Dua Tahun



26 Maret 2022 tepat dua tahun semenjak Baby E meninggal. Tepat dua tahun juga saya menjadi seorang mama. Jelas kami tidak bisa membuat pesta ulang tahun. Jadinya kami pun mendekor makam dengan bunga-bunga agar terlihat cantik. Hari itu kami membawa sunflower dan rose putih sebagai dekorasi makamnya. Keluarga pun kumpul untuk membantu dekor dan kami bisa sama-sama merayakan ulang tahunnya. Siapa duga bahwa selama dua tahun berturut-turut bisa merayakan ulang tahunnya dalam kondisi terbatas efek pandemi. 

Entah dia kini seperti apa. 

Entah wajahnya mirip saya atau papanya. 

Entah tingginya sudah seberapa. 

Entah dia sudah bisa melakukan apa saja. 

Entah bagaimana suaranya.

Entah bagaimana senyumannya. 

Entah bagaimana... 

Ketika sudah dua tahun berlalu, kondisi saya pun sudah membaik. Saya sudah bisa untuk tidak menangis ketika datang ke makamnya. Saya bisa untuk membicarakannya dengan orang lain dan jujur bahwa dirinya sudah meninggal. Saya bisa bersikap biasa ketika orang menanyakan "sudah hamil lagi?" Nyatanya memang sudah kembali hamil, namun ternyata kehamilan tersebut blighted ovum. Dua tahun yang berlalu cepat namun penuh dengan suka duka. Saya baik-baik saja, entah kenapa sering sekali mengatakan hal tersebut ke orang-orang. Memang benar demikian, saya merasakan begitu. Sulit juga mendeskripsikan diri ini ketika orang merasa bahwa saya mungkin kembali terpuruk saat kehilangan yang ke-2. Entah itu cuma pikiran saya saja atau memang orang lain ada yang memikirkan seperti itu. Kelemahan saya adalah selalu memikirkan hal buruk padahal bisa saja orang lain tidak ada yang merasa atau memikirkan saya seperti itu.

Bagaimana selanjutnya?

Dua tahun ini membuat saya sadar bahwa orang-orang disekitar sangat memegang peranan penting dalam proses kedukaan ini. Bersyukur memiliki suami, orangtua, keluarga, bahkan sahabat yang sangat suportif. Mereka memberikan dukungan tanpa menuntut saya untuk kembali segera hamil atau menyalakan saya atas apa yang terjadi. Walaupun mulai ada pembicaraan untuk periksa ke dokter dsb, namun mereka tidak menuntut. Komunikasi saya dan koko pun semakin terbuka. Saya berani membicarakan ketidaksiapan untuk memiliki anak. Iya, saya semakin tidak siap. Kesiapan menikah dan punya anak adalah dua hal berbeda. Sedangkan ada keinginan koko untuk kembali punya anak. Saya tahu dia berharap dan ingin, nyatanya dia menghormati perasaan saya saat ini.

Saya pun menyadari bahwa perjalanan masih panjang. Menjelang pandemi berangsur membaik, saya seperti restart dan memulai yang baru. Saya semakin peduli pada kesehatan diri, seperti mulai yoga kembali (walaupun masih suka bolos kelas karena malas ๐Ÿ™ˆ), mulai olahraga cardio, kumpul keluarga dengan melakukan road trip, bahkan ingin mempelajari bahasa baru. Ada keinginan sebelum menyetuh usia 30 tahun, mau mempelajari bahasa baru, yaitu bahasa Korea. Semoga segera terwujud, Amin ๐Ÿ™

Tentunya blog dan teman blogger menjadi bagian penting dalam proses saya melalui kedukaan ini. Entah akan seperti apa jika tidak ada media ini dan kalian yang selalu support. Walaupun tidak pernah bertemu langsung, semangat kalian menguatkan saya. Karena saya sadar, masih ada orang-orang yang peduli dengan saya walaupun kita hanya berjumpa lewat tulisan. Terima kasih teman-teman blogger ๐Ÿค— Semoga keadaan semakin membaik dan suatu saat kita bisa bertemu langsung. Pastinya heboh dan seru abis ✌



12 comments

  1. #pelukdarijauh ๐Ÿค—๐Ÿค—

    Kayak kata orang, luka itu bisa sembuh, walo terkadang makan waktu lama .. apalagi luka kehilangan orang yg disayang.. aku sendiri tiap ke makam mama papa mertua, rasanya masih sedih, Krn mereka ortu yang bahkan lebih Deket dari ortu kandungku.

