Mba Ainun sama kaya adek ku. Biar dikata bakalan kumat, tetep doyan bener sama sambel. Emang ga ada kapoknya 🀣

      Delete
  8. Waaah selamat utk apartm barunya mbaaa. Aku pribadi justru LBH seneng tinggal di apartmen, daripada rumah :D. Alasannya dari sisi privacy, ga hrs bernada basi Ama tetangga, dan karena aku suka ketinggian :). Rasanya melihat dari atas itu jauh lebih nyenengin drpd melihat dari bawah :D. Sayangnya dalam hal ini, aku bertolak belakang Ama suami. Dia LBH seneng tinggal di rumah supaya bisa sosialisasi -_-

    Utk design aku juga kurang negrti mba :D. Selama ini kalo pengen merenovasi ato design apapun, aku LBH milih liat dr YouTube ato sewa ajalah org yg memang ngerti :p.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Fanny, makasihh yaaa. Waahh jarang tuh aku nemu orang suka di apartment karena suka ketinggian. Biasanya alasan karena lebih privacy dan praktis hhha.

      Setuju sama Mba, di apartment memang lebih terasa privacy. Kalau di rumah biasa identik dengan sosialisasi hhhe.

      Iyaa, aku juga cek dari youtube. Makasih sarannya Mbaa.

      Delete

Halo, salam kenal!

Terimakasih ya atas kesediaannya untuk membaca tulisan ini. Boleh ditinggalkan komennya agar kita bisa berkomunikasi satu sama lain :)

Sampai berjumpa di tulisan-tulisan berikutnya.