    Pelan2 aja Dev, kalo ttg punya anak lagi. Krn traumanya aku yakin berat. Kalo aku di posisi kamu, pastilah aku bakal ngerasa takut juga, takut kehilangan lagi. Cuma ibu yg pernah ngerasain yg tahu sakitnya hamil 9 bulan, tapi anaknya harus meninggal ๐Ÿ˜”...

    Bagus tuh kalo ada planning mau menguasai bahasa baru . Setidaknya bisa ngalihin pikiran ke hal2 lain. Mudah2an juga bisa menutupi rasa takut untuk punya anak tadi :).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbaaa makasih atas supportnya selama iniii yaaa. Semoga kita bisa terus begini hingga kedepannyaaa ๐Ÿค—

      Delete
  2. Ci Dev, you are so strong! ๐Ÿ‘๐Ÿป๐Ÿ‘๐Ÿป๐Ÿ‘๐Ÿป
    2 tahun ini juga aku melihat perkembangan dan perubahan Cici melalui cerita-cerita yang Cici bagikan. Thank you karena sudah dan selalu sharing di sini ๐Ÿค—
    Semoga cita-citanya bisa tercapai ๐Ÿ˜๐Ÿ‘๐Ÿป

    ReplyDelete
    Replies
    1. Liaaa makasih yaaa atas supportnyaaa. Amin, semogaaa begitu pun dengan Lia bisa tercapai cita-citanya ๐Ÿค—

      Delete
  3. Peluk jauhhhhh.

    Akutu setuju sama Mba Fanny, luka itu pasti akan kering seiring berjalannya waktu. Dan walau waktu itu kadang-kadang kejam, tapi di situlah kita berproses dan aku percaya kamu dan koko pun akan melalui proses ini sama-sama dan akan semakin kuat ๐Ÿค—

    Bener banget, Dev. Menikah dan punya anak itu dua hal yang berbeda. Aku sendiri ngerasa banget betapa nggak siapnya aku waktu melahirkan anak pertama. Pelan-pelan ajaa. Aku malah ikut senang kalau kamu punya plan pribadi untuk belajar bahasa baru. Good for you! Semangat yaa, Dev! ๐Ÿฅฐ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin ci, makasih yaaa Ci Jane atas supportnyaa ๐Ÿค—

      Delete
  4. Jadi pengen peluuukkkkkkkkk!

    Semangat selalu wanita hebat.

    Saya sangat yakin, jalan kehidupan akan selalu membawa banyak hal, ada suka dan duka.

    Jadi, bakalan ada suka cita yang menanti di depan sana.

    Itulah mengapa saya begitu menyukai pagi, karena saya selalu nggak sabar untuk sebuah kabar baru, apapun itu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin... makasihh yaaa mbaaa. Semoga yang terbaik juga menanti mba di depan sana ya ๐Ÿ˜Š

      Delete
  5. Luka butuh waktu untuk sembuh Dev dan saya pikir kamu sudah sehat kembali seperti sedia kala. Tentu saja ada bagian bagian yang tak terlupakan selama dua tahun ini, tetapi hal itu wajar dan merupakan bagian dari proses menuju manusia yang lebih dewasa.

    Ketidaksiapan memiliki momongan bukan sebuah hal yang perlu dikhawatirkan. Pada saatnya dimana pintu terbuka di hati Dev dan bersedia menerima challenge menjadi seorang ibu.

    Tetap jalani hidupmu dengan ceria dan kejar kebahagiaan sebanyak yang kamu mau dan dengan cara yang dikau mau juga..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa mas, sekarang malah jadi cemas berlebihan kalau dibahas perihal anak. Yg pasti ga sama kaya pertama kali hamil yang excited. Sekarang cenderung takut untuk peran tersebut.

      Siap mas, memang perlu untuk ceria dan nikmatin waktu yang ada. Karena percuma kalau khawatir terus menerus. Makasih Mas Anton ๐Ÿ˜Š

      Delete
  6. aku seneng bisa jadi bagian support mba devina :)
    stay strong dan seneng kemarin pas road trip juga, healing healing istilah kekiniannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Ainun, makasihh yaa atas supportnyaaa. Iyaa bersyukur dikasih kesempatan jalan jalan hhee

      Delete

Halo, salam kenal!

Terimakasih ya atas kesediaannya untuk membaca tulisan ini. Boleh ditinggalkan komennya agar kita bisa berkomunikasi satu sama lain :)

Sampai berjumpa di tulisan-tulisan berikutnya.